Resensi Novel “Satu Hari Di 2018”

(Sumber Gambar : https://i0.wp.com/tukugan.com)
Judul Buku : Satu Hari Di 2018 NO. ISBN    : 978-979-794-544-2 Penulis      : Boy Candra Penerbit    : Media Kita Tahun Terbit  : 2017
Jumlah Halaman : x + 190 Halaman
Ukuran  : 13 x 19 cm Cetakan : Cetakan Pertama, 2017 Kategori    : Fiksi Harga        : Rp. 15.000,-

“Sebab Akhirnya Aku Yang Membuatmu Patah Hati”

Boy Candra, adalah seorang penulis muda yang berasal dari Sumatera Barat. Lahir pada 21 November 1989. Lelaki ini aktif di sosial media seperti akun twitter @dsuperboy, Instagram @boycandra. Selain itu Dia juga menulis di blog pribadinya yaitu rasalelaki.blogspot.com. Salah satu hal yang menarik dari penulis muda ini adalah fokusnya menulis pada buku-buku romance, dengan romansa anak muda. Buku-buku yang sudah terbit dari penulis ini adalah : (1) Origami Hati, (2) Setelah Hujan Reda, (3) Catatan Pendek Untuk Cinta Yang Panjang, (4) Senja Hujan Dan Cerita Yang Telah Usai, dan (5) Sepasang Kekasih Yang Belum Bertemu.

Novel fiksi Boy yang berjudul “Satu Hari Di 2018” merupakan salah satu novel yang dapat menghipnotis pembaca. Disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami terutama oleh anak muda zaman sekarang. Penyuguhan cerita yang bernuansa romantis menjadikan novel ini semakin banyak diminati oleh pembaca. Penulis sangat mahir dalam menggunakan pemilihan kata, terutama penggunaan kata “Aku”. Novel ini menceritakan beberapa perjalanan seseorang untuk bersikap, bertindak, dan mengambil sebuah keputusan dalam memperjuangkan cinta. Setiap bab, menceritakan himpunan kisah yang berbeda dan membuat siapa saja yang membacanya larut dalam alur cerita tersebut. Pesan yang disampaikan oleh penulis juga tersirat dan bermakna. Pada beberapa halaman, akan disuguhi dengan beberapa kata-kata yang menjadi pusat dari sebuah cerita tersebut. 

Diawal buku ini pembaca akan disajikan dengan sebuah kisah laki-laki yang melarikan diri sejauh-jauhnya dari seseorang yang dia cintai. Berjuang mengembara seorang diri, untuk melupakan rasa sakit atas perasaan cinta yang mengalami penolakan. Sayangnya, hidup tidak semudah yang kita inginkan. 

Apa yang sudah diperjuangkan beberapa tahun belakangan untuk mengubur dalam-dalam sebuah impian akan cinta, kembali terbuka lagi kenyataan-kenyataan pahit yang dulu pernah terjadi. Wanita yang dicintai lelaki tersebut, hadir kembali di kehidupan baru setelah perpisahan mereka di masa lalu. Dia kembali untuk meminta laki-laki itu kembali ke pelukannya. Sebuah kedilemaan, laki-laki itu tidak membencinya dan menaruh dendam padanya. Lubuk hatinya mengatakan dia sangat takut untuk merasakan skaitnya cinta yang tidak dibalas.  Keputusan yang dia ambil pun memberikan sebuah pelajaran bahwa “Biar kau sajalah yang mematahkan hatiku, dan Aku tidak ingin melakukan kejahatan yang sama.” Bagi laki-laki  itu yang terpenting saat ini adalah bukan tentang sebuah kesempatan untuk dicintai wanita yang diinginkannya. 

Melainkan, belajar mencintai orang yang mencintai kita jauh lebih menyenangkan.

Diantara kisah tersebut ada bagian yang menarik perhatian saya yaitu, tentang sebuah cerita seorang wanita yang rela ditinggalkan oleh suaminya hanya untuk perempuan lain. 

Kerelaan, ketabahannya dan kuatnya menjalani hidup seorang diri lantas tidak membuatnya benci terhadap suaminya itu. Melainkan, dia tetap mencintai dan tidak berkurang sedikitpun. Bahkan kepada si anak, dia mengatakan bahwa ayahnya adalah laki-laki yang baik. Dari sebuah kisah tersebut mengajarkan kepada pembaca bahwa serapuh apapun perasaan perempuan, ia harus tetap menjadi kuat karena tidak ada orang lain yang bisa membuat kita terlihat kuat selain dirinya sendiri.

Himpunan cerita dalam novel ini juga mengisahkan betapa kuatnya peranan seorang sahabat yang saling menguatkan saat hati mereka sama-sama patah. Perasaan cinta tidak hanya antara laki-laki dan perempuan. Melainkan, antara sahabat, antara orang tua dengan anak, dan dilihat dari bagaimana cara kita mencintai dan berjuang untuk membuat seseorang yang kita cinta bahagia.

Ada satu hal yang membuat saya cukup tersadar dari sehimpun cerita di novel ini. ketika kita mencintai seseorang jangan sampai terlalu mengandalkan orang tersebut bahkan merasa bahwa hidup bergantung padanya. Semakin kita cinta kepada seseorang, semakin banyak ketakutan yang lahir dari perasaan itu.  Selain itu kita juga harus belajar menerima kenyataan hidup. Bahwa tidak semua hal yang kita suka, menghadapkan kita pada sebuah kenyataan yang sama.

Boy Candra, melalui cerita ini  mengusik perasaan pembaca sehingga kita dapat merasakan apabila hal itu benar-benar terjadi dalam kehidupan kita, seperti apakah diri kita dalam menyikapinya. Kejadian demi kejadian di setiap cerita yang tidak dapat kita tebak, mengingatkan bahwa hidup penuh dengan teka-teki yang bisa saja hal baik untuk kita malah mendatangkan keburukan di masa mendatang, atau sebaliknya.

Novel “Satu Hari Di 2018” memiliki 16 kisah yang judulnya terkesan unik dan setiap bagian kisah tersebut dihiasi dengan beberapa ilustrasi-ilustrasi tersirat dari kisahnya sendiri. Berikut 16 kisah tersebut dalam himpunan cerita “Satu Hari Di 2018”, yaitu :

Satu Hari di 2018
Rahasia Lani dan Manela
Cerita Dari Rea
Dua Batang Pohon Beringin dan Kisah Taman Patah Hati
Hujan dan Daun-Daun Gugur
Intan dan Alisa
Meski Agustus di Belanda dan Indonesia Tidak Lagi Sama
Laut dan Hal-hal yang Aku Benci
Lelaki Kesepian dan Gadis Pinggir Muara
Nyanyian Kucing
Mencintai adalah Usaha Menanam Ketakutan
Tubuh Paling Tabah
Percakapan Tengah Malam
Terima Kasih Tidak Pergi Meski Aku Terlambat Menyadari
Draf Surat Untuk Maura
Mi Pedas

Sepenggal kisah dari himpunan cerita novel “Satu Hari Di 2018”

“...namun, bukanlah selama ini aku percaya dengan apa yang kau katakan. “bukankah semua yang mencintai akan kembali pulang pada orang yang dia cintai ? Sejauh apapun ia pergi, ia pasti akan kembali.” Walaupun akhirnya kau tidak pernah kembali. Bukankah cinta memang harus selalu menjaga apa yang ia miliki. Aku masih memilikimu –setidaknya, harapan tentangmu. Aku masih menjaga semuanya. Meski aku juga sadar, pada akhirnya setiap yang kita cintai akan hilang dan dihilangkan.”

“...Hingga sampai saat ini, aku masih berdiri di tepi laut. Menatap hal-hal yang aku benci. Sesekali aku melayang-layang tertiup angin. Membiarkan diriku terbawa angin terbang. Kejadian ini sudah berlalu setahun lamanya. Namun, tiap kali aku beridri di tepi laut ini, selalu terulang adegan-adegan yang menyedihkan itu. Hal-hal yang menyebabkan aku menjadi hantu penghuni tepi laut ini. Entah sampai kapan aku berada di sini. Sejujurnya aku benci kepada diriku sendiri. Yang setahun lalu membunuh dirinya di laut ini.”

“...Biarlah perasaan tinggal di hati, biarlah ia menetap disana. Sebab, perasaan bukanlah sesuatu yang bisa diminta sesuka kita. Ia tumbuh dan jatuh begitu saja, kadang tidak mau hilang. Semakin kita memaksa diri membunuhnya, semakin perasaan itu menyiksa. Barangkali, satu-satunya cara agar kita bisa tenang, kita harus belajar menerima kenyataan hidup. Bahwa tidak semua hal yang kita suka, menghadapkan kenyataan yang sama.”

Peresensi : Zhangswe Ariandina Putri
Program Studi Pendidikan Biologi 
Universitas Muhammadiyah Malang

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment