Menyambut Hari Lahir PMII Ke-58, PMII adalah Pewaris Trah Para Ulama NU

JATIMAKTUAL, BONDOWOSO,- Sepanjang sejarah lika-liku perjalan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sangatlah tidak mudah dalam menyikapi situasi republik ini. Terbukti dalam kurun waktu 1960-2018 sebagai fase pasang surut yang dialami oleh PMII. Baik dalam pergolakan politi, politik maupun budaya yang cenderung tidak lagi bisa dibendung.

Saat orde lama PMII berhasil mentransformasikan kader-kader terbaiknya sebagai penyeimbang dalam pusaran persoalan yang ada. Orde baru pun demikian. Kader-kader terbaik PMII turut pula mewarnai fenomena negeri ini.

Pun saat reformasi yang berhasil dicetuskan oleh kau reformis. PMII kembali tampil sebagai kawah candradimuka untum turut berbuat untuk negeri ini yang tidak bisa dibantah oleh siapapun dan pencatat sejarah manapun.

Namun, belakangan ini muncul beberapa animo bahwa beberapa orang kader PMII sudah tidak lagi mencerminkan ke-PMII-annya. Ya, hanya beberapa orang saja, tidak semuanya. Yang lebih pantas disebut sebagai 'oknum'. Faktanya sampai hari ini pun, PMII masih konsisten mendistribusikan kader-kader terbaiknya untuk menempati posisi strategis di Nahdlatul Ulama (NU).

Tidak sedikit klaim 'Durhaka' tertuju kepada PMII dikarenakan enggan kembali kepangkuan NU yang sudah di undangkan melalui hasil Mu'tamar NU ke- 33 di Jombang 2015 lalu. Namun, sekali lagi PMII masih tetap konsisten mengawal kelangsingan dan kebesaran NU di seantero negeri ini.

Soal PMII mau atau tidak kembali menjadi Badan Otonom (Banom) di NU, hanya saja soal tekhnis yang harus di urun rembukkan bersama secara massif dari berbagai unsur. Baik dari Struktur NU, Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) maupun pengurus PMII di semua lapisan. Harusnya issue ini bukan sekedar issue yang dapat memecah belah antara PMII-NU dengan stigma menyebut buruk apalagi menjelekkan. Sudah semestinya menjadi issue positif bersama untuk membangun negeri ini.

Menyoal oknum kader PMII sudah lebih cenderung ke arah pemikiran marxian dan dianggap melenceng dari aqidah ushuliyah, hal demikian memang bagian dari polemik di internal organisasi PMII. Namun, Agamis-Nasionalis tetap menjadi prioritas bagi PMII. Mencintai, merawat dan membesarkan NU dan Indonesia adalah bagian dari perjuangan PMII.

Oleh : Ahdari *)
Penulis adalah Sekretaris Umum PC PMII Bondowoso 2016/2017.
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment