Aksi kriminal yang tertutupi oleh kebiasaan

Iwan Pujantoko  
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang 

Jatimaktual.com,- Tanpa disadari kita seolah-olah tidak tahu dan tak mau tahu jika jukir semakin merajalela. Hal ini bisa dirasakan ketika anda berada atau memasuki kota-kota besar terutama dimalang, banyak sekali pelaku yang melakukan aksinya ditempat umum ,bahkan dijalan raya yang menjadi akses umum, sudah menjadi tempat yang wajib bagi para jukir untuk dikunjungi .hal inilah yang terkadang membuat pemandangan menjadi kurang indah di mata para pejalan kaki sekaligus pengendara motor.

Telah menjadi hal dan pemandangan yang umum dimalang dengan adanya praktik parkir liar yang tak terhitung jumlahnya, yang semakin lama semakin banyak. hal umum tersebut juga membuat resah para pengendara motor dan masyarakat setempat. ini dikarenakan banyaknya oknum yang sudah terbiasa dan membudayakan mengisi dompet dengan cara yang nakal yaitu dengan praktik parkir liar.

Jukir dibentuk untuk membantu masyarakat dan pengendara mengamankan kendaraanya, agar masyarakat antusias dengan adanya jukir dan lebih menggunakan jasa parkir ini.

Biasanya jukir akan memberi karcis saat pengendara akan memakirkan kendaraanya, sebagai bukti bahwa kendaraan itu milik si pengendara selain itu di tempat-tempat besar seperti mall para pengendara juga akan di minta menunjukan STNK sebagai bukti ,tindakan itu sering dilakukan oleh jukir resmi dan kebanyakan jukir resmi memiliki identitsa resmi sebagai jukir, beda halnya dengan jukir liar para oknum tertentu menggunakan jasa parkir untuk mengisi kantong dengan mempraktikan parkir liar.

jukir nakal akan mempraktikan parkir liar di area yang ramai pengunjung contohnya seperti tempat hiburan, atm dan area-area umum lainya. Selain itu jukir liar tidak akan memberi karcis kepada pengendara motor yang memakirkan kendaraanya.

Aksi premanisme dan pungli akan diterapkan oleh jukir nakal sebagai bentuk keuntungan mereka, umumnya jukir tidak akan memberi karcis ke pengendara yang memakirkan motornya, lebih parahnya lagi beberapa oknum ada yang meminta uang parkir dengan cara kekerasan dan memaksa. tindakan yang telah dilakukan jukir dapat dikatakan pemerasan kantong para pengendara atau masyarakat yang memakirkan kendaraan hanya karena uang yang diberikan kurang untuk membayar parkir. Dalam beberapa kasus para pengendara motor juga merasah resah karena harus membayar parkir padahal si pengendara hanya berhenti sejenak dan turun dari kendaraan tapi masih dikenai biaya parkir. sungguh hal yang menggelikan sekaligus meresahkan untuk di lihat. Anehnya lagi kinerja jukir dirasa tidak seimbang dengan apa yang didapatkan, kebanyakan jukir akan mendekat untuk meminta uang dan langsung pergi ketika mendapatkan uang parkir tanpa melakukan kewajibanya.

Selain meresahkan masyarakat adanya jukir liar ini juga terkadang membuat macet jalan raya disekitarnya ,dikarenakan bahu jalan dibuat tempat untuk parkiran umum, bahkan s halaman rumah orang pun dipakai tempat parkiran umum.

Seolah-olah tempat yang dipakai adalah punya jukir sendiri padahal lahan yang dipakai adalah milik orang ,tanpa meminta izin yang punya lahan atau tempat, para oknum mulai mengeksekusi tempat yang ramai sebagai tempat parkir. walaupun kemacetan yang di perbuat para jukir tidak berlangsung lama tapi hal tersebt kembali terulang dan terulang disetiap tempat yang ada praktik parkir liar. Tidak jarang juga karena ulah dari jukir kecelakaan kian terjadi , bisa saja kecelakaan terjadi  akibat dari kelalaian jukir sendiri ataupun si pengendara yang mengemudikan motornya akan tetapi kejadian tersebut adalah tanggung jawab dari jukir sendiri karena sudah menjadi tugas jukir mengamankan motor pengendara dan membantu pengendara kelauar dari parkiran dengan selamat.

Gemuruh kicauan burung terkalahkan dengan suara peluit dari sang jukir. Jukir memiliki senjata pamungkas yang sangat ampuh yaitu peluit. Sekali di tiup peluitnya maka mobil maupun motor akan berjalan dengan aman. Hukum lain berlaku ketika praktik jukir liar diterapkan, sekali tiupan maka para pengendara harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 2000 nominal ini masih terbilang murah karena beberapa oknum ada yang menarik harga Rp 3000. Segoceng tak cukup sehari dikeluarkan untuk para jukir. Apalagi jika ingin membeli baju atau peralatan sesuatu dan hanya membawa uang pas dengan harga baju atau alatnya ,bisa-bisa tidak jadi membeli baju tapi bersedekah ke jukir ,sungguh perbuatan yang muliah sekaligus menyakitkan bagi beberapa orang.

kebiasaan orang di Indonesia hanya sekedar mendengar, melihat dan tertawa, sama seperti Ketika burung berkicau ketika melihat burung betina. Kenapa bisa terjadi? Itulah yang membuat kita berbanding terbalik oleh arus yang berjalan dengan cepat. Jukir salah satu pekerjaan mulia. Namun teori itu berbanding berbalik dengan kenyataan. Jukir juga harus memiliki perasaan dalam hal memilah mana yang harus dikenakan parkir berbayar ataupun tidak. Sungguh Pemikiran yang egois karena hanya ingin memenuhi keinginan dan kebutuhan tersendiri.

Kapankah oknum itu bisa disadarkan? Jawabannya ketika pemerintah sudah bersikap tegas untuk memberantas oknum jukir liar. Mengatasi adanya juru parkir liar ,karena ketidakadilan dalam memperlakukan para pengguna parkiran berbayar. Sehingga pemerintah diharapkan memberikan asupan yang cukup bagi para juru parkir. Sehingga tanpa adanya pemerasan dompet pengguna parkir berbayar tersebut. Selain itu orang yang memiliki usaha di dekat jalan raya diharapkan memberikan lahannya untuk parkiran gratis dan menyediakan juru parkir tersendiri yang merupakan karyawan pengusaha tersebut. Kita sebagai korban jukir berharap secepatnya diberantas jukir liar tersebut.

Anton meminta Dishub Kota Malang untuk segera memasang petunjuk bebas parkir di beberapa tempat larangan parkir. Sehingga di ruang publik seperti ATM dan minimarket, masyarakat tidak perlu membayar parkir. “Jika sudah ada himbauan bebas parkir, masyarakat berhak untuk tid ak membayar parkir jika ada jukir yang menarik retribusi,” katanya. Malang (beritajatim.com). Alhamdulillah sudah ada tindak lanjutnya, tinggal menunggu realisasinya. Semoga segera kita rasakan dampaknya.


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment