“Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai”

Nama : Marta Tiara Putri
Nim : 201610070311056
Kelas : Biologi III C
Resensi Novel Boy Candra “Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai”

Judul Buku: Senja, Hujan  dan Cerita yang Telah Usai
NO. ISBN : 979-794-499-9
Penulis     : Boy Candra
Penerbit : Media Kita
Tanggal Terbit : 16 Juni 2015
Jumlah Halaman : viii + 240  Halaman
Ukuran : 13x19 cm
Cetakan : Cetakan Pertama,2015
Cetakan Keenambelas, 2016
Kategori : Nonfiksi
Harga     : Rp. 15.000,-

Boy Candra penulis yang menamatkan kuliah di Universitas Negeri Padang. Lahir 21 November 1989. Besar dan berproses di Sumatra Barat. Buku Senja, Hujan & Cerita Yang Telah Usai adalah buku nonfiksinya yang ke dua setelah buku catatan pendek Untuk Cinta Yang Panjang (2015).Buku lain yang sudah terbit: novel setelah hujan reda (2014). Saat ini aktif menulis novel, cerpen, catatan, dan draf puisi untuk buku puisinya. Lelaki penyuka senja, hujan dan kenangan.

Buku yang pertama terbit pada Juni 2015 ini adalah buku nonfiksi kedua dari Boy Candra, bercerita tentang kepahitan-kepahitan yang dialami seseorang yang jatuh cinta. Cerita-cerita tersebut dikemas seperti dalam suatu catatan harian. Terbagi dalam 7 bagian, buku ini seperti menceritakan bagaimana perasaan-perasaan seseorang yang sedang mengalami pahitnya cinta. Seperti yang ditulisnya sebagai “sinopsis” di sampul belakang buku, buku ini membuat kita mengenang masa lalu. Sekaligus menyadarkan kita bahwa masa lalu hanya cukup untuk dikenang dan dijadikan pelajaran. Cocok untuk dibaca oleh orang yang sedang patah hati agar tersadar bahwa hidup tetap harus dilanjutkan. Seperti kutipan dalam buku ini “Di dunia ini banyak sekali hal ajaib yang bisa kamu dapatkan. Bahkan dalam hal yang mungkin menurutmu terburuk sekalipun.

Novel “Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai” diangkat dari pengalaman pribadi penulis. Lewat novelnya, penulis menceritakan segala perjalanan asmaranya. Kisah-kisahnya tersampaikan dengan jelas dan menarik. Pengalamannya dari mulai jatuh cinta, mencintai diam-diam, mencintai sahabat sendiri, bahkan patah hati sangat menyentuh pembacanya. Tak heran jika para Remaja banyak mengutip kata-kata novel ini. Memang dilihat dari pemilihan katanya, sederhana dan mudah dimengerti. Walau dengan pilihan kata yang puitis, namun tidak menimbulkan multi tafsir. Cerita setiap Babnya tidak bertele-tele. Hal ini sangat baik untuk mengontrol penyakit jenuh yang kerap dirasakan pembaca. Boy Candra menyajikan kata-kata sehari-hari yang sering digunakan oleh para pembaca.

Bagian pertama dari buku ini adalah tentang “Hujan dan hal-hal yang disimpan”. Begitu banyak kenangan dari hujan. Kenangan manis yang seringkali berujung tangis. Buku ini sedikit banyak membuat kita mengerti bagaimana perasaan orang lain, terutama orang yang kita cintai. Sebab tak jarang, perpisahan yang kita alami bukan karena dia yang membuat masalah, tetapi kita yang bermasalah
.
Buku ini saya persembahkan untuk orang-orang yang pernah dilukai, hingga susah melupakan . untuk orang-orang yang pernah mencintai, tapi dikhianati. Juga pernah mengkhianati, lalu menyadari semua bukanlah hal baik untuk kita. Kepada orang yang jatuh cinta diam-diam, suka pada sahabat sendiri, tidak bisa berpaling dari orang yang sama, dan hal-hal yang lebih pahit dari itu. Saya pernah ada di posisi kamu saat ini. 

Mari mengenang, tapi jangan lupa jalan pulang. Sebab, setelah tuangan petualangan panjang ke masa lalu, kamu harus menjadi lebih baik. Dan, mulailah menata rindu yang baru. Katakan kepada masa lalu: kita adalah cerita yang telah usai.

Aku mulai membaca kisah demi kisah. Banyak sekali cerita yang membuatku sesekali meneteskan air mata. Sampai akhirnya aku tiba dibagian yang sangat menyentuh. Judul ceritanya “ Kenanglah meski tak sempurna”. Aku tersendak, hei ini kisahku. Segala kata yang tak mampu aku ungkapkan tertulis jelas dibagian ini.

Semua cerita ditulis dengan ringan namun berbobot. Pada satu titik aku tiba-tiba merasa lemah dan dititik lain aku merasa “meleleh” bahkan menangis, menyesal dan tersenyum dalam satu waktu sekaligus. Cerita-cerita yang disajikan mampu mengorek kembali kisah yang sebisa mungkin aku timbun dengan cerita baru yang aku jalani.

Boy candra berhasil membuat emosi pembaca dengan bahasa yang lebih indah sekaligus mempesona. Ungkapan - ungkapan perasaan sedih, kecewa dan cinta diutarakan dengan begitu menyentuh.

Pilihan kata yang menakjubkan membuat aku terkesan hingga tak mau melepaskan mata sampai halaman berikutnya. Buku ini mengajarkan arti kesetiaan bagi sang penghianat, tentang menghargai perasaan bagi yang tak peka, bagaimana cara mengungkapkan bagi yang mencintai diam-diam, mengiklaskan bagi yang lelah menetap karna tak jua ditatap, berhenti berpetualang kala senja menghilang, berhenti mengenang ketika sudah menemukan jalan pulang dan mulai menata rindu yang baru bagi yang sudah berkata selamat tinggal pada masa lalu.

Tiap kisah punya cerita yang berbeda. Bisa jadi saat ini mereka tersenyum atau bahkan kesal dan timbul rasa sesal karna membaca buku yang mungkin mirip seperti kisah yang dialaminya. Seperti aku misalnya, beberapa kali aku tersentak ketika sampai pada satu kisah sedih yang memang pernah aku alami, dilain kisah aku dengan tenangnya tersenyum saat tau bahwa aku pun pernah mengalami ini.

Sungguh Boy Candra merupakan penulis muda yang patut diapresiasi. Gaya penulisannya yang khas dan ringan mampu menyentuh hati. Banyak penulis yang hebat, namun sedikit yang membuatmu dapat membaca kisah mu sendiri dalam tulisannya.

Buku ini sedikit banyak membuat kita mengerti bagaimana perasaan orang lain, terutama orang yang kita cintai. Sebab tak jarang, perpisahan yang kita alami bukan karena dia yang membuat masalah, tetapi kita yang bermasalah.

Buku ini seperti “curhatan laki-laki” tentang beberapa kisah cinta yang dialaminya dan sulit ia lupakan. Selain “Hujan dan Hal-Hal yang Disimpan”, buku ini mengandung 6 bagian yang lain, yaitu :

Senja yang Manja dan Luka yang Membalut Dada.
Terima kasih Pernah Ada, meski Sekadar Rahasia.
Kepada Seseorang yang Betah Dalam Ingatanku, Meski Kamu Tidak Kubutuhkan Lagi.
Semakin Aku  Cinta Kamu, Semakin Kita Saling Menusukkan Pisau.
 Kepada Diriku Sendiri; dengarkan ini dengan baik-baik.
Sebab, Kini Kamu Telah Denganku, Kenangan Lalu Biarlah Sebagai Masa Lalu.

Senja, Hujan, & Cerita yang Telah Usai tak hanya berisi tulisan. Tetapi juga beberapa ilustrasi-ilustrasi yang menarik dengan kutipan-kutipan yang mendukung.

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari Senja, Hujan, & Cerita yang Telah Usai


“...Namun, kini seolah sedih dan hujan adalah teman sejalan. Aku tidak lagi bisa memelukmu saat hujan turun. Meski setiap kali hujan turun, aku selalu bisa memelukmu dalam ingatan. Seseorang yang dulu bersikeras mengajakku bertahan. Katamu, apapun yang terjadi tetaplah denganku. Begitu manis dan selalu menguatkan. Hal yang akhirnya sulit membuatku merelakanmu, bahkan dalam ingatan. Kamu menjadi kisah sedih yang kini meninggalkan pedih. Setiap kali hujan turun aku kembali mengenangmu. Ingin lari, ingin menyudahi, tapi hati dan segala hal yang pernah terjadi tak mau lagi peduli. Hujan kini tak lagi semenyenangkan saat bersamamu. Hanya turun dengan rasa rindu yang berakhir pilu.”




Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment