OPINI : TEROR BOM MENGGUNCANG, SANTRI HARUS SIAGA !!! Oleh:

ACH MUNTAHA
Mahasiswa PRODI Pendidikan Bahasa Arab IAIN Madura

Pekan lalu kota Surabaya diteror bom bunuh diri, tepatnya di tiga Gereja yang ada di kota pahlawan itu. Banyak korban meninggal maupun luka-luka yang mayoritas dari kalangan non-muslim. Dari kejadian itu, salah satu polisi mengumumkan bahwa Surabaya dalam status siaga khususnya di markas kepolisian, penjagaan di kota Surabaya diperketat terutama di titik-titik yang menjadi sasaran teroris. Semua pelaku bom bunuh diri itu dicurigai dari kalangan orang islam. karena salah satu pelakunya merupakan seorang perempuan yang brpakaian muslimah dilengkapi dengan cadar saat beraksi. Hal itu tentunya akan menimbulkan konflik antar agama.

Fenomena itu menimbulkan keunikan bagi para santri di Indonesia. Karena, di  bulan menjelang ramadhan, semua santri dari berbagai pondok pesantren pulang kerumah dengan tradisi membawa kardus dan tas yang berisi pakaian atau buku-buku yang ingin dibawah pulang ke rumah masing-masing.

Tradisi itu membuat gempar lingkungan sekitarnya, karena benda kotak yang dibawa santri itu dicurigai berisi bom yang sangat berbahaya. hal itu dibuktikan denga viralnya video di medsos yang berisi seorang santri hendak pulang kekampungnya dan diperjlanan diperiksa oleh petugas kepolisian seperti seorang teroris, karena dicurigai membawa benda yang isinya berbahaya. Santri tersebut membongkar bawaannya dan terbukti tidak ada benda yang membahayakan.

Dari kejadian itu, akan menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran  bagi para santri dan orang tua santri itu sendiri. Para santri bisa saja tidak diterima oleh masyarakat setempat disaat berada di suatu tempat dengan tradisinya ketika pulang pergi ke pondok. Bahkan kehidupan para santri di pondok tidak akan tenang, karena sasaran bom bunuh diri adalah tempat-tempat ramai seperti pasar, hotel, tempat ibadah, bahkan bisa saja pesantren yang didalamnya memiliki banyak santri.

Fenomena teror bom yang terjadi saat ini membuat para santri dan kepolisian sama-sama berstatus siaga, namun siaga yang dialami keduanya berbada. Kepolisian siaga dalam penjagaan agar tidak ada kejadian bom bunuh diri lagi, sedangkan santri siaga dalam menjaga status kesantriannya dari tuduhan teroris. Karena, banyak masyarakat non-islam yang beranggapan bahwa islam identik dengan teroris.

Lantas dengan beredarnya video tentang santri yang dituduh membawa barang berhaya itu, apakah santri harus mengubah tradisi pulang pergi ke pondok dengan membawa kardus sebagai tempat brang bawaannya?. Dan para wanita yang bercadar harus melepas cadarnya, denga tujuan menghilangkan kecurigaan msyarakat sekitarnya?. Tentu saja itu tidak bisa dilakukan oleh mereka. Karena tidak semua santri mampu membeli tas koper sebagai pengganti kardus, dan perempuan tidak akan melepas cadarnya, karena itu melanggar syariat islam. Lantas, bagaimana dengan nasib para santri dan wanita bercadar?, sampai kapan mereka tetap  dituduh sebagai teroris?. Tentu tuduhan itu sangatlah menyakitkan hati mereka.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment