PMII Banyuwangi Butuh Pemimpin Visioner dan Mempu Memetakan Persoalan

(Mengenal Puri Ayu Indra Kusuma Dewi)

Membaca PMII dan Problematika Banyuwangi
Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) Banyuwangi semenjak berdirinya memiliki kompleksitas persoalan yang belum selesai. Masalah yang dihadapi bersama dengan arus zaman yang terus berkembang dapat dipilah dalam dua bagian. Yakni Internal dan Eksternal.

Beberapa masalah yang ada di internal, meliputi:
1. Lemahnya Basis Ideologi pada Kader
Ideologi adalah hal fundamental yang menggerakkan organisasi. Ideologi Islam Ahlusunnah wal jamaah yang menjadi ruh pergerakan mestinya menjadi bagian internal setiap kader PMII Banyuwangi. Baik sebagai pribadi, maupun kaitannya sebagai kader dalam organisasi.

Dengan domain dan penamaan yang berbeda tentang Aswaja yang melingkupi Aswaja sebagai madzhabi, manhaji dan bahkan harokah, tetaplah basis ideologi itu mestinya kuat terhadap kader PMII Banyuwangi.

Kenyataannya di realitas bawah, basis ideologis tersebut tidak lagi sekuat yang diharapkan. Cukup disayangkan, masih cukup banyak kader PMII Banyuwangi yang memahami dan menjalankan setengah-setengah terhadap basis ideologi yang ada. Yang paling tampak adalah saat Aswaja dalam kerangka sebagai madzhab yang menuntut kader untuk mengikuti produk dari ulama. saat domain aswaja yang harus dijalankan dalam ritualitas kegamaan sehari-hari, masih cukup disayangkan pada praktek keagamaan yang meliputi kewajiban atas shalat masih cukup lemah di berbagai sisi. Ini menandakan bahwa pemahaman dan perilaku kader PMII Banyuwangi terhadap basis ideologis Ahlusunnah wal Jamaah masih belum kaffah. Tentu hal ini memerlukan kerja-kerja ideologis yang perlu dilakukan selanjutnya.

2. Sepinya Gerakan Literasi
Buku adalah jendela dunia. Lewat buku, akan banyak ilmu yang diperoleh. Bagi Aktivis, mestinya buku adalah bagian penting dalam setiap gerakan yang dilakukan. tanpa buku, aktivis bagaikan burung yang kehilangkan sayapnya. Tidak akan bisa terbang dan melakukan perubahan.

Faktanya, di Banyuwangi, kader PMII belum menjadikan buku sebagai bagian paling penting dalam berproses. Sehingga diskusi yang berjalan cenderung kaku dan tidak menunjukkan dialektika intelektual.

Pada derajat yang lain, sepinya literasi ini akan mengancam kader untuk mengalami disorientasi ideologis yang menyebabkan akan terancam dengan ideologi lain dan pada derajat lain akan melahirkan kader yang hanya suka ngintrik dan berpolitik, tapi kosong dalam ilmu pengatahuan. Tentu kader semacam ini akan mengancam terhadap keutuhan organisasi.

3. Masih Belum kuatnya Kaderisasi
PMII Banyuwangi memiliki komisariat enam, rayon definitif lima, dan rayon persiapan lima. Dalam buku kaderisasi dapat dijelaskan, bahwa terdapat jenis kaderiasi. Meliputi formal, informal dan non formal. Pada kenyataaannya jenis kaderisasi formal meliputi mapaba dan PKD belum seutuhnya dapat menjawab kuatnya kaderisasi di Banyuwangi. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas anggota PMII yang menurun drastis saat PKD, daripada jumlah saat Mapaba.

Tentu kenyataaan ini dikarenkan belum maksimalnya jenis kaderisasi non formal dan informal. Masalah ini menyebabkan adanya keengganan anggota untuk menjadi kader PMII. Ritualitas Mapaba dan PKD harus diimbangi dengan adanya pelatihan non formal dan informal. Sehingga nantinya ghairah kaderisasi menjadi lebih kuat dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Karena harus diakui, pola kaderisasi yang tidak berjalan, dan kurang inovatifnya pemangku kebijakan di PMII dalam merumuskan kaderisasi, akan menyebabkan PMII tidak mampu menjawab zaman. Alih alih nantinya malah bubar dan tak bisa dilanjutkan.
Selian persolan internal yang ada di PMII, dapat juga dianalisa tentang masalah eksternal yang berkaitan dengan problematika PMII Banyuwangi. Dalam analisa saya, dapat disebutkan beberapa point penting. di antaranya:
  • Eksploitasi alam yang berlebihan. Bahwa kekayaan alam di Banyuwangi memang luar biasa. Bahwa dalam Pasal 33 kita mengetahui, kekayaan air dan tanah dikelola negara untuk kemakmuran masyarakat. akan tetapi, faktanya eksploitasi berlebihan sebagaimana yang ada di Tumpang Pitu merupakan wujud dari wujud keserakahan. Bahwa hal demikian bertentangan dengan Hablum Minal Alam yang menjadi bagian dari Nilai Dasar Pergerakan.
  • Kekerasan terhadap anak adalah salah satu ancaman serius terhadap masa depan generasi bangsa. Di Banyuwangi, tidak hanya terdapat kekerasaan bagi anak, melainkan juga terdapat fakta tentang anak yang dihamili oleh orang tuanya. Ini tentu juga membutuhkan kajian yang serius dan layak untuk dicari jawaban atas persoalan ini.
  • Pemerintahan yang cenderung feodal. Bagi orang luar, Banyuwangi telah dianggap maju secara pariwisata. Fakta ini memang tidak bisa disanggah dan menjadi salah satu kebanggaan dari Banyuwangi. Akan tetapi, pada sisi lain bagi masyarakat dan kader PMII dapat dinyatakan bahwa pemimpin di Banyuwangi cenderung feodal dan bertangan besi. Buktinya, bahwa kemajuan yang dipoles ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan lapangan. Tentu hal ini memperlukan gerakan agar pemerintahan benar-benar jujur dan mengedepankan nurani terhadap rakyat kecil.



Urgensi Pemimpin dan Kepemimpinan Visioner
Dengan kompleksitas masalah PMII dan Banyuwangi sekaligus, tentu hal ini memerlukan pemimpin dan karakter kepemimpinan yang visioner. Disinilah pentingnya untuk mengenal dari Puri Ayu Indra Kusuma Dewi dan gagasan kepemimpinan untuk PMII Banyuwangi ke depan.

1. Mengenal Puri Ayu Indra Kusuma Dewi
Tak banyak orang tahu, sosok muda yang ramah dan rendah hati itu memiliki sederet prestasi yang mengagumkan, pendidikan yang sempurna, keluarga yang super dan karier yang cepat disaat usianya muda. Sosok mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Perguruan Tinggi di Banyuwangi itu tentu tidak mendapat prestasi yang jatuh gratis dari langit, Puri Indra (nama panggilan) menempuhnya melalui  kristalisasi keringat.

Ia bukan anak jendral yang selalu gampang menembus batas dan diberi kemudahan birokrasi, juga bukan anak presiden yang selalu diistimewakan. Sebagai calon pemimpin berkualitas, Puri yang sejak kecil dibesarkan dari keluarga yang sederhana akan tetapi mengerti dan memahami arti dari sebuah perjuangan, tentu mendapat berbagai pendidikan untuk membentuk pribadi muslim yang berkarakter, hidup yang mandiri, digembleng dengan berbagai macam persoalan berat dan penuh tantangan yang sulit.

Puri Ayu Indra Kusuma Dewi adalah Kandidat Ketua Umum PC PMII Banyuwangi pada Konfrensi Cabang PC PMII Banyuwangi yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 Agustus tahun 2017 besok. Kader Intelektual PK PMII Institut Agam Islam Darussalm Blokagung Banyuwangi dilahirkan di Banyuwangi pada Hari Sabtu pukul 07. 00 pagi,  tanggal 17 Juni 1995 adalah anak satu satunya dari pasangan bapak Jumadi dan Ponikem  yang merupakan putra daerah asli Blambangan.

2. Jenjang Pendidikan
Masa belianya menempuh pendidikan dasar dari semenjak TK, SD, MTs dan SMA di Darussalam Blokagung. Dimana proses belajar mengajarnya dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 12.30 WIB. Pada siang sampai sore harinya bersekolah di Madrasah Diniyah Al-Amiriyah Darussalam, Puri nampaknya sudah terbiasa dengan beban berat pelajaran dibangku sekolah dasar. Begitu lulus pendidikan SMA dengan semangat belajarnya yang tinggi dan kerja kerasnya ia memutuskan untuk masuk Perguruan Tinggi  yang masih dalam satu yayasan dimana ia sekolah dulu yaitu Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan  dengan Program Studi Pendidikan Matematika di Institut Agama Islam Darussalm (IAIDA) Blokagung Banyuwangi.

3. Pengalaman Organisasi
Puri sejak dibangku sekolah ia sangat aktif berorganisasi, dimulai menjadi Pengurus Osis MTs Al Amiriyah Darussalam, Pengurus Osis SMA Darussalam dan Palang Merah Remaja SMA Darussalam. Tidak hanya berhenti disitu saja, selama menjadi mahasiswa ia pun mulai mengenal berbagai macam organisasi di Kampus dan ikut aktif sebagai aktivis kampus baik dari Oganisasi Intra Kampus maupun Organisasi Ekstra Kampus. Karier organisasinya sebagai aktivis selama menjadi mahsiswa ia mulai dari ia menjadi Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa  (BEM) IAIDA, editor PERS Mahasiswa dan  Ketua BEM Fakultas Pendidikan. Sedangkan di Organisasi Ekstra kampus ia lebih memilih untuk masuk menjadi aggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tidak hanya masuk dan terdaftar sebagai anggota dan kader di PMII, ia juga mengikuti berbagai macam kaderisasi di PMII baik kaderisasi formal. Informal dan non formal. Pasca ia mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ia melanjutkan jenjang kaderisasinya dengan ikut Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Pelatihan Kader Lanjut (PKL).  Karena keuletan, loyalitas dan integritas selama ber-PMII ia pun mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Sekretaris Komisariat PK PMII IAIDA periode 2016-2017.

Visi Misi dan Masa Depan PMII Banyuwangi
Sebagai kandidat ketua umum PMII Banyuwangi masa ibadah 2017-2018, Puri memiliki gagasan kongret dan berupaya diwujudkan selama satu periode menjabat. Gagasan itu di ejawantahkan dalam Visi dan Misi yang akan dilakukannya.

Visi dan Misi
PMII Banyuwangi Bangun dan Sadar ber-PMII
Misi:
  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkup Komisariat dan Rayon
  2. Administrasi secara konstitusi non kultural
  3. Pengembangan Jaringan
  4. Pengembangan Institusional Building



Rangkaian Visi dan Misi dari Puri Indra ini di dalam rangka untuk menjawab persoalan yang telah dijabatkan di atas. Mulai masalah yang terjadi di internal PMII Banyuwangi, hingga dengan masalah yang terjadi di Banyuwangi dalam teritori pemerintahan.

Dalam persepektif yang digagas oleh Puri Indra, PMII Banyuwangi dapat bangun dan Sadar ber PMII, jika dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas bagi kader PMII ditingkatan rayon dan komisariat. Harus diakui, bahwa rayon dan komisariat adalah jantung kaderisasi yang ada di PMII. Jika jantung kaderisasi ini berhenti berdetak, maka dimungkinkan akan mengancam keberlangsungan dan eksistensi PMII sebagai organisasi. Kader PMII di Banyuwangi layak dan harus paham tentang basis ideologi, jenjang kaderiasi, mengerti APBD, bergerak dalam literasi, dan pula kian mampu untuk bisa mengejawantahkan motto PMII berupa Dzikir, Pikir dan Amal Shaleh dalam keseharian. Baik sebagai individu, mapun organisasi.

Selain itu, untuk menjadi organisasi yang profesional, PMII harus juga membenahi administrasi. Tidak sebagaimana periode sebelumnya yang dilakukan oleh cabang yang kurang mengerti dan mengetahui terhadap administrasi. Tentu hal ini perlu dibenahi dan di tata secara profesional oleh PMII Banyuwangi.

Pada sisi yang lain, untuk kian melebarkan eksistensi PMII Banyuwangi untuk bisa bergandengan tangan terhadap elemen lain, nantinya harus dikuatkan jaringan yang ada di PMII Banyuwangi. Tidak hanya untuk lintas sektor, akan tetapi juga nantinya multi sektor.

Pada akhirnya, juga nantinya adalah penguatan lembaga PMII sebagai organisasi. Nantinya PMII akan memiliki bergaining positioning yang kuat. Untuk mencapai ini memerlukan kerja bersama. Sosok Puri Indra Kusuma Dewi sangat siap dan mampu menjawab semua kebutuhan PMII Banyuwangi.

Kontributor : Ade
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment