RELA MENJADI RELAWAN DEMI MEMBERANTAS HOAX

Arshinta Eka Putri & Nur Syamsiah
Sabtu, 14 Desember 2017

Pada jaman sekarang informasi dan berita sangat mudah untuk didapatkan melalui internet. Kejadian yang baru saja terjadi bisa saja kita ketahui pada saat itu juga melalui internet. Tapi tidak sedikit juga bermunculan berita atau informasi yang tingkat validitasnya rendah karena saking cepatnya berita atau informasi kita dapatkan. Dengan begitu kita rentan sekali mendapatkan berita bohong atau berita hoax yang bisa merugikan kita.

Astari Yuniarti atau kerap disapa mbak Astari, adalah seorang relawan aktif yang saat ini bergabung dengan sebuah komunitas anti-hoax bernama MAFINDO
(Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Komunitas MAFINDO ini berdiri pada bulan November 2016 dan resmi  dideklarasikan pada bulan Januari 2017. Tugas utama dari komunitas ini adalah memberikan edukasi anti-hoax dan literasi media sosial kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan informasi yang bersifat hoax.

Dalam komunitas tersebut, beliau pernah diberi mandat sebagai koordinator MAFINDO pada bulan Januari-Oktober 2017, dan saat ini ia bertugas untuk mengelola tim edukasi MAFINDO yang fungsi utamanya adalah memberikan edukasi literasi media sosial ke publik. Ketika ditanya mengenai alasannya ikut bergabung menjadi salah seorang relawan dalam komunitas, ia kemudian menjawab:
“Saya sebenarnya prihatin dengan masyarakat yang mudah dihasut hoax, saya juga ingin berkontribusi secara nyata untuk memberantas penyebaran hoax di Indonesia,”ujarnya.

Menurut beliau, hoax adalah berita bohong ataupun informasi salah yang dibuat oleh suatu oknum dan kemudian disebarluaskan dengan harapan dapat mempengaruhi masyarakat luas. Hoax kini semakin mudah disebarluaskan hanya dengan menyebarkan berita bohong tersebut melalui aplikasi pesan yang saat ini terus-menerus diakses oleh masyarakat, misalnya: WhatsApp, Facebook, dan lainnya. Berdasarkan pengalamannya selama bergabung dengan komunitas anti-hoax tersebut, motivasi utama para oknum pembuat hoax adalah uang. Mereka dapat menghasilkan banyak uang hanya dengan membuat berita bohong dan menyebarluaskannya. Para oknum akan bekerja membuat dan menyebarluaskan hoax sesuai dengan “pesanan” yang diterima.

Menurut beliau ada 2 dampak yang ditimbulkan dari hoax, yaitu kecil dan besar. Dampak kecilnya adalah masyarakat menjadi bodoh karena terus mengkonsumsi informasi yang salah, misalnya adalah informasi mengenai topik seputar kesehatan, gaya hidup, dan lainnya.

Namun, dampak kecil ini biasanya hanya merugikan antar individu saja dan belum mempengaruhi masyarakat secara luas. Kemudian, dampak besar dari hoax adalah masyarakat terpolarisasi menjadi 2 kelompok karena perbedaan pandangan yang dipicu oleh hoax. Jika tidak diatasi dan dicegah, maka lambat laun polarisasi di masyarakat akan semakin kuat dan Indonesia pun akan terpecah-belah
Menurut beliau, biasanya dampak hoax akan lebih terasa saat masa-masa pemilihan politik, seperti Pemilu Presiden dan Pilkada.

“Biasanya karena hoax, anggota keluarga; tetangga; dan teman bisa saling bertengkar karena perbedaan pandangan politik gara-gara hoax,”ujarnya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah bekerja sesuai dengan fungsinya terkait dengan isu hoax ini. Misalnya, KOMINFO telah menjalankan tugasnya dengan menutup situs-situs ataupun aplikasi yang berpotensi menyebarkan hoax. Dari sisi penegakkan hukum, ditangani oleh Polisi untuk kemudian diproses untuk dibawa kemeja pengadilan untuk menghukum oknum-oknum pembuat danpenyebar hoax. Kemudian, pembuatan UU ITE pada tahun 2008 yang kemudian direvisi pada tahun 2016 berisikan aturan penyebaran kabar bohong, pencemaran nama baik, beserta hukumannya telah membuktikan bahwa pemerintah tidak menganggap sepele mengenai isu hoax ini.

Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberantas hoax, hanya saja belum semua pembuat dan penyebar hoax dapat diproses hukum. Hal itu karena oknum-oknum pembuat dan penyebar hoax lebih banyak jumlahnya daripada aparat penegak hukumyang terbatas. Jadi saat ini masih diberlakukan sistem tebang pilih dalam memproses kasus hoax tersebut. Artinya, pemerintah akan memilih memproses kasus dengan tegas secara hukum apabila penyebaran hoax telah tergolong ke dalam kasus berat yang merugikan masyarakat luas. Menurut beliau, sebenarnya peran masyarakat untuk saling membantu memberantas isu hoax ini sangatlah dibutuhkan. Ia juga berkata, bahwa merupakan tugas bersama untuk member penyadaran terhadap masyarakat tentang pentingnya berpikir dan bersikap kritis ketika mendapat informasi dari media sosial.

Kami pun bertanya mengenai bagaimana cara untuk membedakan informasi yang faktual dengan yang hoax. Beliau kemudian menjawab, jika mendapat suatu informasi harus dibaca keseluruhannya dengan cermat dan jangan langsung percaya dengan informasi tersebut. Jika informasi itu dinilai provokatif, penuh dengan kata-kata bombastis, dan tidak mencantumkan sumber informasi berarti menandakan ada hal yang janggal dan kebenarannya patut untuk dipertanyakan. Kemudian, jika suatu informasi menampilkan media mainstream sebagai sumbernya, misalnya: Tempo, Kompas, dan lainnya juga harus dicek terlebih dahulu jika informasi itu memang benar diposting di media tersebut. Selain itu, diperlukan pula untuk mencari pembandingnya di media ataupun sumber lainnya. Hal itu dilakukan karena, banyak oknum pembuat dan penyebar hoax yang mengakali dengan sedemikian rupa agar hoax yang disebarkan terlihat sebagai informasi yang faktual.

Berdasarkan pengalamannya selama bergabung dengan komunitas MAFINDO, penyebaran hoax tidak dipengaruhi oleh status, tingkat pendidikan, ekonomi, dan lainnya yang dimiliki seseorang, melainkan dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan tentang literasi media sosial. Bahkan menurut beliau, orang yang berpangkat Doktor pun bisa jadi lebih mudah mempercayai hoax dan kemudian menyebarluaskan berita bohong tersebut.

Kendati demikian, kebanyakan penyebar hoax biasanya hanyalah konsumen dan bukannya pembuat hoax itu sendiri. Ia juga menambahkan, bahwa sebenarnya orang yang menyebarluaskan hoax lebih berbahaya dibandingkan dengan orang yang membuat hoax itu sendiri.
Terakhir, beliau berpesan kepada masyarakat agar terhindar dari isu hoax ini.

“Tahan jempolmu! Baca dulu informasinya, dinalar, dicek sebelum disebarluas kan, dan sebarkan klarifikasinya bukan hoaxnya,” pesannya.

Ia juga menambahkan, jika untuk memklarifikasi kebenaran suatu informasi dinilai rumit, maka ia menyarankan lebih baik untuk bergabung dengan komunitas-komunitas anti-hoax yang biasanya menyajikan informasi yang telah diklarifikasi dulu kebenarannya.


Redaksi
Editor/Penulis : Arshinta Eka Putri
Wartawan : Nur Syamsiah

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment