BERSABAR DALAM BERQUR’AN

Oleh: Lailatus Sholehah
Mahasiswi IAIN MADURA

Dalam sejarahnya tidak ada satu makhluk pun yang mencoba berpegang teguh pada al qur’an dan berusaha menyiarkannya, kecuali dia akan mendapat ujian demi ujian. Tak tekecuali rasulullahishallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Sehingga beliau di cap sebagai penyihir. Lebih dari itu, ancaman pembunuhan juga telah terjadi berkali-kali. Hal itu tidak lain, karena beliau bersikukuh memegang  tali kebenaran yang ada dalam alqur’an. 

“sekalipun mereka (orang-orang kafir) mampu meletakkan matahari di tangan kananku,dan bulan di tangan kiriku,sekali-kali aku tidak akan pernah tinggalkan risalah yang ku emban,” tegas beliau ketika datang  tawaran kompromi  dari pihak musuh. Jawaban ini pula yang semakin menyulut api permusuhan dari pihak lawan. Kondisi berlanjut kemasa demi masa setelahnya, hingga hari ini. Dalam konteks kekinian, narasi yang di gunakan dlam mengungkapakan kebencian terhadap kelompok ini, mengalami pengeseran. Ekstrim, yaitu; teroris, redikal, eksklusif,tekstualis dan sebagainya.

Maka di dapati beberapa negara, sangat elergi (phobi)dengan sesuatu yang bernuansa syariah. Terutama Negara-negara eropa, atau yang berpenduduk muslim minoritas, semisal di rohingnya, pattani, dan Uighur, china. Komonitas muslim di kucilkan dan bahkan hendak diberhangus. Segala jenis ancaman tersebut di atas semua bersumber dari luar, alias unsur eksternal. luar dari setiap pribadi. 

Pada level ini, tantangan paling besar ialah bola bersebrangan dengan para penguasa.bukan hanya setempel buruk yang disematkan, tapi juga siksaan fisik bahkan bisa jadi taruhanya,dengan tuduhan-tuduhan yang diadakan. Misal di antara mereka yang mengalami; imam ahmad bin hambal, sayyid qutub, dan buya hamka. Mereka semua harus mendekam di penjara demi mempertahankan kebenaran al qur’an. Bahkan sayyid quthub merenggang nyawa di tiang gantungan. 

Beberapa karya beliau pun (sempat) dilarang diterbitkan, semisal; ma’alim fi ath- thariq’ yang mengupas posisi al- qur’an, tauhid, jihad dan sebagainya.
Di luar fakktor eksternal, ada juga tantangan tersendiri bagi pada individu muslim, yakni hawa nafsu. Ya hawa nafsu pada dasarnya senantiasa mengajak kepada kebebasan/kemungkaran. Ia enggan untuk di kekang dengan peraturan – peraturan da di tuntun melakukan kebaikan. Jangankan manusia biasa, seorang nabi pun nyaris tergelincir pada jurang kenistaan, kiranya rahmat allah tidak turun pada beliau, pada waktu yang tepat.

Itulah peristiwa yang terjadi pada nabi yusuf a.s. yang ketika itu di goda oleh seorang istri wazir, yang tak lain ibu angkatnya.”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepda kejahatan,kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”(yusuf :53). Senada dengan itu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang tipelogi hawa nafsu;”surga itu di liputi perkara – perkara yang disukai syahwat.”(HR.Muslim). 

kita di anjurkan untuk bersabar karena dahsyatnya dari dua unsur ini, menyebabkan banyak orang melepaskan al quran. Mereka terpedaya dengan iming-iming kesenangan sementara yang di sodorkan di depan mata. bersamaan dengan itu, kebahagiaan hakiki digadaikan.jelas ini adalah jenis perniagaan yang sangat merugikan. Bahasa al quran; menjual ayat dengan sesuatu yang murah (tsamanan qalila). 

Agar tak terperangkap, prinsip sabar dalam ketaatan (baca: alquran) harus terpatri dalam diri. Tumbuhkan keyakinan bahwa berpijak dijalan yang benar itu akan membawa keberkahan, guna menjadi pengkokoh. Tidak goyah meski diterjang gelombang cobaan sedemikian rupa.

Cermin utama kita adalah assabiquuna al-awwalun.bagaimana mereka, semisal bilal, sumayyah dan yasir teguh dalam pendirian, sabar dalam pederitaan, demi memegang kebenaran (al-quran) yang telah merasuk di snubari mereka.

Mentalitas sabar sekelas inilah yang akan mampu menjadi penyalamat kaum mukminin menghadapi deruan cobaan dari musuh- musuh islam, atau ajakan syahwat yang membabi buta, semangat ini pula yang di tuntunkan oleh allah kepada umat ini agar surviv.firman-nya “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu)dan bertakwalah kepada allah agar kamu beruntung.” (QS:Ali- Imran:200) Ayat ini mengandung perintah sedangkan asal dari perintah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan agar kaum mukminin senantiasa menjaga kesabaran dalam keimanan sebab jalan ini memang penuh onak dan duri. Dan hanya mereka yang beristiqomah dalam kesabaran sajalah yang akan tergolong orang-orang yang beruntung (al-ashr) * 

LAILATUS SHOLEHAH

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment