Menangisnya Nabi SAW Melihat Pemimpin Kita

Sebuah Refleksi Maulid 
Oleh : Fahrus Shaleh, S.H.I, M.Pd.I
Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) 
Kabupaten Pamekasan tahun 2015-2020 

Nabi Muhammad Saw, Nabi terakhir akhir zaman yang diutus Allah SWT untuk ummatnya dan hamba Tuhan di muka bumi ini. Ia lahir dengan menyempurnakan wahyu-wahyu yang dikirimkan kepada Nabi-nabi-Nya kepada hamba-hamba-Nya Tulisan ini bermaksud untuk menyegarkan kembali ingatan kita kepada sebuah perjuangan Nabi Saw dalam mengemban risalah Ilahy sebagai penyempurna ajaran dan norma kehidupan. Embanan risalah Nabi Saw yang dipraktekkan oleh generasi kekhalifahan dan kesultanan di masa itu setelah Nabi Saw wafat mampu mengembangkannya sampai ke seluruh penjuru dunia Nabi Muhammad Saw telah meletakkan sendi-sendi kehidupan ini untuk dapat dilaksanakan oleh muslim dan mukmin. 

Memperbincangkan Nabi Saw tidak lepas dari kelahirannya di Mekkah saat itu, yang setiap tahun diperingati sebagian besar Muslim Indonesia. Walaupun sebenarnya peringatan Maulid ini masih terus debatable diantara ahli hadits dan fuqaha’, namun peringatan Maulid seyogyanya untuk mengingat perjuangan Nabi Muhammad dengan sebuah harapan perilaku dan sikap serta integritas kita sebagai muslim dan mukmin selangkah lebih baik dan maju serta berkeadaban. Adakah harapan akan sebuah peradaban muslim baik secara evolutif maupun revolutif muncul ditengah-tengah keadaan yang manipulatif, ditengah egoism muslim, dan carut-marut sosial yag tidak menentu ini? sebagai generasi muslim kita masih punya harapan untuk itu. Yakinlah sebuah perubahan itu bakal muncul, karena kami masih disini. 

Melihat realitas muslim Indonesia dengan segala akses dan mindsetnya, kemajuan dan kebaikan itu masih berjalan di tempat. Kita masih sedikit menemukan akhlaqul karimahnya nabi Muhammad Saw diterapkan oleh kita. Maka dari itu, seandainya Nabi Muhammad Saw melihat keadaan ini, bisa dipastikan Rasul terakhir akhir zaman itu bakal menangis.

Setidaknya beberapa contoh akhlaqul karimah nabi Muhammad Saw sebagai berikut : 

  • Nabi Muhammad sang pemimpin sejati, Bagaimana kondisi pemimpin kita sekarang?
  • Nabi Muhammad orang yang care, peduli peduli anak yatim, Bagaimana kondisi kita sekarang?
  • Nabi Muhamad orang yang jujur , bagaimana kondisi kita sekarang?
  • Nabi Muhammad orang yang melarang suap-menyuap. Bagaimana kondisi kita sekarang?
  • Nabi Muhamamd menjaga amanah yang dibebankan kepadanya, bagaimana kondisi kita sekarang?
  • Sebagai pemimpin, nabi Muhammad sangat care dengan yang dipimpinnya. Bagaimana kondisi kita sekarang? 
  • Dan beberapa akhlaqul karimah lainnya yang memberi inspirasi kepada kita untuk menjadi baik dan berkemajuan. 

Peringatan Maulid setidaknya memberi pelajaran bagi kita akan esensi ruh perjuangan Nabi Muhammad untuk memberi kemanfaatan dan pencerahan bagi pengembangan peradaban muslim. Dari tahun ke tahun kita sudah lama memperingati Maulid Nabi, namun kondisi kita (baca : masyarakat Islam) mengapa semakin terpuruk? Bisa ditarik benang merah bahwa memperingati Maulid Nabi hanya sekedar formalitas dan kulit luarnya saja yang kita dapat. Sebagai generasi muslim, saya tidak bermaksud untuk meniadakan peringatan Maulid dan berpihak kepada mereka yang tidak memperingati Maulid, tetapi fakta realitas manfaat peringatan Maulid belum membumikan akhlaqul karimah dan ruh perjuangan Nabi. Sekali lagi, saya tidak ingin terjebak pada dua kutub itu atau sebaliknya, tetapi sebagai wujud akan masa depan ummat Islam kedepan menjadi bagian tak terpisahkan dari ruh kita sebagai masyarakat Islam. 

1. Realitas Muslim dan Kepemimpinan Politik 
Indonesia sekarang sedang memasuki tahun-tahun politik, yakni 2018 beberapa Pilkada akan digelar dan di tahun 2019 kita akan melaksanakan perhelatan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Memilih pemimpin tingkat provinsi dan memilih pemimpin timgkat kabupaten/kota. Memilih calon wakil-wakil kita di parlemen daerah, provinsi dan pusat serta memilih presiden dan wakil presiden di tahun berikutnya. Artinya hari hari kedepan kita disibukkan berbagai macam aktivitas politik dan turunannya. Maka melalui momentum Maulid ini setidaknya mari kita respek terhadap kepemimpinan Nabi Saw, dengan seksama dan memahami ruh kepemimpinan Nabi saw. Esensi Maulid Nabi Saw. tidak hanya berupa seremonial belaka, lebih dari itu kita mempraktekkan esensi Maulid dengan meletakkan sendi dasar kepemimpinan Nabi saw ada di setiap kepala dan dada seorang pemimpin. 

Secara normatif tulisan ini hanya dibuat untuk bisa memberikan pencerahan bagi segenap kita dan segenap calon pemimpin dengan datangnya Maulid tahun ini. Essensi Maulid menjadi bagian dari kita untuk dapatnya mempelajari dan meneladani kesejarahan, karakter Nabi, sikap dan ucapan Nabi Saw, dan esensi kepemimpinan beliau Muhammad Saw. Karena bisa kita lihat beberapa distorsi kehidupan yang menyimpang dari akhlaqul karimahnya Nabi Saw, khususnya juga kondisi kita hari ini jauh dari kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. 

2. Kebijakan Pemimpin Kita 
Sederhana saja mengukur kebijakan seorang pemimpin. Menakar janji kampanye dan realitas kebijakan sang pemimpin. Pemimpin dalam batasan pengertian essay ini adalah sang bupati/walikota gubernur dan presiden Indonesia. Dari menakar tersebut, kebijakan pemimpin itu akan diketahui dengan mudah  Ia ingkar dengan janji atau menepati janji. Janji kampanye melalui visi dan misi memang pasti idealis, namun setidaknya janji kampanye mengukur kinerja di realitas kebijakan sang pemimpin. 

Empat tahun lalu kita bisa saksikan hampir di semua daerah kampanye calon bupati/wakil bupati dan gubernur di seantero wilayah Indonesia dengan tegas dan manisnya serta bersemangatnya calon bupati/walikota dan gubernur kita mengkampanyekan dirinya untuk berhikmad bersama masyarakat, peduli, dan akan membawa perubahan kemajuan bagi masyarakat, di berbagai sisi kehidupan kita. Faktanya setelah berjalan 4 tahun, hari ini kemajuan apa yang didapat? Kesejahteraan masyarakat mana yang mereka kampanyekan terealisir dengan baik serta tercapai janji kosong mereka? Realitas kesejahteraan masyarakat masih jauh dari janji. Sector pendidikan belum ada terobosan khusus semuanya masih berjalan seadanya, janji kampanye akan memback up kesejahteraan guru tidak teralisir sama sekali, sektor kesejahteraan masyarakat petani belum teralisir dengan baik. Itu terjadi hampir di semua kabupaten/kota. Miris sekali keadaan ini.
Pemimpin harusnya menjadi teladan, ternyata mereka mempraktikkan korupsi atau ikut berperan atau turut serta menyetujui korupsi, suap menyuap dan perilaku koruptif lainnya. 

Hantaran Solusi 
Bagaimana seharusnya melihat keadaan masyarakat kita dan calon pemimpin kita sudah tidak bisa berhikmad dengan baik alias koruptif, tidak jujur, tidak care terhadap rakyat, mmemarginalisasi rakyat dalam anggaran publik, egocentric dan  mementingkan golongan ? jika koruptif dan masuk ranah hukum, biarkanlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Bagi para calon pemimpin, mohon introspeksi diri kapasitas dan integritas anda cukupkah untuk mengabdi dan berhikmad untuk kemajuan dan memberikan nilai mensejahterakan bagi masyarakat? calon pemimpin biarkanlah menjawab cukup dengan hatinya, dan biarkanlah orang lain menjawabnya. 

Dan bagi masyarakat pemilih dalam kontestasi perhelatan politik ke depan ini, marilah kita bersama-sama untuk introspeksi apakah anda mau keadaan ini semakin parah atau memperbaiki setahap demi setahap. Kata penganut Demokrasi, Suara Tuhan adalah suara kebenaran dan kebaikan, rakyat bersuara atas nama suara kebenaran dan kebaikan. Maka suara rakyat itu adalah suara –suara yang bermuara untuk tercapainya kebenaran dan kebaikan. Artinya suara-suara nurani kita tolong digemakan dan menjadi kampanye moral bagi kita, bagi masyarakat sekalian. Jika sudah menjadi gerakan moral, maka akumulasi dan massifitas gerakan akan menemukan jalan utama kearah gerbang kesejahteraan setidaknya dengan memilih pemimpin berstereotipe atau mendekati kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. 

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment