Howard Gardner dan Ruang-Ruang Kelas

Oleh : Busrawi
Surel: bus_rawi@yahoo.com
Guru SDN Karangpenang Oloh 3 Sampang Madura

JATIMAKTUAL-ABSTRAK: Artikel ini disusun untuk mengetahui teori Multiple Intellegences atau teori Kecerdasan Majemuk  dan penerapannya didalam ruang-ruang kelas, teori ini ditemukan pertama kali oleh Howard Gardner dan membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan yakni pertama kecerdasan linguistik, Kedua, kecerdasan logis matematis, Ketiga, kecerdasan spasial – visual, Keempat, kecerdasan musik, Kelima, kecerdasan kinestetik, Keenam, kecerdasan interpersonal, Ketujuh, kecerdasan intrapersonal, dan kedelapan, kecerdasan naturalis. Dari berbagai jenis kecerdasan tersebut dapat dipraktekkan diruang-ruang kelas dengan menggunakan berbagai jenis strategi mengajar berdasarkan materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Dampak dari penerapan teori ini guru akan lebih kreatif dan inovatif diruang-ruang kelasnya, tidak lagi menyuruh anak hanya menulis buku sampai selesai, berdiri didepan papan tulis untuk berceramah menerangkan materi, dan menunggu anak selesai mengerjakan tugas yang diberikan, yang kesemuanya ini mengakibatkan peserta didiknya menjadi bosan.

Kata kunci: Multiple Intellegences, berbagai jenis kecerdasan.

Manusia hidup didunia ini,  diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling tinggi derajatnya, dikarenakan manusia dikarunia  akal dan pikiran yang tidak dipunyai  oleh makhluk lain. Akal setiap manusia mempunyai dampak  pada setiap  tindakan dan perilaku terhadap manusia itu sendiri.  Sehingga unsur apapun yang menjadi terlihat dari tindakan dan perilaku seseorang tersebut maka, sejauh itulah akal tersebut difungsikan, oleh karena itulah manusia diciptakan oleh Tuhan dengan mempunyai  berbagai macam karakteristik atau ciri yang berbeda dengan makhluk lainnya,  yang salah satunya adalah kecerdasan.
 (Mustaqim, 2014 : 104) berpendapat kecerdasan selama ini sering diartikan sebagai kemampuan memahami sesuatu dan kemampuan berpendapat, semakin cerdas seseorang maka semakin cepat ia memahami suatu permasalahan dan semakin cepat pula ia mengambil langkah penyelesaian terhadap masalah tersebut. Kecerdasan ini adalah kemampuan intelektual atau kognitif  yang dititik beratkan pada logika matematika untuk mencari jalan keluar suatu permasalahan, sehingga yang kita temukan selama ini bahwa kecerdasan ukurannya melalui kemampuan seseorang dalam menjawab uraian soal-soal tes standar di ruang-ruang kelas yang hanya mengukur pada kecerdasan linguistik verbal dan logika-matematika saja.
Dengan adanya teori  Multiple Intelligences (MI) atau Kecerdasan Majemuk (KM) sebagai bentuk pola pikir baru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu,  berbagai hal yang selama ini terus berkembang dan selalu menjadi masalah dalam praktik dunia pendidikan pada akhirnya akan cepat dapat teratasi, pertama, pada umumya dahulu para pihak sekolah memisahkan dan memberi jarak pada setiap peserta didiknya sebagai peserta didik yang pandai atau cerdas dan peserta didik yang dianggap tidak tahu apa-apa di sisi lainnya dengan satu pemikiran  yaitu dari segi kognitifnya. Berkat Teori Kecerdasan Majemuk (KM) maka keadaan tersebut akan menjadi tidak ada, dan hal itu yang benar ialah bahwa tidak ada peserta didik  yang bodoh, semua peserta didik diberi kemampuan berbagai jenis kecerdasan yang paling menonjol. Kedua, keadaan ruang-ruang  kelas yang cenderung pasif dan membosankan disebabkan para guru  hanya menitik beratkan pada satu atau dua jenis kecerdasan dalam memberi materi diruang-ruang kelas tadi. Kini dengan teori Kecerdasan Majemuk (KM), setidaknya ada beberapa pilihan yang dapat digunakan oleh seorang guru untuk mengajar yang menitik beratkan pada delapan jenis kecerdasan. Ketiga, dahulu seorang guru mengalami berbagai kesulitan dalam membangkitkan semangat dan minat belajar peserta didiknya dalam memberikan materi sebuah mata pelajaran.

TEORI MULTIPLE INTELEGENCES ATAU KECERDASAN MAJEMUK
Multiple intelligences merupakan sebuah teori kecerdasan yang di temukan oleh seorang psikolog dan pakar pendidikan Dr. Howard Gardner pada tahun 1982 di Universitas Harvard. Sebelum teori kecerdasan multiple intelligences ini muncul, kecerdasan seseorang diukur berdasarkan kemampuannya menyelesaikan tes IQ (Intelligent Quetiont), yang kemudian tes itu diubah menjadi berbagai angka standar kecerdasan.
Gardner berhasil merubah dominasi dari teori dan tes IQ yang sejak 1905 banyak dipergunakan para pakar ilmu jiwa di seluruh dunia (Munif Chatib, 2013: 132). Gardner dengan kemampuannya memberi nama “multiple” karena luasnya makna kecerdasan. Penggunaan kata “multiple” diperuntukkan karena adanya kemungkinan bahwa wilayah kecerdasan yang ditemukannya  terus mengalami perkembangan, mulai  dari enam kecerdasan sejak pertama kali ditemukan hingga saat ini menjadi delapan kecerdasan. Teori  ini diyakini  bahwa setiap orang dipastikan memiliki beberapa jenis kecerdasan tertentu.
Berbagai  kecerdasan tersebut harus ditemukan dengan melalui berbagai cara pencarian kecerdasan. Pada teori multiple intelligences menyarankan supaya setiap orang memberitahukan kompetensinya atau kelebihan dan mengukur kelemahan. Dalam kegiatan  menemukan kecerdasannya, seorang anak harus dibantu   oleh lingkungan, orang tua, guru, sekolah, maupun sistem pendidikan yang diimplementasikan di negara (Munif Chatib, 2013: 74).
Julia Jasmine (2012 : 11) menyatakan bahwa teori multiple intelligences merupakan suatu validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Teori multiple intelligences bukan  hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis,  seperti pengajaran dan penilaian tetapi juga yang lainnya dalam menganggap dan   menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan  sangat berharga.  Teori ini merupakan langkah besar  menuju suatu puncak  dimana individu dihargai dan keragaman dibudidayakan. Sedangkan Gardner  menjelaskan bahwa teori multiple intelligences bertujuan untuk mentransformasikan  sekolah agar kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik.

Multiple Intellegences atau Kecerdasan Majemuk Howard Gardner di Ruang-Ruang Kelas dengan berbagai strategi mengajar
Semua anak dilahirkan dengan potensi yang genius sejak ia dilahirkan, bahkan sejak masih berada dalam kandungan ibunya. Anak yang baru lahir telah belajar banyak hal karena pada saat itu otaknya sudah berukuran seperempat ukuran otak orang dewasa dengan satu triliun sel otak (neuron), (Gunawan,2011:1 dalam Sujanto). Ketika peserta didik sudah mulai belajar berada dalam lingkungan sekolah, otak yang besar itu sudah bekerja mengenai tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik bila mendapatkan tugas oleh seorang gurunya, maka pada saat itulah guru akan mengetahui jenis-jenis kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didiknya. Jenis-jenis kecerdasan ini oleh Howard Gardner dikelompokkan menjadi delapan jenis kecerdasan yaitu:
Pertama, kecerdasan linguistik. Inti kegiatan belajar melalui pintu kecerdasan ini adalah menekankan pada keterampilan menggunakan bahasa, baik dalam bentuk kata/kalimat yang diucapkan secara lisan dengan pola yang terstruktur, kemampuan mengolah kata. Mengajar dengan kecerdasan linguistik merupakan sebuah keterampilan menggabungkan beberapa komponen bahasa, menulis, menyimak, berbicara untuk mengingat, berkomunikasi, menjelaskan, memengaruhi, menyusun makna dan menggambarkan bahas itu sendiri. (Campbell & Dickson dalam Said, 2015:32-33). Pada kecerdasan ini dimungkinkan beberapa strategi mengajar yang diperlukan antara lain ceramah, diskusi, tanya jawab, wawancara, bercerita, berdongeng, menulis puisi, menulis laporan berpantun, dan sebagainya.
Kedua, kecerdasan logis matematis. Dasar dari kecerdasan ini adalah menekankan pada kegiatan berpikir yang bersifat terukur, kuantitatif, dan analisis. Dalam proses pembelajaran menekankan pada kemampuan dalam penalaran, mengurutkan berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, mencirikan sesuatu berdasar sebab akibat, pengelompokan, melalui proses klasifikasi dan identifikasi. Pada kecerdasan ini dimungkinkan beberapa strategi mengajar yang diperlukan antara lain latihan soal, eksperimen sederhana, prosedur teks, jawaban soal, pengamatan, dan sebainya.
Ketiga, kecerdasan spasial – visual. Salah satu penggunaan kecerdasan ini diruang-ruang kelas adalah dengan penggunaan proses belajar mengajar visual, presentasi bergambar, penggunaan peralatan penggagas dan pencatat visual. Strategi mengajar yang bisa digunakan yakni tebak gambar, urutkan gambar, membaca peta, mind mapp dan sebagainya.
Keempat, kecerdasan musik. Tidak bisa dimungkiri bahwa ketika kita sebagai guru sedang memberikan materi didalam kelas kadang kita akan menjumpai peserta didik kita sedang menepuk bangku bahkan ada yang sambil bernyanyi tidak terlalu nyaring, hal ini menandakan peserta didik kita mempunyai kecerdasan musik ini. Menurut hasil penelitian musik dapat mempengaruhi otak dengan cara yang luar biasa. Peserta didik yang melakukan apersepsi sebelum belajar, otaknya akan terkondisi pada frekuensi 9-13 Hertz, artinya otak dalam kondisi alpa, yaitu suatu kondisi rileks, santai dan memikirkan jalan keluar terhadap suatu masalah dan siap mempelajari materi, (Said, 2015:214). Kecerdasan ini dalam proses pembelajaran dapat menggnakan strategi mengajar bernyanyi, games tebak lagu, dan parodi.
Kelima, kecerdasan kinestetik. Pada kecerdasan ini peserta didik merasa nyaman jika mereka belajar melalui tindakan langsung lewat pengalaman nyata dilingkungan tempat dimana mereka berada. Ciri belajar ini gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya, menggunakan obyek nyata sebagai alat bantu belajar, banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh yang baik, saat membaca banyak menunjuk kata-kata dengan jari tangan, unggul dalam olah raga dan keterampilan. Strategi mengajar yang cocok digunakan diruang-ruang kelas adalah demonstrasi, bermain peran, dan permainan ular tangga.
Keenam, kecerdasan interpersonal. Pada kecerdasan ini peserta didik dalam proses pembelajarannya akan berinteraksi dengan temannya secara efektif dan mereka akan senang jika pembelajaran dilaksanakan dalam berkelompok, yang dapat memungkinkan sesuatu yang sulit dikerjakan oleh individu dapat dikerjakan secara berkelompok sehingga hasilnya akan menjadi lebih baik. Strategi mengajar yang cocok untuk kecerdasan ini adalah kerja kelompok, kartu soal, sosiodrama, dan cerdas cermat.
Ketujuh, kecerdasan intrapersonal. Pada proses ini pembelajaran menekankan pada perasaan, nilai-nilai, sikap yang memungkinkan seseorang menjadi diri sendiri (self individual). Strategi pembelajaran diruang-ruang kelas yang cocok untuk kecerdasan ini adalah mengenal tokoh, games siapa saya, pertanyaan yang dimulai dari siswa dan sebagainya.
Kedelapan, kecerdasan naturalis. Pada kecerdasan ini menurut Armstrong (2013:100) disarankan melakukan dua hal yakni, pertama. Proses pembelajaran perlu lebih dilakukan diluar kelas yang diatur secara alami. Kedua, dunia alam perlu dibawa kedalam kelas dan area lainnya didalam gedung sekolah. Strategi pembelajaran yang digunakan didalam kelas adalah karyawisata, tebak suara hewan, identifikasi hewan dan tumbuhan.

Contoh Implementasi Kecerdasan Majemuk dalam Pembelajaran di Ruang-Ruang Kelas di Sekolah Dasar
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar
Semester : Genap
Kelas : IV
Materi   : Bahasa Indonesia
Kompetensi dasar    : Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan.
peserta didik  mendengarkan penjelasan guru tentang berbagai jenis karangan (kecerdasan linguistik)
Guru membuat kelompok dan menyuruh masing-masing anggota kelompok untuk memilih amplop yang berisi berbagai gambar yang telah disediakan  (kecerdasan interpersonal)
Peserta didik disuruh mengurutkan gambar yang secara acak untuk dibuat menjadi sebuah karangan (kecerdasan logis matematis).
peserta didik membuat karangan berdasarkan gambar acak yang telah disediakan oleh guru dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan (kecerdasan spasial-visual).
Peserta didik diminta untuk membuat kalimat sendiri dalam karangannya dengan menggunakan pilihan kata dan ejaan yang tepat (kecerdasan intrapersonal)
Peserta didik disuruh menghitung berbagai jenis benda apa saja yang terdapat dalam gambar tersebut berdasarkan kelompoknya (kecerdasan logis matematis)
Peserta didik disuruh mendemonstrasikan berbagai bentuk kejadian yang ada dalam gambar tersebut (kecerdasan kinestetik tubuh).
Guru mengajak peserta didiknya keluar ruang kelas untuk bernyanyi “Belajar ABC”

Penutup.
Adanya pemikiran  baru tentang teori Multiple Intelegences atau Kecerdasan Majemuk yang dipelopori oleh Howard Gardner tidak luput dari prinsip-prinsip kerja otak, karena beliau adalah seorang psikolog universitas Harvard. Proses perubahan  peralihan pengetahuan seseorang itu berdasarkan sistem kerja otak dalam menerima dan merespon informasi (materi) yang diberikan oleh guru atau yang diterima dari luar. Kehadiran teori ini memberikan  pengaruh yang signifikan terhadap proses pembelajaran diruang-ruang kelas,  guru tidak lagi menggunakan satu metode atau strategi saja, tetapi akan bervariasi dalam mengajarnya.
Jika yang terjadi selama ini guru yang sedang mengajar sambil berdiri di depan kelas dengan berceramah menerangkan suatu materi, menyuruh peserta didiknya menulis di papan tulis sampai selesai, bertanya kepada murid tentang teks bacaan dibuku, dan menunggu untuk menyuruh peserta didiknya  menyelesaikan pekerjaan tertulis mereka, maka dengan teori Multiple Intelegences atau Kecerdasan Majemuk , guru akan selalu kreatif, inovatif dalam mengubah berbagai metode dan starategi pembelajarannya diruang-ruang kelas untuk mengaktifkan peserta didiknya terlibat langsung dalam proses pembelajarannya. Semoga.

Daftar Pustaka
Amstrong, Thomas. Multiple Intelligences in the Classroom, terjemahan kecerdasan Multiple di dalam kelas. Indeks: Jakarta, 2013
Chatib, Munib, Sekolahnya Manusia. Kaifa: Bandung, 2013
Jasmine, Julia. Metode Mengajar Multiple Intelegences. Nuansa: Bandung, 2012
Mustaqim, Psikologi Pendidikan. Walisongo Press: Semarang, 2014
Said, Alamsyah dan Budimanjaya, Andi. 95 strategi mengajar Multiple Intellegences. Kencana: Jakarta, 2015
Silabus Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas IV.  
Sujanto, Ervin, Sukses Belajar dan Mengajar dengan Teknik Memori. Gramedia: Jakarta, 2011


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment