PESTA DEMOKRASI SEHAT PAMEKASAN

Jatimaktual.com, - Indonesia merupakan negara demokrasi yang mana kedaulatan ada ditangan rakyat dengan memilih wakil rakyat untuk mejalankan mandat yang sudah di percayakan, bentuk demokrasi yang paling nyata ketika adanya pemilu yang secara langsung rakyat menentukan sendiri siapa yang berhak untuk menjalankan mandatnya. seperti yang pernah di ungkapkan oleh mantan presiden amerika (abraham linclon) “demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

Indonesia telah memasuki pesta demokrasi, pemilu serentak yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2018, namun pertarungan politik sudah lama berjalan bahkan dalam demokrasi setelah calon terpilih maka politik dari kalangan partisipan pemerintah sudah berjalan dan dari kalangan oposisi juga mulai berjalan. Perlu kita sadari jangan kita hanya melihat stigma bahwa pertarungan politik hanya sebatas saling kritik, saling mencari kesalahan dan saling menghujat antara pendukung satu dengan pendukung lain. Subtansi politik tidak hanya sebatas ranah itu karena arti politik bukan hanya sesuatu pandangan yang kotor dan istilah jahat lainnya, namun kita perlu menoleh kebelakang seperti apa yang diungkapkan oleh tokoh zaman klasik seperti, plato, aristoteles, socrates, dan pendapat tokoh islam seperti ibnu khaldun, dan perlu juga kita baca pembagian politik yang di klasifikasikan dalam dua katagori, yaitu Klasik dan kontemporer (yoyoh rohaniah, efriza “dasar-dasar ilmu politik).

Tahun 2018 indonesia dihebohkan dengan pemilu serentak, kabupaten pamekasan juga mulai sibuk dengan pilkada yang sebentar lagi akan berlangsung, bahkan pertarungan politiknya sudah berlangsung sejak tahun lalu tepatnya pada tahun 2017. 

Dalam pilkada 2018 ada beberapa tahapan pelaksanaan dalam pilkada mulai dari pendaftaran, kampanye, DLL. Seperti yang telah dilansir komisi pemilihan umum (KPU) tanggal-tanggal penting yang sudah resmi di tetapkan, yaitu. 31 januari 2017-3 januari 2018, syarat dukungan calon. 1 januari 2018-13 februari 2018, pendaftaran calon. 15 februari 2018-13 juni 2018, masa kampanye. 17 maret 2018-26 juni 2018, pengadaan dan pendistribusian perlengkapan pemungutan dan penghitungan suara. 12 juni 2018-3 juli 2018, pemungutan dan penghitungan suara. 27 juni 2018-9 juli 2018, rekapitulasi hasil penghitungan suara.

Setelah bebarapa bulan pamekasan di hebohakan dengan kasus penangkapan bupati oleh KPK sekarang saatnya masyrakat pamekasan untuk menentukan pemimpin baru yang layak untuk memimpin pamekasan lima tahun kedepan, jangan sampai masyarakat pamekasan tejebak dan salah lagi dalam pemilihan tahun ini, jadi masyrakat harus berfikir matang-matang dalam memilih pemimpin yang akan membantu memperbaiki pamekasan, baik dari ketimpangan ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Dua sosok calon peminpin sudah mulai tampak di panggung demokrasi kita, bahkan dua calon sudah mulai mempromosikan agenda program yang sudah menjanjikan pada kesejahteraan bersama. Dari masing-masing kubu sudah mulai mengagungkan pilihannya, dari berbagai media sosial para tim sukses masing-masing calon sudah berkampanye untuk memenangkan calon pilihan yang insyaallah sama-sama menjanjikan kebaikan pamekasan kedepan.

Sudah hal lazim menjelang pemilu persaingan polittik semakin panas, ada persaingan yang sehat adapula yang tidak sehat, dari berbagi cara sudah mulai dilakukan dari masing-masing calon. Ada yang turun langsung kemasyarakt, ada yang mengumbar janji namun akhiranya pahit dibelakang atau istilahnya pemberi harapan palsu (PHP), Janji-janji manis yang ingin memprioritaskan masyarakat kecil petani dan sebagainya sudah menjadi irama merdu di telinga masyarakat, entah hasilnnya seperti apa namun tunggulah saat mereka terpilih.



Berpolitik secara sehat atau pilkada damai merupakan alternatif untuk mengembalikan subtansi dari demokrasi yang sesungguhnya, jangan sampai pilkada yang seharusnya pesta demokrasi malah mencidrai terhadp demokrasi itu sendiri. 

Demokrasi merupakan hal yang sakral, dengan kedudukan demokrasi yang menjunjung tinggi hak atau kedaulatan rakyat jangan dicemari dengan tindakan-tindakan yang akan merusak sistem yang suci nan bermartabat ini. Marilah etika berpolitik tetap di jaga, junjung hak-hak orang lain, hargai kebebasan orang lain, jangan saling menuding kubu sama kubu, jangan saling menghujat apalagi menebar informasi-informasi hoax guna menaikkan elaktabilitas calon pilihan. Karena hakikat dari politik itu adalah kebaikan bersama. menurut Ramlan Surbakti (1992:10-11), politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal alam suatu wilayah tertentu.

Penulis. Rudy Hamza
Prodi pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang

Respon Pembaca.

2 comments:

Ardiy K said...

Mantap

Maz uliel said...

Semoga terealisasikan

Post a Comment