Mahasiswa Aktivis Tidaklah Berpolitik Praktis

JATIMAKTUAL, ARTIKEL,- Sekali bendera dikibarkan pantang untuk diturunkan..  yang saya tau dalam pergerakan bukanlah hanya memikirkan diri pribadi sendiri tetapi banyak kader dan anggota yang harus lebih diperhatikan, khususnya kwalitas kader dalam organisasi.

Jauh-jauh hari sebelum saya resmi menjadi anggota pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang biasa disingkat (PMII), sedikit banyak sudah mendengar mengenai organisasi kemahasiswaan ini, bahkan bukan cuma PMII,tentang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), pernah juga sebelum di PMII saya di ajak untuk masuk ke organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kampus, akan tetapi karna mungkin bukan takdirnya atau karna kurang pem-back upan akhirnya saya berada untuk PMII.

Banyak hal yang saya dapatkan ketika di PMII. Mulai dari hal kecil mengenai tentang typologi mahasiswa, antropologi kampus, gerakan-gerakan yang berlandaskan aswaja, Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dan banyak yang lain-lain juga.

Selain berbagai wawasan yang saya dapatkan, juga tentang relasi, menambah sahabat, teman, saudara di kampus-kampus di kota tempat kuliah, melebarkan sayap persahabatan di luar kota-pun juga dengan melalui organisasi PMII, saya bisa kenal dan mempunyai sahabat-sahabat di kota kelahiran pun semakin mudah untuk menjaringnya dengan bantuan organisasi PMII.

Saya rasa bukan hanya dengan PMII di organisasi kemahasiswaan yang lain seperti di GMNI, GMKI, HMI dan lain-lainnya, pasti juga sama, sama-sama memperlancar dan memperbanyak embrio persahabatan dan persaudaraan diseluruh penjuru tempat-tempat berkumpulnya insan akademis.

Namun semakin kesini, saya sudah mulai merasa lelah dan rasanya ingin tidak lagi berkecimpung dengan semua yang bersangkut paut dengan organisasi, tentang apa saja yang telah terdoktrin dan tertanam dalam diri saya sendiri sejak pertama sampai hari ini di dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, bukan karna terbaginya waktu, tenaga, maupun kesempatan untuk refresh otak pasca sekian banyak perkuliahan setiap harinya, saya sempat berfikir mungkin tempat saya bukan disini, mungkin disana bersama mereka.

Tapi sesaat ku merenungi, makna trilogi dalam PMII yang berbunyi Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh di sini apa, dan tentang apa, kok sampe segitu bernilai, dan berharganya dengan di haruskan setiap membuat surat PMII harus ada Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh, meskipun juga bisa digonta ganti dengan Taqwa, Intelektual, dan Profesional atau bisa juga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Hal tersebut bukan tidak ada makna tersirat atau yang terkandung didalamnya, setiap organisasi kemahasiswaan semacam PMII pasti mempunyai tujuan dan arti tertentu akan hal itu. karakter masing-masing yang bemacam-macam perbedaannya, akan tetapi saya rasa kesemua organisasi kemahasiswaan secara garis besar sama tujuannya, meskipun tata caranya itu tidak sama.


Kejujuran dalam trilogi PMII saya asumsikan agar sebagai kader Pergerakan selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam situasi dan kondisi apapun, Kebenaran dapat diartikan bahwa kita sebagai generasi pergerakan harus selalu menjunjung tinggi kebenaran, keadilan sebagaimana dalam materi ahlus sunnah wal jamaah (ASWAJA) bahwa terdapat keadilan didalamnya. Dzikir bagaimana kita memposisikan sebagai mahasiswa yang selalu mengkaji, dan kemudian berfikir dalam artian berfikir lagi bagaimana nantinya akan melahirkan sebuah amal sholeh.

Beda dapur, beda rumah tangga juga, baik antara PMII, GMNI, HMI, GMKI maupun organisasi kemahasiswaan yang lainnya. Namun saya rasa banyak hal yang sama juga dalam kontestasi dalam mencari yang terbaik diantara yang balik baik kader dan anggota untuk menahkodai jalannya organisasi.

Fenomena perebutan posisi sebagai ketua umum acap kali menjadi sebuah belenggu jalannya organisasi itu sendiri karna dalam kontestasi ataupun pemilihan ketua umum, pasti ada yang kalah dan juga yang menanng. Tidak sedikit diantara sahabat-sahabat, saudara-saudara, teman-teman, ketika berada diposisi yang belum dipercaya untuk menjadi pucuk pimpinan yang diharapkan, sebagian hilang bahkan menjadi benalu terhadap kepengurusan kedepan, ketatnya persaingan, dan regulasi kontestasi pemilihan tampuk kepemimpinan yang menjadi salah satu alasannya.

Padahal, sebagai kumpulan insan-insan akademis, organisasi kemahasiswaan PMII, GMNI, GMKI, atau pun HMI, dan organisasi kemahasiswan yang lainnya, sepatutnya memberikan contoh ataupun sebagai cerminan agar perebutan posisi menjadi ketua umum, setelah pasca ada yang terpilih dan tidak terpilih, maka harus sama-sama menerima secara lapang dada, dengan saling bersinergi dalam kepengurusan. Bukan saling mengemboskan dan melemahkan kepengurusan, maka akan memperkuat tubuh organisasi itu sendiri. Mengingat kita berada di negara yang menganut demokrasi, siapapun bisa memilih dan berhak dipilih.

Organisasi kemahasisawan yang sepenuhya sebagai pembelajaran sebelum terjun langsung di masyarakat nantinya dan mampu menjadi patronase dalam persoalan apapun di sana, karna mahasiswa aktifis yang kritis tidak boleh ternodai atau mempraaktekkan politik praktis seperti halnya perebutan pemerintahan, dengan politic money, black campaign untuk saling menjatuhkan antara satu calon dengan calon yang lainnya.

Maka fenomena pasca kontestasi perebutan ketua umum dan ketidak terimaan dari salah satu pihak mengenai hasil akhirnya perlu kedewasaan untuk tidak melemahkan, atau bahkan mensekat jalannya kepengurusan selanjutnya. Dengan berbesar hati mendukung kepengurusan kedepan maka semakin kuat dan luar biasa kepengurusan dalam organisasi. Mengingat mahasiswa sebagai agent of change dengan selalu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, agent of control mahasiswa adalah insan akademis yang berintelektual dengan posisinya berada di antara pemerintah sebagai pemegang kebijakan, pun juga diantara masyarakat selaku objek dari kebijakan tersebut, dan sebagai pensuplai kekuatan bersamaan sebagai agent of power. Dengan sama-sama mempunyai kebesaran hati tersebut akan membuat nama baik mahasiswa sebagai  insan yang benar-benar mempunyai kapasitas yang berkwalitas semakin terbukti di mata semua kalangan.

Genteng, 19 oktober 2017

Penulis : Faizal Lenggi
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment