KETIKA SANG KIAI MENJADI TONTONAN MASYARAKAT

Oleh : HABIBULLAH
Mahasiswa PBA STAIN Pamekasan
Pada dasarnya kyai adalah seseorang ataupun tokoh yang mempunyai ilmu pengetahuan khususnya dibidang agama yang menjadi panutan, imam dan uswah hasanah , mampu mengarahkan, meluruskan, apabila hukum hukum syariat  mulai  tergelincir dari rel yang telah ditetapkan. Baik pada diri sendiri maupun orang orang di sekitarnya. Namun dari penjelasan tentang kyai di atas terdapat permasalahan pada  salah seorang kyai (KS) nama samaran, di pelosok desa perbatasan Sumenep-Pamekasan. Adanya permasalahan tersebut karena faktor unek-unek terhadap (MA) nama samaran. Dia merupakan tetangga kyai tersebut dan rumahnyapun berada di belakang rumah kyai tersebut.
 
Permasalahan ini bermula ketika (MA) selesai membuat pondasi untuk membangun rumah impiannya yang dia idamkan sejak dulu  dan (MA) rencananya akan meneruskan pembangunan rumahnya setelah panin tembakau karena (MA) sendiri  berharap harga tembakau tahun ini mahal sehingga impiannya bisa terwujud karena (MA) sendiri terhalang oleh sulitnya ekonomi yang mengakibatkan pembangunan rumahnya harus tertunda.
sehubungan dengan kendala tersebut, keseharian (MA) hanya memperbaiki dan membersihkan sekitar area dan serambi rumahnya. Pada saat itu pula (MA) memperbaiki batas wilayah  rumahnya (TABUN/ PAREKIH) yang berdampingan dengan rumah sang kyai (KS) dengan menggunakan bahan (SARASSA’SEMEN , AIR, DAN PALU BESAR) yang digunakan (MA) untuk memperbaikinya agar (TABUN/ PAREKIH) menjadi kuat dan tidak mudah dikikis air  ketika musim hujan.
 
sebelum memulai pekerjaanya (MA) memanggil (KS) yang saat itu berada di dapurnya untuk memastikan batas wilayah yang akan dia perbaiki apakah sudah benar miliknya atau sebaliknya karena (MA) sendiri khawatir jika sudah selesai di perbaiki batas tersebut  tidak sesuai dengan batas yang telah tetapkan di sertifikat tanah yang telah di buat sebelummnya. namun (KS) enggan memenuhi permintaan (MA) untuk memastikan  hal tersebut. Akhirnya (MA) melanjutkan  pekerjaannya sehingga dalam  waktu  satu  minggu (MA) menyelesaikan  pekerjaannya tersebut tanpa bantuan orang lain dan menghabiskan biaya sebesar delapan ratus ribu rupiah.
 
Hari haripun silih berganti hingga pada akhirnya kekhawatiran (MA)pun terjadi  mengenai batas tanahnya yang ia khawatirkan.dan pada saat itu .(MA) sedang  duduk di  sekitar area rumahnya. Tak lama kemudian datanglah  sang kyai atau (KS) dan menghampri (MA) yang sedang duduk, dan berkata !( pungkar-pungkar tabun reah keng montak ebhungkar ekepek pumih eppak en be’en,) mendegar hal tersebut MA)pun kaget atas ucapan (KS) yang begitu menyayat perasaannya, dan (MA)pun mulai angkat bicara dengan hal tersebut (ghuleh pon lasrtareh apareng oning sabelummah alakoh parekih nikah! ma’puruh samangken se etemmoah chek kaleroh, guleh tak ngube tabun nikah, nikah pakkun sekonah mun anikah sala ma’kik mangken se etemmuah ma’tak sappen ki odi’en eppak ma’taker adentos matenah  eppak se etemmuah chek sala ) keributan kecilpun terus terjadi sampai pada akhirnya (MA) pun melaporkan hal tersebut ke kepala desa setempat untuk memanggil tim AGRARIA (badan urusan pertanahan) untuk mengecek kembali data pengukuran tanah (SERTIFIKAT TANAH) yang telah ditetapkan sebelumnya dan mengukur kembali sengketa tanah antara (KS) dan (MA). tiga hari kemudian datanglah tim AGRARIA, pengukuranpun dilakukan dan disaksikan ratusan masyarakat untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, dan kebenaranpun terungkap setelah pengukuran dilakukan,batas tanah yang diperbaiki oleh  (MA) adalah benar adanya, dan tidak sedikitpun menyalahi aturan ataupun kententuan sebagai mana yang telah tercantum di sertifikat tanah yang dibuat sebelumnya,beberapa menit kemudian,salah seorang sesepuh dari masyarakat setempat meminta (KS) dan (MA), untuk saling memaafkan atas segala hal yang telah terjadi diantara keduanya, akhirnya merekapun saling memaafkan yang di tandai dengan makan bersama dengan kepala desa,Tim AGRARIA dan sebagian masyarakat dirumah (MA),situasipun menjadi tentram dengan adanya makan bersama tersebut.

Namun, tiga jam kemudian setelah kepala desa dan tim AGRARIA meninggalkan lokasi tersebut,(KS) kembali mulai mengungkit-ngunkit tentang sengketa tanah yang baru selesai di ukur. (KS) kembali  meminta (MA) untuk membongkar batas tanah tersebut dan masyarakatpun kembali berdatangan menyaksikan keributan kecil yang terjadi diantara mereka, dan pada akhirnya menantu (KS)pun turun tangan mengatasi hal tersebut, yang pada akhirnya menantu (KS) memutuskan untuk tidak membongkar batas tanah tersebut dan meminta maaf atas kekhilafan mertuanya(KS). Namun paman (MA)pun tidak memaafkan begitu saja,dia melaporkan kekepala desa untuk menindak lanjuti kasus  baru tersebut.
Kepala desapun serentak kaget mendengar laporan tersebut  karena kepala desa beranggapan bahwa dirinya diremehkan oleh (KS) yang seolah-olah melecehkan kepala desa dan tim AGRARIA yang seakan akan (KS) tidak mempercayai atas pengukuran batas tanah yang telah dilakukan disertai dengan ketetapan yang telah ada.diapun (KADES) memutuskan kasus tersebut untuk diselesaikan dibalai desa.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment