Perempuan yang Kritis

Nama : Dhevy rismala Sari Ashary
NIM : 201610070311008
Kelas : Biologi III-A
Resensi Buku
Perempuan yang Kritis

“Aku yakin seyakinnya, masih banyak matahari akan bersinar. Kalau tidak hari ini dan di sini, mereka akan bersinar kapan-kapan, di sini atau tempat lain. Barangkali matahariku bukan sekarang hadirnya. Namun dia pasti hadir. Memenuhi kalbuku dengan cahaya. Tidak mungkin isi duniaku gelap semata. Mentari jingga bakal tiba”

 Hal ini diungkapkan oleh Raden Ajeng Kartini. Ungkapan tersebut tentu mendorong Raden Ajeng Kartini untuk berkembang dan memperjuangkan hak-hak wanita untuk mendapatkan pendidikan dan melawan tradisi-tradisi yang mengekang perempuan. Raden Ajeng Kartini gadis lulusan E.L.S atau setara dengan SD, yang pada saat itu dengan berani menabrak akar tradisi, meradang terhadap ketidakadilan di zamannya.

Kegigihan, keberanian dan cara berpikir kritis sosok Raden Ajeng Kartini inilah yang patut di contoh pada generasi sekarang.  Jangan sampai  para perempuan hanya mengenal Raden Ajeng Kartini hanya sekedar melalui perayaan berkebaya. 

Pada zaman modern ini dimana arus globalisasi begitu dasyat di butuhkan pemikiran-pemikiran kritis seperti Raden Ajeng Kartini sebagai sosok pejuang untuk perubahan, khususnya perubahan kaum perempuan.

Bagian awal novel menceritakan kegelisahan Snouck Hurgronje. Ilmuwan Londo yang kita kenal punya wawasan luas tentang Islam terutama di Indonesia.  Hurgronje ternyata dibuat resah dengan sepak terjangnya Raden Ajeng Kartini. Walau saat itu Belanda tengah menjalankan kebijakan politik etisnya,  apa yang dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini sudah dianggap kelewatan. Harus dihentikan. Kartini sudah keluar dari skenario yang telah ia rencanakan. Pencetus utama kegelisahan Hurgronje juga orang-orang Belanda dalam lingkaran kekuasaan disebabkan perkenalan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat. Ulama itu mengenalkan Kartini pada terjemahan ayat-ayat Al Qu’ran. Walau akses literasi dibuka lebar, mengenal terjemahan Quran itu soal lain.  

Pemerintah Belanda saat ini sangat khawatir jika pemahaman terhadap Islam akan membangkitkan semangat pemberontakan dan menolak jadi boneka Kolonial Belanda di kemudian hari.  Bersyukurlah kita yang hidup sekarang karena selain mengenal bacaan shalat dan Al Qur’an juga tahu artinya. Ketidak mengertian Raden Ajeng Kartini akan  bahasa arab dalam shalat dan doa sempat membuatnya putus asa dan mogok shalat. Raden Ajeng Kartini merasa ibadah yang dilakukannya terasa hambar.

Sebenarnya Kakek Raden Ajeng Kartini , Pangeran Condronegoro IV tidak sepenuhnya menjadi boneka pemerintah Belanda dengan menjadi Bupati Demak.  Bujukannya kepada Sosroningrat agar menikahi Wuryan, ibu tirinya Kartini pun untuk menyelamatkan rakyat Jepara agar kekuasaan tidak dipegang oleh orang yang salah.  Dalam novel ini juga diceritakan  lebih detil sikap Sosroningrat yang sepenuhnya mendukung cita-cita Raden Ajeng Kartini, kecuali untuk satu hal, melanjutkan Sekolah. Sosroningat tidak kuasa walau hati kecilnya ingin.

Pada bagian lain buku ini, dibahas tentang ilmu-ilmu yang di dapat oleh Raden Ajeng Kartini semasa ia dalam pingitan. Sosroningrat tidak hanya menyuplai Raden Ajeng Kartini dengan buku-buku bacaan yang melimpah, tapi juga memberi izin Raden Ajeng Kartini untuk pergi ke luar dari kamar pingitan. 

Mengajaknya pergi ke berbagai pertemuan pejabat,   menemui Henry van Kol di Jakarta untuk beassiswa, sampai memendam sakit karena menelan dilema pro dan kontra di dalam keluarganya demi Raden Ajeng Kartini. Selain pencerahan yang didapatkan Raden Ajeng Kartini dari Kyai Sholeh Darat, obrolan dengan ibunya, Ngasirah mencerahkan persepsi Raden Ajeng Kartini tentang posisinya sebagai seorang perempuan.   Dengan redaksi yang senada dari ibu tirinya, Raden Wuryan,  Raden Ajeng Kartini mendapatkan rasa yang berbeda dari ibu kandungnya. Bila Wuryan lebih menekankan arogansinya sebagai pemilik darah ningrat lebih mulia dari Kartini, Ngasirah membuat Kartini lebih luluh melupakan cita-citanya sekolah ke Belanda karena alasan kepatuhan.  Ada hak untuk belajar tapi di sisi lain kita tidak bisa terus menuntut  hal yang sama karena ada kewajiban juga yang harus ditunaikan.

Buku ini juga menceritakan sosok Raden Ajeng Kartini yang kita kenal sebagai perempuan berkebaya, santun karena berasal dari anak bangsawan ternyata adalah seorang perempuan yang luar biasa kritis. Pertama saat dia diminta ayahnya untuk belajar mengaji Al Qur’an. Berulang kali ia meminta gurunya untuk memberi informasi tentang apa yang sedang ia baca. Namun sang guru tak pernah memberi tahu. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok pencari. Kedua ia mendapat banyak bacaan/buku dari kakaknya Kartono, ia membacanya hingga larut malam. Dari buku tersebut Raden Ajeng Kartini semakin kritis. Setiap hal yang ia rasa keadilan dan kemanusiaan akan ia tulis dalam sebuah surat, dan surat tersebut ia kirimkan pada kawan-kawannya yang melanjutkan studi di Belanda. Saat menulis surat, janganlah membayangkan seseorang perempuan menulis di atas meja dan duduk manis di atas kursi. Menurut kajian Raden Ajeng Kartini selalu menulis surat di atas pohon meskipun ia berkebaya, dan tulisan tersebut di tulis dalam bahasa yang runtut hingga 40 halaman dalam bahasa kompeni, alias bahasa Belanda. Hal tersebut menunjukkan seorang Raden Ajeng Kartini yang cerdas. Ketiga, meskipun Raden Ajeng Kartini hanya lulusan E.L.S atau setara dengan SD, ia mampu menulis sebuah riset tentang pernikahan Koja. Riset itu ia tulis saat usia 16 tahun, pasca pingitan pertamanya. Karya yang luar biasa tersebut telah dibaca para akademisi diBelanda dan dikatakan sebagai karya antropoli terbaik sepanjang masa.

Hal yang paling menarik dari buku ini adalah bentuknya novel namun seperti buku sejarah dan ditulis dengan ala tulisan fiksi. Kelemahan dari buku ini adalah adanya bahasa daerah yaitu bahasa jawa yang tidak ada terjemahan ke bahasa indonesia, yang mungkin sulit dipahami bagi pembaca yang tidak paham bahasa daerah tersebut. Sehingga membuat pembaca kurang tertarik.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment