Hutanku Lebat???

Burhan Dian Nugraha

JATIMAKTUAL,- Manusia yang menebang pohon. Untuk dijadikan sebagai bahan dari kertas, NAMUN manusia juga berbondong-bondong menuliskan “Jangan Tebang Pohon” pada kertas tersebut. Ini sama halnya dengan anda ingin mengisi sebuah tong dengan air namun tong tersebut berlubang. Adapun kasus yang berbeda dari sebagian orang yang berkata seperti ini “dulu ditempat ini begitu rindang terdapat sumber mata air disekitar tempat ini namun sekarang pohon-pohon yang rindang  itu telah ditebang sumber mata air itu pun kini mulai mengering” mendengarnya seperti memperlihatkan keburukan tanpa menyadarinya. Yang dimaksudkan seperti ini seorang itu memperlihatkan bahwa pohon-pohon tersebut telah ditebang namun mereka tidak merasa pohon-pohon tersebut ditebang karena ulang dari bangsa mereka sendiri

Apakah anda dapat membayangkan suatu saat dunia ini tanpa pohon? Apa yang akan terjadi ketika itu sudah terjadi. Maka sebelum keadaan itu benar-benar terjadi dilakukanlah reboisasi (penanaman kembali hutan yang telah gundul) contoh penanaman seribu pohon ditempat X. Namun yang mereka lakukan hanya menanamnya tanpa merawat pohon-pohon tersebut agar tumbuh. Kita bisa lihat apa yang akan terjadi saat penanaman pohon itu telah usai. Hanya beberapa pohon yang mampu seketika beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kegiatan reboisasi ini memang bagus namun dengan cara yang tepat, tidak hanya sekedar menanam namun dianjurkan juga untuk merawatnya.

Penebangan hutan liar kini seperti hal yang lumrah dikalangan masyarakat. Seperti tanpa dosa mereka mengayuhkan kapak ke batang-batang kayu yang bukan milik mereka, hanya karena uang mereka tak mempertimbangkan apa yang mereka lakukan dapat merusak masa depan. Anda dapat bayangkan jika setiap harinya penebangan pohon dapat mencapai 3 lapangan sepak bola mungkin tak lama lagi bumi tak akan menjadi bumi yang indah lagi. Penebangan kayu ini mungkin masih memiliki berbagai manfaat tetapi bagaimana dengan pembukaan lahan pada hutan dengan cara dibakar, sudah menimbulkan asap yang tebal, memanaskan suhu, kayunya pun tidak dimanfaatkan pula. Miris memang melihatnya, dunia ini diciptakan apakah untuk dihancurkan.

Efek Rumah Kaca, masih banyak maindset yang salah tentang kata tersebut. Kata Efek Rumah Kaca bukan berarti efek dari rumah kaca melainkan efek seperti rumah kaca dimana objek didalamnya mennjadi panas dan tidak dapat di keluarkan karena terhalang kaca. Penyebabnya adalah karbodioksida yang tinggi yang dihasilkan aktivitsa manusia, karbodioksida tersebut berperan seperti kaca satu arah pada atmosfer, mengapa? Ketika sinar matahari menembus atmosfer dan akan memanaskan permukaan bumi tanpa dapat dipantulkan kembali karena terhalang karbodiokdisa tersebut.

Meningkatnya karbodioksida dapat dikurangi dengan adanya pepohonan yang masih lebat. Karena pohon membutuhkan karbodioksida dalam aktifitasnya yaitu fotosinteris. Proses fotosintesis mengubah karbodioksida menjadi oksigen. Dalam peran ini sebenarnya saling menguntungkan, manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas sedangkan pohon membutuhkan karbodioksida untuk fotosontesis. Namun entah mengapa sepertinya manusia tidak dapat memanfaatkan simbiosis mutualisme tersebut. Jika dipikir-pikir menguntungkan juga, hasil gas yang tidak berguna atau gas buang dari manusia dapat diolah menjadi oksigen lagi. Ini adalah sebuah siklus dimana saat salah satu kopmonen tiada akan merusak siklus tersebut.

Global Warming atau pemansan global kini dapat kita rasakan entah keberadaan kita didataran ringgi atau bahkan di daratan rendah. Tapi mungkin didaratan tinggi tidak begitu merasakan pemanasan global ini secara geografis di daerah darata tinggi terkenal dengan udaranya yang dingin namun bagaimana dengan daratan rendah sudah panas dari daratan ditambah panasnya sinar matahari lagi. Orang-orang yang berada didaratan tinggi pun biasanya juga masih mengeluh panas. Bayangkan bagaimana keluhan orang-orang yang ada di daratan rendah, apa lagi pada musim kemarau serasa berada dalam ofen yang begitu besar. Udara kering meranggas disetiap bagian tubuh layaknya ikan kering yang sedang berjemur.

Lebatnya hutan kini telah hilang berganti menjadi lautan ladang tak bertuan uang telah yang dijadikan sebagai bahan pertukaran mengorek keayaan alam menjikannya sebagai kekayaan perorangan lembaran kertas bernilai itu telah didewa-dewakan akankah genersi mendatang dapat menikmati hutan yang telah hilang mustahil bukan jika seseorang hanya diam dan hanya memotong pepohonan.

Pohon yang dapat meneduhkan berganti menjadi setinggi padi ditengah sawah. Tiada lagi pohon tang tinggi menjulang hanya rerumputan sebagai gantinya dari penebangan hutan satwa alam pun turut menghilang kepunahan, hanya menjadi ajang perdebatan dengan begini siapa yang patut disalahkan, akankah kita harus menunggu kehilangan baru ada pergerakan. Mungkin suatu saat itu akan terjadi dalam hitungan waktu kita akan menanti

Para pakar astronomi tak perlu mencari bumi kedua kita dilimpakhan kenikmatan yang tidek kita jaga dia adalah bumi jika para pakar astromomi mencari dan menemukan tempat tinggal baru bagi manusia dengan begitu bumi akan ditinggalkan namun itu yang menjadi bukti nyata bahwa para manusia tiada yang bertanggung jawab. Manusia menghancurkan dan meninggalnya begitu saja. Tapi mungkin ini belum akhir kita diberikan akal dan pikiran bukan semata untuk hiasan atau hanya sebuah lambang kesempurnaan. Kita dapat merancang masa depan dengan impian yang berjalan berdampingan mari kita wujudkan impian tersebut menjadi kenyataan. Tak perlu berbondong-bondong serentak memperbaiki yang kita butuhkan kesadaran hati nurani. Jika hati telah berkata semua mungkin dapat tercitpta menjadi relita numun bukan hati mata tapi pemikiran juga harus menyertainya.

Negeri ini telah kehilangan julukannya sebagai negeri paru-paru dunia hanya ada satu kemungkinan yang dapat mengembalikan julukan tersebut untuk kembali pada genggaman kita ialah sebuah tekat hati nurani. Mari tumpahkan kesadaran hati untuk membuat negeri ini berarti kembali. Negeri yang ku sayangi. Barikan tekat kalian untuk negeri kita tercinta. Banggalah jika aku ada di sana, di negeriku Indonesia

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment