Ketua PCNU, DPRD dan Aktivis Mahasiswa Pamekasan Tolak Keras Pembelajaran Full Day School

JATIMAKTUAL, PAMEKASAN,- Belum selesai kita membenahi masalah kurikulum yang kerap kali diacak-acak, kini muncul lagi dengan adanya wacana untuk anak sekolah sehari penuh (Full Day School), dengan alasan  pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan jaman yang begitu pesat.

Padahal, dengan adanya perubahan Full Day School ini malah menjadi beban dalam pendidikan karakter, sebagaimana termasuk didalam Nawacita untuk dilaksanakan dalam bentuk kebijakan kreatif, selaras dengan local wisdom yang tumbuh sesuai dengan kultur di masyarakat, sehingga tidak menimbulkan sebuah gejolak.

Selain itu, perubahan Full Day School ini, menjafi beban kerja guru, sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu. Maka, dengan adanya kebijakan 5 hari sekolah, 8 jam belajar di sekolah berpotensi besar kepada jumlah jam mengajar guru di sekolah yang melampaui batasnya, karena ini semua telah diatur dalam undang-undang yang dimaksud.

Lagi pula, tidak semua orang tua peserta didik bekerja sehari penuh, utamanya mereka-mereka yang berada di pelosok desa, mereka bekerja sebagai petani dan nelayan yang bisa menggunakan separuh waktunya dalam sehari. Nah dari situlah anak didik bisa berinteraksi sosial dengan lingkungan, karena tempat tinggalnya juga bagian dari proses pendidikan karakter, sehingga mereka tidak terjerat dari nilai-nilai adat tradisi dan kebiasaan yang sudah berkembang selama ini.

Maka dari itu, Pasca adanya perubahan Full Day School yang diterapkan oleh Pemerintah, banyak elemen-elemen Pemerintah, Ormas, Aktivis Mahasiswa dan masyarakat Kabupaten Pamekasan menolak keras adanya Full Day School tersebut, Sabtu (12/08/2017).

Seperti halnya yang disampaikan oleh Ketua PCNU Kab. Pamekasan, RKH. Taufik Hasyim, "Tolak 5 hari sekolah. Adanya imtihan, akhirussanah, lomba-lomba di akhir tahun menjelang ramadhan, pemilihan santri teladan, itu karena adanya Madrasah Diniyah. Santri bisa tahu cara sholat, cara wudlu', baca Al-Qur'an, juga karena Madraha Diniyah. Kalo sekolah sampai jam 4 sore kapan sekolah diniyahnya.....???," paparnya dalam sebuah foto status yang di unggah di Media Sosial Facebook.
Ismail, S.H.I., M.IP, yang juga menolak keras adanya Full Day School tersebut menyampaikan, "Anak Pesantren Tolak Full Day School," tulisnya dalam sebuah akun Facebook miliknya.
Adapun salah satu Aktivis Mahasiswa yang juga menolak mengatakan, "Tolak Full Day School. Presidenku..... Sebelum kita mengenal Pancasila, terlebih dulu kita mengenal Al-Qur'an. Sekolah Madrasah yang mengantarku mengenal Indonesia," tulisnya.

Sehingga berita ini diturunkan masih belom konfirmasi kepada pihak terkait, apakah sudah menerima akan Full Day School ini.

Pewarta : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment