THAIF : The Bleedy Town

JATIMAKTUAL- Islami: Posisi bola mata menceritakan apa yang dilakukan orang tanpa suara. Sekarang bola mataku sedang menunduk; term yang menggambarkan keadaan melihat ke bawah dan fikiran meracau. Aku menunduk bukan karena memastikan huruf yang kuketik tidak typo, aku menunduk karena aku sedang berfikir. 

Jarang-jarang aku mau menuliskan apa yang kufikir secara mendalam. I never like to admit that I was wrong. Ketika berfikir secara mendalam, nuraniku merintih, membuat hati rintik-rintik dan mata semakin perih saja. 

Nurani ku dengan bahasanya yang paling manusiawi bercerita dengan lembutnya tapi anehnya semakin lembut, semakin deras saja air mata keluar. 

Hidungku meler dan sejurus otak ku meminta tangan ku menarik beberapa tissue. Aku sedang pewe tapi kalau dibiarkan, bantal kesayanganku basah dan menjijikkan. 

Sungguh dilematis itu rumit walau bermula dari hal sederhana.

THAIF. Nama kota ini terlalu pendek untuk mewakilkan sejarah berdarah yang pernah terjadi di dalamnya. Aku seperti pesakitan saja membaca sejarah yang membuat tubuh Nabi lebam, kaki beliau berdarah. 

Belum juga cacian yang kalau aku ukur dengan kemampuan bersabarku yang remeh-remah emping, akan begitu membuat stress. 

Malaikat datang menawarkan bantuan‘balasan’, seandainya beliau berkata ‘Ya’ pada tawaran tumpahnya Jabal Abu Qubais (sejenis gunung sepertinya), niscaya ratalah penduduk resek itu. Arrghhh
Tapi apa jawaban Nabi? Jawaban yang membuat sesak bercampur haru; kepala manggut-manggut tatkala mengingat diksi Aisyah untuk menggambarkan kepribadian beliau; his shining-enchanting personality.

“Beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan”
Butuh pemahaman mendalam karena kata “Al-Qur’an” di sini serasa sempit. Aku hanya berkata “Oh… Berarti baik?” Karena aku belum pernah belajar tafsir. 

Sekedar membaca dan sesekali menengok terjemah. Susah merasuk karena tidak ditadabburi. Faktor lain adalah kerasnya hati. Astaghfirullah
Al-Qur’an. Satu ayat saja sudah mampu membuat jutaan orang berkumpul meminta pada Allah untuk dilengserkannya tirani sipit (yang bikin aku pengen nyemmek-nyemmek)
Al-Qur’an. Wa laa taqrobuzziina. Satu ayat yang selalu relevan hingga akhir zaman, Hingga kiamat. 

Zina tidak sekedar ditandai oleh hilangnya keperawanan tanpa akad, ditandai pula dengan jelalatannya mata untuk menatap lamat-lamat, pembicaraan sia-sia. Usaha pedekate omong kosong sampai mewabahnya reality show yang sebenarnya fake. Palsu tapi seolah seru karena diseru-seruin. 
Al-Qur’an. Bumi mengelilingi matahari. 

Teori revolusi, Bersuci, Berdagang, Berhutang, Etika masuk rumah orang, Mayat Fir’aun. Dua air yang satu asin lagi pahit dan yang lain tawar bersebelahan tanpa bercampur.

Begitu lengkapnya, Begitu mulianya dan semua ada di diri Rasulullaah, Kalau lagi futur, aku pasti ngeyel sambil ngayal ‘Mosok bisa gitu yak, manusia biasa niru beliau’.

Setelah ku toleh saudara-saudaraku yang begitu sabar, dermawan, tidak suka cemberut (hal yang sering aku lakukan atau otomatis terpancar kalau lagi bad mood), ih, mereka bisa
Lalu kuingat Imam Syahid Hassan Al-Banna, Syaikh Imam Yassin, dan yang lain. ih, mereka bisa juga total dalam beragama
Aku bergumam lirih ‘Mosok Rasul sudi yak, aku dianggap umat beliau?’.

Aku picik dan licik, Entahlah kasih sayang Allah seperti apa sehingga mengizinkanku dikelilingi orang-orang baik yang melangit
Aku jahat dan akhlakku bernanah. Aku melukai purifitas jilbab yang aku pakai namun aku tak kuasa melepasnya. 

Seperti ada yang melilit tanganku ketika ingin kutanggalkan mengingat cibiran di sana-sini. Seolah Allah ‘memelukku’ dan berkata “Hei… Aku memintamu berjilbab, Akhlak rombeng, masih mau ditambah dengan bertelanjang?”

Lalu aku merebahkan punggungku. Siti Maryam merebahkan punggung beliau; bersandar di pangkal pohon kurma ketika kaum memfitnah beliau berzina ketika mengandung Nabi Isa.
“Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan” (QS. Maryam: 23).

By : Laily Komaril Syafrilia

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment