AKROBAT POLITIK PPP dan PKB PAMEKASAN
Cari Berita

AKROBAT POLITIK PPP dan PKB PAMEKASAN

Sunday, September 3, 2017

AKROBAT POLITIK PPP dan PKB PAMEKASAN 
Kesejatian Partai Ka’bah dan Partai Bumi
Oleh : Fahrus Shaleh Fadhly
Pemerhati Sosial Budaya yang juga sebagai Ketua Umum 
Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Kabupaten Pamekasan

Mencermati Pilkada Pamekasan dari waktu ke waktu sangat nyata pemeran penting keputusan politik di kabupaten dengan gelar gerbang salam adalah PPP. Partai yang mewakili klaim pemilih mayoritas Islam di daerah sentral Madura (baca : Pamekasan) di tahun depan ini sedang memainkan perannya dalam kontestasi politik jelang Pilkada 2018 nanti. Partai Politik yang memiliki komposisi 9 kursi di DPRD dan secara single party mampu mengusung calon pasangan Bupati dan wakil Bupatinya itu memiliki kepercayaan diri yang semakin menguat.    

Asumsi politik ini (kepercayaan diri, red) setidaknya berdasarkan indikasi-indikasi politik yang semakin jelas : Pertama, munculnya banyak kader partai PPP yang akan maju di pencalonan baik sebagai calon Bupati maupun wakil Bupati seperti ustad Halil, Halili, Achmad Baidhowi, KH. Mundzir dan figur lainnya. Tinggal dimusyawarahkan dalam forum partai siapa yang akan diberangkatkan PPP. Kedua, kematangan berpolitik PPP dalam eskalasi politik lokal di kabupaten Pamekasan telah terbukti dua kali menang ketika mengusung pasangan bupati dan wabup ketika dipilih DPRD pada tahun 2003 dan pada pilkada langsung pada 2013 lalu. Ketiga, Kekuatan politik kultural berbasis pesantren yang dimiliki PPP mampu menginspirasi pemilih lainnya yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan di Pamekasan, plus kemasan isu dan program strategis yang membuat masyarakat trust dengan kekuatan PPP.  Keempat, kekuatan alumni salah satu pesantren yang melipatkan dukungan terhadap calon bupati dan wakil bupati mampu mendulang suara prediksi Pilkada 2018 nanti. 

Hanya persoalannya, kemauan serta keberanian politik PPP masih dalam pertanyaan. Inilah yang menjadi kendala internal PPP selama ini. Sehingga kelima indicator kemenangan tersebut jatuh ketika keberanian politik tidak ada dalam tubuh PPP Pamekasan. Mengapa ini terjadi? Budaya patron klient dan restu ulama’ ternyata masih mendominasi PPP Pamekasan sebagai sebuah kekuatan partai politik. Modernisasi organisasi yang dibangun structural PPP dari tingkatan pusat hingga ke daerah belum mampu menerobos itu (di Madura, Pamekasan lebih khusus lagi. Red). 

Ini cerita PPP. Bagaimana dengan kabar politik partai bola bumi alias PKB? PKB dengan percaya dirinya menampilkan figure Badruttamam sebagai calon bupati. Anak muda yang baru 2 kali menjabat sebagai anggota DPRD Jatim ini memang “menggurita” di altar politik daerah Pamekasan sejak PKB dikuasainya setelah mengurangi pengaruh ketum PKB sebelumnya yakni Kholilurrahman. 

Kholilurrahman yang kini anggota DPR RI PKB dan mantan Bupati itu kini harus mencari alternatif partai politik sebagai kendaraan politik bagi dirinya dalam pencalonannya sekarang. Kholilurrahman juga tampil Pede dengan kondisinya sekarang, walau belum mendapat kendaraan parpol. Namun karena ketokohannya, pertama mantan bupati, teruji, dan anggota DPR berkali-kali maka saudara Kholilurrahman menjadi magnet tersendiri bagi partai-partai politik di Pamekasan. 

Asyiknya, mahkota PPP saudara wabup yang sedang menjabat sekarang menjadi rebutan dua tokoh calon bupati ini yakni saudara Badruttamam dan Kholilurrahman. Perebutan wabup saat ini (plt Bupati, red.) untuk menjadi M2 adalah karena kultur yang kuat di basis salah satu pesantren besar di Pamekasan menjadi aroma sedap bagi bakal kemenangan dua cabup ini. Siapakah yang akan diterimanya? Asumsi politikpun berjalan dengan sendirinya. Satu sisi berpandangan Kholilurrahman dan Halil adalah pasangan ideal, sementara pandangan yang lain  Badruttamam  dan Halil adalah juga ideal. Tergantung kepada persepsi politik masing-masing. 

Sementara secara structural PPP yang mencoba memberanikan diri akan menjual kadernya ke publik dengan menampilkan sosok H menjadi cabup penulis rasa hanya bumbu sedap ajang kontestasi politik di Pamekasan ini. H tidak cukup marketable di public. (ini hanya sekedar asumsi penilaian saya, amatan saya, semoga ke depannya lebih marketable). 

Bagaimana dengan partai politik yang lain…..???? PAN, Demokrat, Gerindra, Nasdem, PBB, PKS, PDIP dan Golkar??
Hemat penulis, dari salah satu parpol ini atau gabungan parpol ini harusnya ada figure lain yang ditampilkan ke publik. 
Hanya saja tidak berani memastikan figurnya karena lagi-lagi masih krisis calon untuk M1 nya. Semuanya masih di ars wabup. Taruhlah Golkar yang akhir akhir ini akan berdikari menampilkan sosok M1. PKS dengan mencoba memarketkan saudara Anwari Holil juga terkesan belum mapan secara ketokohan dan terkesan mencuri kesempatan agar menarik untuk dilamar jadi calon wabup. Partai PAN belum berani juga dan terkesan mengikuti alur irama dan dendang politik local.  Gerindra dengan sosok Agus Sujarwadi, yang lama berkampanye di medsos dan menjudge dirinya sebagai calon bupati/wakil bupati kini harus diakui, dalam hitungan persepsi masyarakat belum full apresiatif. PDI pun masih ars wabup dengan tampilnya di publik yaitu saudara Taufadi sebagai calon wabub-pun selain dipertanyakan sebagai kader, keberadaan PDIP di bumi gerbang salam belum mendapat hati di khalayak masyarakat Pamekasan. Partai Demokrat-pun masih belum percaya diri juga karena sedang dirundung kesusahan kekalahan AHY di Pilkada Jakarta. Demikian pula dengan Nasdem, partai politik pendatang baru di DPRD Pamekasan. Partai Nasdem terkesan masih mengira-ngira dan terhembus informasi sebagai partai pendukung saja pada pesta Pilkada 2018 nanti. 

Yang fenomenal saudara Rudi Susanto. Rudi Susanto yang merupakan figur baru, begitu percaya diri, mengkalim mendapat restu ulama’ hendak melanggang menjadi calon Bupati dengan dukungan parpol yang belum jelas hingga detik ini. 

Kontributor : Cak Bariel
Publisher : Faisol