Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Fatimah Azzahra Yani
201610070311001
Biologi 3A

Resensi Novel

Identitas Buku
Judul : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tebal : 175 halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6
Harga : Rp 29.600

Novel dengan judul Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam menceritakan tentang perjuang atlet dayung. Dayung merupakan cabang olahraga yang kurang popular di Indonesia namun dayung berkarya dalam sepi, menjadi cabang olahraga yang mencetak prestasi, dan meraih  berbagai mendali yang membuat sang penulis Shabrina Ws terinsprasi ingin membuat novel tentang perjuangan seorang atlet dayung dari pedalaman Borneo untuk mencapai cita-citanya untuk sampai meraih posisi atlet pilihan di Pelatnas.

Deskripsi alam Borneo, rumah adat suku Dayak begitu nyata membawa begitu nyata membawa pembaca seolah sedang menyaksikan langsung hamparan sungai Barito dan Kahayan, keindahan bungan anggrek hitam yang yangka sebgai bunga khas asal hutan belantara Kalimantan dan juga kayu ulin yang kokoh.

Sosok Danum sebagai perempuan asal Buntok, menyadarkan pembaca bahwa perempuan di Dayak tidak hanya memakai anting-anting yang besar dengan telinga yang melebar, tetapi lebih mencerminkan wanita modern. Modernisasi di pedalaman Borneo juga di tunjukkan oleh Arba, kakak Danum yang di gambarkan sebagai kakak yang penuh perhatian dan mengikuti perkembangan zaman dengan memiliki akun facebook dan twitter. Menikmati bagaimana sang penulis begitu rinci mendeskripsikan tahap demi tahap dan pada bab-bab terakhir dari novel ini di tulis melalui hasil riset sehingga menjawab kerguan pembaca tentang tidak adanya mordern di  pedalaman Borneo.

Danum terlahir dan besar di rumah Betang (rumah adat Kalimantan). Dia jatuh pada dayung sejak pertama kali memilikinya, bersama Dehen, sahabatnya, mereka beradu kecepatan saat menyusuri sungai-sungai. Menjadi atlet nasional, keliling dunia, dan mengibarkan bendera merah putih di negeri orang adalah ambisi Dehen yang menular padanya.

Kisah dibuka oleh prolog tentang rumah Bentang (rumah adat Kalimantan) yang kuat mengikat hati Danum yang adalah seorang atlet dayung nasional. Danum bimbang meninggalkan rumah kenangannya demi meraih cita-citanya. Tapi semua tak semudah apa yang ia bayangkan ketika Dehen telah sampai di Pelatnas Danum tiga kali gagal.

Kegagalan yang dialami oleh Danum dan kemudian datang kesempatan berikutnya menimbulkan konflik bagi Danum apakah ia harus meninggalkan rumah berserta kenangan yang ada pada rumah Betang itu, berpisah dengan Arba dan kakek, harta yang paling berharga bagi Danum setelah kepergian ibu dan neneknya demi meraih cita-cita saat masih kecil yang lama sudah terpendam sejak dulu. Dan mendapatkan cinta terpendam terhadap teman semasa kecilnya, Dehen yang telah dulu menjadi atlet nasional berprestasi.

Ketika Danum memenuhi panggilan atas keputusannya untuk menggapai cita-citanya, kenyataan tentang kehadiran Sallie di kehidupan Dehen membuat Danum teringat kata-kata Arba “Roman Klasik, teman masa kecil bertemu kembali, lalu jatuh cinta, dan bahagia selama-lamanya. Kamu hidup di alam nyata, bukan seperti cerita di novel-novel” (Halaman 105 sempat menorehkan luka di hati Danum, apalagi ia harus satu tim bersama Sallie dalam sebuah pertandingan, konflik yang tercipta dalam Batang bukan antara dua sosok yang berhadapan tapi lebih kepada konflik pada diri Danum pribadi, selain ragu ketika mengambil keputusan pergi memenuhi panggilan atau menemani kakeknya di hari tua juga konflik yang muncul dan apakah harus memaafkan sang ayah.

Betang tidak sekedar mengisahkan romantika anatara Danum dan Dehen namun kecintaan suku Dayak terhadap alam di tanah Borneo seperti ucapan kakek Danum “kita harus mengganti apa yang kita ambil di alam” (Halaman 31) Batang menanamkan folosofi tentang makna dayung itu sendiri bahwa untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan hidup asal dayung tetap di gerakkan, tentang kalah atau menang itu soal belakangan, karena ada seseorang yang menggenggam hati, yang tak akan pergi jika kita bersandar, dan yang menguatkan jika lemah.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment