Keseragaman Gapura Pamekasan Tak Sesuai Dengan Jargon

JATIMAKTUAL, PAMEKASAN,- Ketidak selarasan dalam pendirian gapura di setiap gang-gang atau pembatas antara desa dan kabupaten di Kabupaten Pamekasan ini sangat tidak etis dan selaran dengan ikon atau jargon Kabupaten Pamekasan tersendiri, yakni tugu Arek Lancor dan Patung Kerapan Sapi, Senin (15/01/2018).

Banyak ditemu gapura yang tak sesuai dengan ikon Kabupaten Pamekasan, seperti yang berada di Jl. Trunojoyo, tepatnya di selatan Eks. Stasiun PJKA Pamekasan, yang sangat berbeda jauh.

Dari perbedaan itu, seakan tidak mengerti akan sebuah arti dari ikon gapura yang dibuatnya.

Elman Duro, salah satu pengamat kesejahteraan Kabupaten Pamekasan menjelaskan, "Dengan semangat untuk mewujudkan perubahan ditingkat bawah hampir semua desa saat ini sudah mulai merancang Gapura Desa, malah ada yang lebih semangat lagi membuat Gapura dipintu masuk ke akses desa, ada Gapura Perdusun, ada Gapura perRT/RW, ini adalah semangat yang perlu disambut oleh pihak Kabupaten," terangnya.

Serta dirinya meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan untuk membuatkan perbub yang paten mengenai persoalan Garupa itu.

"Dengan semangat ini, Pemkab hususnya harus lebih cerdik lagi menyambut keinginan baik ini, apa yang perlu disiapkan oleh Kabupaten, membuat aturan yang paten ialah buatlah perbup. Baik itu Garupa Desa, Balai Desa, Pagar Kuburan dan lain sebagainya, bentuk yang sama dan warna yang sama," jelasnya.

"Anggaplah Gapuranya harus ada Tugu Arek Lancor dan Patong Kerapan Sapi, inikan menarik jika Pemkab jeli melihat perkembangan dibawah," tegasnya.

Lebih lanjut, dirinya menjelasakan, bahwa Kabupaten Pamekasan ini agar memiliki ciri khas, seperti kabupaten-kabupaten yanh lain.

"Ambilah contoh Banyuwangi, semua kantor pemerintahan dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa warna modelnya sama, jadi baru masuk Banyuwangi saja sudah terasa banyuwanginya," tutupnya.

Pewarta : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment