Karena Hari Raya Takbir Dilarang Iwan Bule

By Djoko Edhi Abdurrahman (Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum, PBNU, dan mantan Anggota Komisi Hukum DPR).

Hari raya idul fitri disebut hari raya takbir. Yaitu mengumandang kan Allahu Akbar. Ini adalah kalimat paling sakti dalam Islam.

Kalimat Allahu Akbar masuk ke dalam struktur ubudiyah. Antara lain sholat, tiap gerakannya menyebut Allahu Akbar. 

Tak ada kalimat ini dalam Al Qur-an. Pertama kali digunakan oleh Bilal sebagai kumandang utk menyeru sholat berjamaah yang disebut adzan. 

Di Masjid Nabawi Madinah, tulisan Allahu Akbar hanya di satu tempat, yaitu di neon sign di atas raudhoh (makam Rasulullah). Harus antre memasuki raudhoh. Bagi wanita adalah malam hari. 

Saya juga tak menemukan kalimat Allahu Akbar di Masjidil Haram. Maksud saya sebagai simbol semiotika semantik pada arsitektur. 

Tuhan menurut Derrida, tak ada pada realitas. Jadi, simbol-simbol itu harus didekonstruksi untuk sampai ke hiper realitas di mana tuhan bersemayam. 

Allahu Akbar adalah hiper realitas. Baru ditemukan pesan aslinya setelah didekonstruksi dengan semiotika semantik. Tak sampai Surassure dan Little John ke sana. Hanya Derrida.

Takbir adalah simbol semiotika. Tapi tuhan baru ditemukan setelah dekonstruksi semantik. Simbol-simbol komunikasi tentang Takbir pada Surrassure dan Little John harus didekon lebih dulu. Simbol dalam Surassure dan Jhon, mendiskripsikan realitas. Karenanya simbol-simbol itu harus dihancurkan, kata Derrida, maka muncul banyak pesan di situ. Pesan-pesan ini, adalah hiper realitas. Takbir adalah simbol itu, tapi Allahu Akbar bermukim di hiper realitasnya. 

Di surat An Nur, kata cahaya di atas cahaya adalah hiper realitas. Hanya ilmu tasawwuf yang mampu masuk ke sana: penciptaan Mim!

Allahu Akbar adalah seruan Mim pada saat akhir di tingkat cahaya di atas cahaya, sebelum nebula panas dan padim mendingin, 6 hari 5 malam. 

Kalimat Allahu Akbar digunakan oleh Pasdaram, pasukan berani mati Iran ketika darah sudah mendidih. Waktu demo 20 Mei 1998, Soeharto lengser ketika para demonstran menyeru Allahu Akbar. Lagi dan lagi, lebih keras. Ngeri. 

Tapi hari ini, takbir dilarang Jenderal Iwan Bule. Ini pertama kalinya larangan takbir sejak Indonesia merdeka! Jenderal Iwan Bule menantang kesaktian Allahu Akbar dengan pepatah petitih reason ala radikalisme sekularnya Harvey Cox.

Mestinya Bani Allahu Akbar melawan dong. Agar sikon menjadi SOB (darurat militer). Ngeri.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment