REFLEKSI MORAL TERHADAP KEPRIBADIAN REMAJA

*Oleh: Fawaid Nofal Abrori
Mahasiswa STAIN Pamekasan


Ghufran adalah anak kecil yang bersikap baik dan sangat di sayang oleh kedua orang tuanya dan di cintai oleh teman-temannya. Pada suatu hari dia bersama ayahnya berjalan-jalan ke taman bunga yang indah di sebuah tempat wisata. Disana dia melihat sebatang pohon bunga yang sangat bagus dan menawan sekali. Akan tetapi, sayang sekali batangnya bengkok, seraya bertanya pada ayah handanya. Mengapa batang bunga itu bengkok tidak lurus seperti batang yang lain ayah? Ayahnya menjawab sambil tesenyum menjelaskan. Bahwa tukang taman/tukang kebun itu tidak menjaga dan berusaha untuk meluruskan dari kecil (masih muda) sehingga batang itu menjadi bengkok. Bagaimana kiranya kalau kita luruskan sekarang? Tanya Ghufran lagi. Ayahnya tersenyum melebar dan menjelaskan kembali, bahwa berusaha meluruskan batang pohon yang sudah besar itu sangat susah dan tidak mudah karena sudah keras. Demikian halnya bagi seorang anak yang tidak di didik untuk berakhlak mahmudah sejak usia dini akan susah utuk merubahnya jika telah menginjak dewasa.
Secara bahasanya akhlak berarti tingkah laku, karakter, tabiat, perangai dan kebiasaan. Sedang menurut istilah akhlak adalah suatu daya yang bersemi dalam jiwa seseorang yang dapat menimbulkan perbuatan dengan mudah/reflek (tanpa direnung atau dipikir sebelumnya). Jika yang timbul itu perbuatan baik/mulia menurut akal dan syara’ disebut akhlak mahmudah, sebaliknya apabila yang timbul itu perbuatan buruk/tercela menurut akal dan syara’ maka dinamakan akhlak madzmumah.

Sebagai ummat muslim kiranya tidak ada pilihan lain dalam semua urusan hidup dan kehidupan dunia dan akhirat selain selalu taat, pasrah mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan totalitas ikhlas sepenuh hati. Baik ketetapan itu berupa perintah atau ketetapan yang berupa larangan. Untuk yang diperintah wajib dilaksanakan sesuai kemampuan dan untuk yang dilarang wajib di hindari sepenuh hati tanpa alasan, kecuali darurat (terpaksa). Apabila ketaatan dan penyerahan diri setiap perubahan muslim sudah totalitas secara ikhlas itu berarti sudah berakhlak mahmudah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Maka Allah akan menjamin dengan hidup sejahtera bahagia dunia akhirat. Seperti ditegaskan dalam Al-qur’an surat An-Nisa’ 69.

ومن يطع الله والرسول فألئك مع الذين انعم الله عليهم من النبين والصدقين والشهداء والصلحين
 وحسن أولئك رفيقا.

Artinya: Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul maka mereka bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Yaitu dari golongan para Nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang baik-baik, mereka itulah teman-teman yang baik.

Disamping wajib taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Seorang muslim juga wajib mencintai Allah SWT dan mencintai Rasulullah SAW. Diatas cintanya terhadap segala apapun yang ada dan ia miliki (termasuk cinta kepada kedua orang tua).
Diantara bukti adanya cinta seorang muslim kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW. Dengan adanya ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat yang dibenarkan oleh hati nurani yang paling dalam serta dibuktikan dengan penuhan ketaatan seperti dijelaskan diatas, dimana mulutnya selalu mengatakan kalimah thoyyibah/ dzikir. Seperti Tasbih (سبحن الله), Tahmid (الحمد لله), Istirja’ (لاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم), Takbir    (الله أكبر), Tahlil (لاإله إلاالله), dan Istighfar (اسستغفرالله العظيم). Serta mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam setiap lini kehidupan, membenarkan atas segala yang datang dari Rasulullah SAW baik yang berupa ucapan Rasul, perbuatan Rasul serta semua ketetapan Rasul. 

Semua itu merupakan tuntunan wahyu yang datang dari Allah SWT. Selain dari itu seorang muslim hendaknya harus memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah. Sebagaimana Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Rasulullah SAW. Itulah cinta yang dapat mengampuni dosa seorang muslim karena Allah SWT telah menyetir sendiri dalam Al-qur’an surat Ali Imran 31.

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم .....
Artinya: katakanlah (wahai Muhammad) jika benar kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.

Manusia adalah makhluk sosial yang tak akan bisa hidup hanya sebatang kara. Apapun status sosial yang disandingnya, baik dalam suka maupun duka. Maka kehadiran orang lain sangat besar artinya dalam hidup dan kehidupan seseorang. 
Seperti apapun keberadaan kehidupan seorang anak wajib ain hukumnya untuk selalu berakhlak mahmudah kepada ibu bapaknya. baik mereka berdua masih sehat seorang anak harus mencintai, mentaati dan menghormati keduanya dengan sepenuh hati. Ataupun keduanya telah tiada/meninggal harus merawat jenazah mereka, mendoakan dan melaksanakan semua kewajiban yang tidak sempat mereka berdua tunaikan semasih hidup. Seperti: wasiat, nadzar, haji, zakat, hutang, pinjaman dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Karena mereka berdua yang menyebabkan kita lahir kedunia ini. Dan dari kasih sayang mereka berdua seorang anak di rawat, di didik dan di besarkan tanpa kenal lelah, susah serta dalam kondisi apapun mereka berdua masih mencurahkan harapan yang besar agar menjadi anak yang baik, sukses, hidup bahagia dunia dan akhirat.

Kewajiban berakhlak mahmudah kepada kedua orang tua adalah menempati posisi nomer dua setelah berbakti/beribadah kepada Allah SWT. Seperti ditegaskan dalam Al-qur’an surat Al-Isra’ 23.
وقضى ربك ألاّ تعبدوا إلا اياه وبالوالدين احسانا.
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah sesuatu selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknnya.

Demikian pula halnya berakhlak mahmudah kepada guru merupakan suatu kewajiban bagi seorang siswa, sebab guru yang telah mengoferalih sebagian tanggung jawab orang tua dalam mendidik, membimbing, mengajar dan melatih anak. Karena adanya keterbatasan dari segi ilmu atau waktu/kesempatan. Sehingga guru juga wajib dihormat seperti kewajiban menghormat kepada kedua orang tua. Baik ketika siswa masih aktif di madrasah atau dia sudah tamat/keluar dari madrasah. Baik guru masih hidup atau sudah meniggal dunia dan hubungan guru dengan siswa adalah abadi. Tidak ada mantan guru atau tidak ada mantan siswa.

Cukup kiranya untuk dijadikan pedoman bagi seorang siswa agar selalu berakhlak mahmudah kepada gurunya, seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib r.a.

... أنا عبد من علمني حرفا واحدا إن شاء باع وإن شاء اعتق وإن شاء استرق.
Artinya: Aku adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajarkanku (guruku) walau hanya satu huruf saja. Bila ia bermaksud menjualku, maka ia bisa menjualku. Bila ia bermaksud memerdekakanku, maka ia bisa memerdekakanku. Dan bila ia bermaksud memperbudakku, maka ia bisa memperbudakku.

Sudah merupakan kewajiban manusia sebagai kholifah di muka bumi untuk memakmurkan bumi dan untuk mengelola alam lingkungan yang ada di muka bumi dengan arif dan bijaksana tanpa merusak ekosistem yang ada untuk dimanfaakan sebesar-besarnya demi kesejahteraan manusia itu sendiri. Baik generasi yang ada sekarang atau generasi yang akan datang atau cucu-cucu mendatang sebagai mana ditegaskan Allah SWT dalam Al-qur’an surat Ali Imran 10.

ولقد مكنا كم في الأرض  وجعلنالكم فيها معايش قليلاما تشكرون.
Artinya: sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sediktlah kamu yang bersyukur.

Dengan kita berakhlak mahmudah terhadap alam lingkungan itu berarti kita telah melatih hidup sehat dan apabila kita telah bisa sehat lahir batin/jasmani rohani maka kita bisa belajar dengan tenang, tekun dan bisa bekerja dengan cermat, lancar dan sukses yang bisa meningkatkan strata hidup/sejahtera lahir batin sehingga dapat meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT. Dan pada ujung-ujungnya kebahagiaan hidup dunia akhirat bisa kita raih sekaligus. 

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment