STRATEGI JITU MENGATASI PENDAMPING DESA ABAL~ABALAN

Oleh ; Ahmad Annur

JATIMAKTUAL, ARTIKEL, - Pertumbuhan ekonomi desa dan perkembangan masyarakat desa dengan hanya mengandalakan kekuatan pendamping desa yang abal abal, dan penggunaan dana desa yang begitu besar dengan sembarangan, tanpa ada peningkatan kompetensi dan produktfitas pendamping desanya dan memperhatikan sasaran alokasi dana desanya, hanya akan mengakibatkan terjadinya perkembangan masyarakat yang semu, dan sangat rentan bila terjadi gejolak eksternal yang negatif.

Dilihat dari para pendamping desa saat ini, khususunya di kabupaten Bangkalan rata rata pendamping desa dikategorikan sebagai pendamping desa yang tidak berkompeten dan produktif, buktinya hingga saat ini tidak ada perubahan yang signifikan dari desa desa di kabupaten bangkalan yang dipelopori oleh pendamping desa. Padahal dengan adanya pendamping desa diharapkan pembangunan yang bersifat bottom-up benar benar terealisasi, hingga desa desa menjadi makmur dan mandiri.

Akibat tidak produktifnya pendamping desa tersebut,kucuran dana miliaran rupiah dari pemerintah pusat  untuk desa, sepertinya hanya menjadi  santapan kepala desa yang rakus dan memperkaya diri saja. Lebih lebih karena tidak tahu cara menghabiskan anggaran tersebut hingga membuat proyek dan kegiatan abal abal. Seperti halnya membuat perpustakaan desa dan taman baca masyarakat, yang ada hanya laporannya saja dan ini terbkti dibeberapa desa di Kabupaten Bangkalan. Sedangkan bentuk nyata dari perpusdes atau taman baca masyarakat tersebut tidak ada. Tidak hanya itu, tapi masih banyak lagi program rekayasa dari sebuah desa yang tujuannya hanya untuk menyerap anggaran. Misalkan membuat kegiatan fiktif dan pelatihan fiktif. Hal itu lagi lagi karena pendamping desanya kurang produktif, hingga banyak tidak tepat alokasi anggarannya. 

Permasalahan sebenaranya sebenarnya adalah , para pendamping desa dan perangkat desa serta kepala desa khususnya di kabupaten bangkalan tidak tergolong sebagai orang yang berpendidikan. Banyak  Ijazah Kepala desa hanya berangkat dari paket, perangkat desanya hanya modal pinjam ijazah dan pendamping desanya hanya titipan partai dan ormas tertentu. Yang pada akhirnya mereka gelimpungan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan karena tidak mempunyai kemampuan. 

Pendamping desa yang seharusnya mendampingi kepala desa dalam merumuskan pembangunan desa malah didekti dan mengajak kompromi dalam penyelewengan dana desa bersama kepala desa, dan perangkat desanyapun hanya menjadi pelengkap yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara itu, untuk mewujudkan desa yang sejahtera dan masyarakat yang berdaya sangat dibutuhkan tenaga ahli atau tenaga pendamping yang mampu memetakan potensi desa dan mampu mengembangkan potensi desa. Sehingga cita cita pemerintah mensejahterakan masyarakat dari bawah itu benar benar terwujud. Namun karena pemerintah desa dan pendamping desa serta perangkat desa masih jauh dari kesempurnaan dan tidak sesuai dengan harapan, maka menurut pandangan jack Rothman (1974) salah satu yang bisa dilakukan adalah partisipasi aktif yang luas dari seluruh masyarakat tingkat paling bawah (grassroot) dalam pengambilan keputusan keputusan kepala desa dan pelaksanaan tindakan tidakan pembangunannya.    

Selain itu, pendidikan People Center Development melalui  pelatihan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat adalah cara jitu untuk meningkatkan kompetensi dan produktifitas tenaga pendamping desa dan perangkat desa agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa dan cita cita kemakmuran desa itu benar benar terwujud. Karena mustahil bisa membangun desa dan memberdayakan masyaraat kalau dirinya sendiri belum berdaya dan belum mempunyai kapasitas  yang memumpuni. Maka peningkatan kualitas pendamping desa dan perangkat desa melalui pelatihan pendampingan dan pemberdayaan harus menjadi fokus pemerintah bangkalan saat ini. Karena mesin pencetak kualitas SDM adalah pendidikan dan pelatihan (lifelong learning) yang berkelanjutan.

Respon Pembaca.

1 comments:

Ahmad Annur531 said...

Muantaaf

Post a Comment