Pendidikan Berbasis Kreatifitas

Oleh: Mohammad Rizkiyadi.
(Mahasiswa STAIN Pamekasan, Semester 6, Jurusan Tarbiyah, Prodi PBA).

JATIMAKTUAL, ARTIKEL,- Menurut Hasan Langgulung, pendidikan merupakan proses interaksi antar individu maupun masyarakat untuk pengembangan potensi dan pewarisan budaya.  Pernyataan di atas tak berlebihan untuk dilontarkan. Melihat realita yang terjadi pada dunia pendidikan saat ini bukan lagi bertujuan untuk mengemabangkan potensi seseorang, seperti yang termaktub pada pendapat Hasan Langgulung dalam meninterpretasikan arti pendidikan.

Saat ini, pendidikan ibarat mesin pembuat robot yang nantinya siap untuk dikendalikan oleh remote kontrol. Apa yang telah ditanamkan oleh proses pendidikan sekarang, merupakan remote yang memegang kendali cara berpikir pelajar. Pendidikan mencetak mereka bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk kepentingan-kepentingan yang bukan menjadi cita-cita mereka sejak awal mengenal pendidikan.

Pasalnya, semakin tinggi pendidikan seseorang cita-cita yang mereka impikan semakin rendah. Di mana sewaktu masih duduk di sekolah dasar, mereka menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Namun setelah menduduki perguruan tinggi, cita-cita sewaktu sekolah dasar telah dilupakan. Mahasiswa jika ditanya akan menjadi apa nantinya setelah wisuda, mereka menjawab bahwa yang terpenting dia memiliki pekerjaan tetap dan memberi manfaat bagi orang lain.

Sikap di atas merupakan kemunduran yang terlampau jauh. Pendidikan yang seharusnya mewujudkan cita-cita seseorang, justru membunuh dan membuangnya jauh-jauh ke tempat yang tidak akan pernah ia peroleh lagi dari cita-cita itu.

Hal tersebut dikarenakan,  proses pendidikan yang berlangsung saat ini tidak selaras dengan dengan tujuan pendidikan. Pendidikan yang memiliki salah satu maksud untuk mengembangkan potensi peserta didik, pada prosesnya justru mengarahkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang tunduk pada aturan kehidupan.

Dimana kehidupan yang berlangsung saat ini, bagaimana seorang individu mampu bertahan dan bersaing dalam kancah global. Tentunya dengan memanfatkan potensi yang ia miliki. Bukan lantas ia harus menyesuaikan kemampuannya dengan membunuh potensi yang telah Tuhan anugerahkan.

Mengaitkan dengan realitas kehidupan yang berjalan sekarang, di mana seseorang dituntut untuk melakukan terobosan-terobosan baru untuk memperbaiki kehidupannya di masa mendatang. Dan terobosan-terobosan baru itu hanya akan tercipta dengan memanfaatkan potensi yang ia miliki. Yang pada titik ini berupa kreatifitas.

Kreatifitas menurut Torrence, sebagaimana dikutip Rahmat Aziz dapat dipahami dengan empat pendekatan. Yakni,  person, process, produtc, dan press. 
Person dalam hal ini merupakan pelajar yang pada dasarnya telah dianugerahi Tuhan satu potensi berupa kreatifitas. Process merupakan upaya/pembelajaran yang bercorak kreatif, yang dalam pendidikan, guru lah yang berperan untuk menciptakan proses tersebut. Product ialah hasil dari penerapan proses kreatif terhadap pelajar, baik berupa sikap, cara berpikir, atau produk berbentuk materi yang bernilai kreatif. Sedangkan press merupakan lingkungan yang dibangun guna mendukung terhadap perkembangan kreatifitas pelajar, bisa berupa sekolah, atau bahkan lingkungan yang akan di hadapi oleh pelajar nantinya.

Pendidik harus menyadari sepenuhnya bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan kecakapan yang berbeda. Kesadaran itulah yang akan mendorong pendidik untuk menerapkan proses pembelajaran yang variatif pula. Proses pembelajaran yang monoton akan berdampak pada dua hal, di samping psikologis pelajar juga akan mengekang kreatifitas mereka.

Proses pembelajaran yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan daya jangkau pelajar dalam menerima materi pelajaran. Metode yang variatif sudah merupakan tanggung jawab pendidik yang tak bisa ditawar lagi. Pasalnya, dengan cara itulah pendidik cukup terbantu menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Juga dengan metode yang variatif pula, kreatifitas pelajar tidak akan dibunuh perlahan.

Apalagi stereotipe bahwa pelajar yang mahir dalam bidang ilmu eksakta dianggap paling cerdas, dan mereka yang sulit mencerna materi-materi eksakta dianggap bodoh. Stereotipe tersebut semakin membuat pelajar membuang jauh-jauh apa yang telah menjadi keahliannya, untuk kemudian berusaha menjadi apa yang diharapkan stereotipe tersebut.

Seorang pendidik harus membuang jauh-jauh stereotipe tersebut. Pendidik harus memiliki pandangan bahwa setiap anak didiknya pasti mengusai satu bidang tertentu yang tak semua orang bisa melakukannya. Pendidik harus mencintai perbedaan. Bukan hal yang mustahil lagi bahwa pendidikan tidak lebih dari pabrik pembuat robot, jika stereotipe yang seharusnya tidak pernah ada itu diberlakukan.

Demikian pula dengan lingkungan. Bagiamana lingkungan proses pembelajaran, mendorong terciptanya  pelajar-pelajar kreatif, yang tengah menjalani proses pembelajaran yang kreatif pula. Kebijakan lembaga pendidikan diupayakan tidak menjadi penghambat kreatifitas siswa.

Dalam lingkungan perguruan tinggi, nampaknya lingkungan yang diharapkan tersebut sudah sulit dijumpai. Pasalnya, Sistem Kredit Semester ditambah dengan tekanan tugas-tugas yang sulit mendukung terhadap kreatifitas mahasiswa, membuat pelajar-pelajar di perguruan tinggi hampir frustasi. Belum lagi mengingat soal sulitnya lapangan kerja, yang membuat mereka takut menggantungkan cita-cita mereka setinggi mungkin.

Padahal, jika lingkungan dan proses pendidikan diupayakan untuk mengembangkan potensi kreatif mereka, sulitnya lapangan kerja bisa saja teratasi. Karena lapangan kerja hanya tercipta oleh pribadi-pribadi kreatif. Pelajar pun nantinya mampu bersaing dalam kancah global dengan modal kreatifitas mereka.


Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment