Ku Temukan Cinta Terakhir di Bulan Ramadhan

Oleh : Kurnia Ilahi Sufa
Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Madura

 Jantungku hari ini berdebar dengan kencang. Kehidupanku kini kosong seperti manusia yang tak berarti. Dahulu hari-hari diisi dengan warna-warni kehidupan. Akan tetapi sekarang hanya seorang diri tanpa adanya seorang kekasih hati. Tidak ada seorang pun yang membuat diriku bangkit dari keterpurukan.
   
Hingga pada akhirnya aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkanku. Sebut saja namanya Mr. A dia adalah tetanggaku.  Meskipun rumah kami berdekatan tapi tak saling mengenal. Hingga pada suatu hari aku diberi kesempatan untuk mengajar di suatu lembaga di kampung kami. Setiap sore aku melangkahkan kaki untuk ke sekolah itu dan kebetulan Mr. A juga menjadi salah satu tenaga pendidik dilembaga tersebut.

Hari-hari dilalui dengan penuh kebahagiaan. Lambat laun perasaan sayang mulai menghampiri diriku. Tapi entahlah apakah Mr. A juga memiliki perasaan yang sama kepadaku. Mr.A denganku memiliki kepribadian yang berbeda. Dia sesosok laki-laki yang baik, agamis dan berbakti kepada orang tuanya. Berbeda dengan ku yang hanya menghabiskan waktu bersenang-senang tanpa ada manfaatnya.

 Bulan Ramadhan hampir tiba dan kebiasaaan Mr. A adalah i’tikaf di masjid dekat rumah kami. Sebelum bulan Ramadhan tiba lembaga mengadakan acara imtihan bagi para siswa. Hingga pada akhirnya kami dipertemukan dalam sebuah acara imtihan. Malam itu penuh dengan keceriaan karena teman-teman guru menjodoh-jodohkan ku dengan dirinya. Entah kenapa keesokan harinya aku beranikan diri untuk mengirim pesan singkat kepadanya tentang bagaimana cara untuk mengahafal ayat-ayat suci Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dengan keikhlasannya Mr. A menjelaskan trik-trik menghafalnya.

Satu bulan kami berkomonikasi Via WhatsApp, hingga pada suatu hari kami pun membuat rencana untuk ketemuan disebuah tempat. Tempat yang menurut kami baik untuk memulai pendekatan, Batu Ampar Proppo yang menjadi tempat kami untuk pertama kali bertemu.

Setelah beberapa minggu bertemu kami pun berencana untuk bertunangan. Akan tetapi aku masih ragu dengan beberapa alasan. Pertama, aku masih belum selesai kuliah. Kedua, Usiaku dengannya tepaut jauh dengan selisih enam tahun. Ketiga, Aku dengan Mr. A baru kenal dan belum tau karakter yang sebenarnya dari dirinya.
Satu hal yang membuatku akhirnya mau bertunangan yaitu usahanya untuk meyakinkanku bahwa Mr. A akan bertanggung jawab atas segala hal yang akan terjadi. Kami pun bertunagan dengan perayaan yang sangat sederhana.

Hal itu serentak membuat warga terkejut karena tak pernah berdua tiba-tiba bertunangan. Tak lama setelah kami bertunangan cobaan demi cobaan datang menguji kesabaran kami. Hingga pada suatu hari ada yang mengatakan bahwa Mr. A yang awalnya agamis menjadi orang yang tak kenal dosa. Karena seringnya bertemu dengan ku di lembaga tempat kami mengajar.
Dengan tekat yang bulat kami pun berencana mengakhiri pertunanga tersebut dengan beralih ke jenjang yang lebih sakral, yaitu pada jenjang pernikahan.

Rencana tersebut tak mudah diterima oleh kedua orang tua karena kuliahku belum selesai. Aku masih duduk di bangku kuliyah semester enam. Orang tua pun menyarankan untuk menikah setelah kuliah selesai. Akan tetapi Mr.A tidak berhenti untuk berdo’a dan berusaha sepanjang bulan Ramadhan agar rencananya menikah direstui oleh kedua orang tuaku. Alhamdulillah atas izin Allah kami pun di izinkan untuk menikah meskipun kuliah belum selesai pada tanggal 26 Januari 2018. 

Setelah pernikahan ini kami pun menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan. Semua masalah kami lewati dengan dingin hati agar tercipta suasana keluarga yang harmonis. Dan untuk remaja yang masih belum menikah, segeralah menikah. Karena menikah akan menyempurnakan iman.

Nama : Kurnia Ilahi Sufa
Tetala : Pamekasan, 23 Agustus 1997
Jurusan Tarbiyah
Program Studi Bahasa Arab
Institut Agama Islam Negeri Madura

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment