Memanusiakan Etnis Rohingya

JATIMAKTUAL,- Tragedi Rohingya adalah persoalan kemanusiaan. Sehingga dengan entitas sebagai manusia, kita layak untuk juga peduli dan bergerak untuk menyelamatkan sesama manusia. Dengan dalil apapun, kita sama sebagai manusia. Allah sudah jelas mengisyaratkan bahwa kita sebagai manusia adalah sama. Yang memebedakan hanya soal takwanya saja. Takwa berada di wilayah batin, kesamaan sebagai manusia berada di wilayah lahir. Sehingga dengan demikian, yak tampak sebagai manusia adalah layak untuk dimanusiakan. Karena kita sama.

Alasan sesama manusia sudah cukup untuk dibela. Kata Abi Thalib, mereka yang bukan saudaramu dalam agama, adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Hanya saja, faktanya sekarang, isu etnis Rohingya digoreng sedemikian rupa. Seoalah olah hal itu berkaitan dengan konflik agama.

Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang menjadi korban adalah mayoritas kaum muslim. Tetapi menggoreng realitas rohingya sebagai masalah agama, bukan menyelasaikan masalah. Tetapi malah melahirkan amarah berlebihan dan emosi keagamaan yang dilampiaskan bukan semestinya.

Baru baru ini ramai akan ada gerakan untuk demonstrasi mengepung Brobudur. Motifnya ingin balas dendam dari yang dilakukan oleh kaum budha terhadap penduduk muslim di rohingya. Karena video yang beredar dan disebarkan dengan luas, banyak biksu yang menjadi aktor dan pelaku kekerasan di Rohingya.

Sampai disini, mari mikir sejenak dengan logika yang sesehat-sehatnya, bahwa manakala motif agama dianggap sebagai pendorong kekerasan di Rohingya dan kita membalasnya di Indonesia karena alasan agama, yang rugi adalah kita sebagai bangsa Indonesia. sadar nggak sih, bukannya menyelesaikan masalah di Rohingya, malah menambah masalah di Indonesia. jika dibiarkan akan terjadi konflik horizontal antar sesama anak bangsa. Rohingya akan pindah ke Indonesia.

Sebagai bagian dari pemuda, saya mencoba untuk mengajak berpikir ke arah yang lebih jauh dengan melakukan analisa yang lebih konfrehensif. Dalam kajian yang dilakukan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur, persoalan di Rohingya adalah masalah konflik Sumber Daya Alam. Realitas di Rohingya seakan membenarkan Materialisme Historisnya Karl Marx, bahwa dalam setiap kepentingan manusia terdapat kepentingan ekonomi di belakangnya. Yang terjadi di Rohingya hanyalah salah satu dari 70 % konflik di dunia yang dikarenakan oleh energi dan perebutan Sumber Daya Alam.

Analisa ini berdasarkan data, bahwa di kawasan konflik adalah kawasan Migas. Di kawasan semenanjung Rohingya setidaknya terdapat cadangan 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 millir barel minyak. Di daeratan Arakan mempunyai cadangan 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 miliar barel minyak. Dengan cadangan sebesar itu, banyak perusahan nasional dan internasional yang berebut mengelolanya. Di antaranya Daewo Internasional Korea ONGC dari India, lalu MOGE dari Myanmar dan Kogas dari Korea.

Dengan memaksakan teori dramaturgi, bahwa yang tampak ke permukaan adalah konflik antar beda agama. Tetapi di balik itu semua adalah terjadi perebutan Sumber Daya Alam yang melimpah di baliknya. Dengan kata lain, konflik memang dicipta agar masyarakat dapat pindah dan eksplorasi migas dapat berjalan dengan lancar.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa etnis rohingya adalah korban yang patut untuk dibela. Bukan hanya membela agamanya, tetapi jati diri mereka sebagai manusia. Alasan membela agama dengan tanpa menggunakan akal sehat bukan menyelesaikan masalah. Tetapi akan melahirkan konflik horizontal antar sesama anak bangsa. Mari kita memanusiakan etnis rohingya. Karena kita sama. 

Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur 

Oleh : Zainuddin
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment