Melalui Lagu-Lagu Perlawanan, Komunitas Regge Bali Beri Dukungan Terhadap Warga Disekitar Tambang Emas Tumpang Pitu

JATIMAKTUAL, BANYUANGI,- Kehadiran perusahaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Dusun Pancer, Desa Sumberagus, kecamatan Pesanggaran Banyuwangi memicu banyak respon selama enam tahun belakangan (2012-2018). 

Baru-baru ini muncul penolakan secara tegas dari komunitas Regge Bali melalui perform dan lagu-lagu perlawanan. Acara tersebut dilaksanakan sore pukul 15.00-17:00 WIB. Sebelum acara perfom dumulai, paginya mereka melaksanakan bersih-bersih pantai bersama warga disekitar pulau merah yang merupakan kaki gunung Tumpang pitu dan dibagi menjadi 6-8 tim. (17/02/2018)

"Untuk mengkampanyekan perjuangan, mengkritisi dan menolak pihak korporasi tak harus lewat demontarasi, bisa dengan cara membersihkan pantai, bernyanyi dan menampilkan seni. Artinya kami menyampaikannya melalui tembang dan lagu." Kata fredi kayaman salah satu musisi.

Dalam kegiatan tersebut, Kawan musisi dari Regge bali bermaksud mememberikan support dukungan terhadap perjuangan warga dalam memperjuangkan lingkungan.

"Kami sangat mendukung perjuangan warga pesanggaran, sebab merawat dan menjaga serta melestarikan lingkungan adalah hal yang sangat urjen. Maka perjuangan masyarakat inilah merupakan wujud menjungjung nilai tersebut." Lanjut Fredi.

Tak hanya itu, Suyitno salah satu warga Pesanggaran menjelaskan bahwa kegiatan pertambanngan yang dipantai selatan yaitu gunung tumpang pitu banyuwangi sangat di larang oleh pihak warga karena gunung tumpang pitu adalah benteng ketika terjadi stunami.

" Gunung Tumpang pitu adalah pondasi saat nelayan mencari ikan, termasuk sebagai penanda warga ketika usai melaut untuk sampai di daratan." Terangnya.

Selain prihal tersebut, kata Suyitno, Gunung Tumpang pitu berpapasan langsung dengan wisata pulau merah dan pantai pancer. 

"Jelas pertambangan tersebut akan merusak lingkungan dan kealamian wisata pulau merah, bahkan di pantai pancer yang sebelumnya banyak sekali ikan, ketika pertambangan hadir ikan-ikan pada tidak ada. Tak hanya itu, keindahan karangpun ikut rusak bercampuran lumpur." Jelas Suyitno.

Suyitno berharap pemerintah bertindak cepat dan tegas. Sementara masyarakat akan tetap terus melakukan perjuangan agar penambangan tidak bisa berlanjut.

"Kita tidak mau merusak fasilitas perusahaan, cuma kita masyarakat disekitar tumpang pitu menyakatakan 'Murni Menolat Tambang Tumpang Pitu'. Mungkin masyarakat luar pesanggaran belum merasakan dampak dari adanya pertambangan, maka dari itu, dukungan moral sangat kami harapkan untuk terlibat memperjuangkan apa yang kita perjuangkan." Pungkas Suyitno.

Selain Suyitno, Utsman salah satu Aktifis PMII UNTAG 1945, juga angkat bicara prihal dampak sosial adanya pertambanngan emas Tumpang pitu.

"Adanya pertambangan Tumpang pitu, kerukunan warga mulai menurun, sesama teman saling curiga, masyarakat mulai susah diajak gotong royong, saling mengaduh sesama warga, jalan rusak sebab dilewati truk dengan muatan berkisar 12 ton." Jelas Utsman.

Dengan kemungkinan itu semua, warga pesanggaran sangat resah dengan adanya tambang emas gunung tumpang pitu. Seakan nyawa warga, petani dan nelayan terancam. Oleh karenanya, warga dengan tegas menolak tambang Tumpang pitu untuk kemaslahatan.

Selain kegiatan bersih-bersih dan penampilan musik regge, tersedian juga sablon kaos gratis bertuliskan 'tolak tambang emas tumpang pitu'.

Penulis : David
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment