Ramadhan dan Transformasi Sosial


Oleh: M. Wasik (*)

Hantaran Wacana

Sudah lebih setengah bulan umat Islam dunia telah menjalani kewajiban puasa Ramadhan.  Bulan mulya dan penuh berokah (Syahrun Karim wa syahrun mubarok) ini menjadi ujung penantian dan pengharapan. Karena dalam bulan ini kualitas dan kuantitas ibadah berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Pada sisi lain bulan Ramadhan merupakan pengharapan bulan penghapusan segala dosa dan kesalahan. Hal ini linier dengan term Ramandhan itu sendiri, Ramadhan merupakan bentuk infinitive yang memiliki makna membakar, terik yang sangat panas. Dinamakan demikian karena saat diwajibkannya  puasa bulan pada saat itu cuaca di jazirah Arab sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering. Pada definisi lain, Ramadhan bermakna mengasah karna masyarakat jahiliyah pada itu mengasah alat-lat perang. Dengan demikian Ramadhan dapat maknai sebagai bulan mengasah jiwa, mengasah kejernihan hati, ketajaman pikiran sehingga dapat membakar kesalahan-dosa.

Tidak heran jika masyarakat Muslim dengan semangat dan antusias tinggi mengisi bulan mulya ini dengan berbagai macam kegiatan keagmaan; tadarus, tarawih, shodaqoh bahkan organisasi tertentu mengadakan pondok Ramadhan dan ritual keagamaan lainnya. Lagi-lagi karna barokah dan rasa ingin menghormati Ramadhan yang dicintainya. Baiklah, saya pun ikut senang dan apresiasi tradisi Ramadhan ini masih diperingati. Harapan dan doa kita semoga tradisi ini selalu dan senantiasa diperingti dan menjadi tradisi ditengah masyarakat Amin. Akan tetapi pertayaan yang harus kita jawab. Akankah peringatan Ramadhan ini hanya sebatas ritual keagamaan tahunan saja? Kita berpuasa satu bulan tidak makan dan minum, hanya sebatas itukah makna Ramadhan bagi kita? tadarus, tarawih, shodaqoh saja? Jika dengan demikian Ramadhan akan seperti yang kita lalui tanpa ada perubahan signifikan dan manfaat yang kita bisa ambil sama sekali dari makna Ramadhan ini.

Nilia-Nilai Ramadhan

Bulan Ramadhan juga dikenal sebagai Syahr al-Quran karna pada bulan inilah alquran pertama akali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ramadhan  bulan yang sangat sarat makna  yang kesemuanya bermuara pada satu titik kemengan. Yakni kemenangan dalam menahan hawa nafsu, egoisitas, keserakahan dan sifat-sifat yang tidak sesuai dengan prikemanusiaan. Selain dari itu Ramadhan juga harus dimaknai lebih humanistik dengan menunjukkan kesholehan individual dan sosial. Ramadhan juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersanaa dan kasih sayang antar sesama manusia.

Ramadhan merupakan madrasah dan kampus untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan yang bukan menjadi haknya. Ramadhan tidak hanya media vertikal tugas ibadah menahan tidak makan, minum. Tapi, lebih dari itu puasa adalah instrumen untuk saling memahami sisi kemanusiaan. Hal ini terlihat dalam hasits "Betapa banyak orang berpuasa, namun perolehannya dari puasa itu hanyalah lapar dan dahaga, dan berapa banyaknya orang yang melakukan qiyamul-lail, namun yang ia peroleh dari qiyamul-lail tersebut hanyalah kelelahan tidak tidur belaka." (HR Ahmad dan Ibn Majah).

Problem laten yang tidak berkesudahan di Indonesia kerap muncul diberbagai sektor;  di sektor ekonomi nilai tukar rupiah yang melemah, harga kebutuhan pokok masih melangit. Disektor politik yang lebih menampakan budaya pragmatis, budaya demoktaris transaksional dikalangan pejabat politik. Pada sisi lain mengalirnya uang negara yang sema sekali bukan untuk kepentingan rakyat, sampai detik ini masih terus terjadi.  Semua persoalan bangsa ini seakan menjadi sajian sehari-hari sejumlah sosial-media.

Dalam konteks inilah, aktualisasi nilai-nilai ibadah Ramadhan menemukan relevansinya. Ritual puasa Ramadhan yang disimbolkan dengan menahan rasa lapar dan dahaga, serta segala hal yang dapat membatalkan ibadah puasa dapat dimaknai secara luas. Selain sebagai instrumen vertikal teosentris seorang hamba terhadap penciptanya. Juga harus dapat diartikan dan dipraksikan sebagai media menumbuhkan sikap kepedulian akan eksistensi kemanusiaan serta solidaritas sosial terhadap sesama (horizontal antroposentris).

Makna Trasformatif Ramadhan

Al-Quran sebagai petunjuk yang rohmatal lil alamin selalu menekankan aspek kepedulian sosial. Dengan istilah lain, firman Tuhan diwahyukan bukan untuk kepentingan tuhan, tetapi diperuntukan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruh alam. Makna taskiyatul al-nafs (penyucian diri) sekarang ini tidak lagi bisa dipahami seperti orang-orang terdahulu memahaminya yakni dengan cara menarik diri dari pergumulan dan pergulatan sosial-kemasyarakatan. Makna taskiyatul al-nafs era kontemporer sangat terkait dengan keberadaan orang lain, lingkunga hidup dan sosial sekitar. Sebagai contoh, Ramadhan dalam Islam selalu terkait dengan keberadaan orang lain. Sesungguhnya, penyucian pribadi atau ritus-ritus individual yang tidak  memiliki dampak dan makna sosial sama sekali kurang begitu bermakna dalam struktur bangunan sosial keagamaan Islam yang universal.

Sebesar apa Ramadhan yang dilakukan selama satu bulan berimplikasi memancarkan sinar radiasi positif dalam membentuk keshalehan pribadi dan memperkokoh keshalehan sosial? Memang benar sabda diatas Nabi banyak orang berpuasa tetapi mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga  intisari dan   hikmah  puasa Ramadhan belum mampu menyentuh kesadaran paling dalalm dan belum mampu membentuk sosok pribadi manusia beragama dan, beriman secara matang, utuh, tangguh dan kritis.

Ibadah puasa merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Singkatnya, ritual ibadah puasa mengajarkan kita untuk melakukan transendensi, merefleksi serta mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial.

Disaat bangsa Indonesia sekrang ini sedang terkangkit penyakit masyarakat yang tidak peduli (careless society) masyarakat yang acuh terhadap lingkungan sekitar, tidak peduli pada nasib kiri-kana. Dengan demikian, Ramadahan sejatinya berorientasi ketuhanan dan kemanusiaan yang berakar pada tiap individu harus teraktualisasi dalam tata nilai perilaku sehari-hari. Hanya dengan transformasi nilai-nilai ilahi ke dalam ranah realitas sosial inilah, akan terbentuk masyarakat yang saleh, baik secara ritual maupun sosial.

Ramadhan dan semangat Trasformasi Sosial

Asghar Ali Engineer seorang tokoh teologi pembebasan Islam dalam karyanya  mengatakan ajaran tauhid yang disampaikan Nabi tidak hanya mengandung makna teologis tentang konsep monotiesme Tuhan, tetapi juga memuat makna sosiologis sebagai kesatuan sosial. Senada dengan itu Maulana Farid Essack dengan gagasannya berteologi bukan berarti mengurusi urusan tuhan semata, neraka, surga dan lain-lain. Tuhan adalah zat yang tidak perlu diurus, banyak mengurusi Tuhan itu adalah pekerjaan sia-sia (mubazir). Teologi harus dipraksikan, bukan digenggam erat-erat untuk tujuan kesalehan pribadi. Akan tetapi dengan mendekati dan mengasihi mahluknya, kita juga telah mengabdikan diri kepada Tuhan.

Disinilah teologi harus dirubah peran dan fungsinya  terintegrasi dengan dinamika social menjadi teologi kontekstual, sebuah teologi yang dipahami dan didialogkan secara dialektis sesuai dengan konteks problematika umatnya dalam berhadapan dengan dinamika social, ekonomi, budaya maupun politik. Teologi kontekstual merupakan perkembangan teologi yang lebih bersifat praksis, dimana kaum beriman melakukan sebuah tindakan yang tidak semata bersifat ukhrowi (vertikal-Teosebtris). Akan tetapi, seorang muslim sejati dengan teologinya membangun kedamaian, keadilan, egalitarianisme didunia ini. Dengan kata lain, kaum beriman diharapkan dengan teologinya membangun kerajaan Tuhan dibumi ini, agar bumi ini penuh dengan kehidupan surga.

Kedudukan tauhid menduduki peringkat pertama, paling sentral dan paling esensial dalam ajaran Islam. Kesediaan umat Islam untuk menahan rasa lapar, dahaga serta segala hal yang dapat membatalkan ibadah puasa merupakan simbol peleburan ego manusia, pelepasan diri dari segala bentuk nafsu jasadi-duniawi, sekaligus menegaskan pembebasan (al-hurriyah) manusia dari penghambaan terhadap materi. Hal ini sesuai dengan misi tauhid yang diemban setiap manusia, yaitu membebaskan hamba dari menyembah sesama hamba menuju penyembahan terhadap Tuhan (Tahrirul ’ibad min ’ibadatil ’ibad ila ’ibadati Rabbil ’ibad). Kedua, sikap persamaan harkat dan martabat sesama manusia. Tidak ada superioritas dan inferioritas antara satu individu dengan individu lain, satu masyarakat dengan masyarakat lain, bahkan satu bangsa dengan bangsa lain. Semua manusia sama dihadapan Tuhan, hanya tingkat ketakwaannyalah yang membedakan satu sama lainnya. Dalam wacana Marx tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Karna ketika ada heriarkis atas-bawah maka akan ada hegemoni dan penindasan dan ini relasi tidak manusiawi.  

Kesadaran serta penghayatan yang dalam akan makna ibadah Ramadhan ini pada gilirannya akan mengikis habis sikap kepribadian terbelah  (split integrity) yang kerap menghinggapi jiwa manusia. Gejala split integrity ini begitu mencolok dewasa ini, di satu sisi seseorang terlihat sebagai sosok yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok secara moral. Pelbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang serta sederet tindak kejahatan lainnya. Di sinilah, nilai ideal moral ibadah puasa memainkan perannya. Ramadhan mengajak untuk menjadi seorang muslim dan mukmin sejati bukanlah sebatas yakin dan percaya kepada Allah semata akan tetapi lebih dari itu seorang pribadi yang menegakan keadilan, meretas kezaliman.

Pesan tersebut adalah bagaimana konsep beribadah yang tidak hanya sebatas ritual keagamaan untuk mengugurka kewajiban. Akan tetapi, beribadah tersebut menjadi transformasi social (reklektif-kontemplatif). Nabi Muhammad adalah suri tauladan yang sholatnya paling bagus, puasanya paling mapan, tetapi apakah nabi berhenti disini? Tentu tidak, beliau selalu membela umatnya yang lemah. Akhirnya, di tengah kegamangan bangsa ini yang sedang dirundung duka, lewat media Romadhan semoga hadir ke tengah-tengah kita manusia-manusia tauhid yang sadar akan eksistensi kemanusiaannya, yang mampu menyinergikan antara komitmen vertikal-spiritual dan horisontal-sosial demi terciptanya masyarakat yang berorientasi pada nilai-nilai ilahiah dan nilai-nilai insaniyah secara bersamaan. Singkatnya Ramadhan tidak hanya dipraksikan dan dimaknai hanya sebatas kewajiban saja, lebih dari itu sebagai basis implementasi dari teologi antroposentrisme transendental untuk memanusiakan-manusia.

(Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Jember dan kader PMII Rayon Syariah)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment