DINAMIKA SOSIO-KULTURAL KEAGAMAAN MASYARAKAT MADURA (Kiprah dan Eksistensi Khodam Dalam Pesantren di Madura)

Share via Whatsapp

Oleh : Wardatul Hasanah
Mahasiswi STAIN Pamekasan Madura

JATIMAKTUAL, ARTIKEL, - Dinamika social ke-Agamaan masyarakat Madura, tidak bisa di pisahkan oleh dunia pesantren, karena lembaga pesantren sudah mendarah daging bagi kehidupan masyarakatnya, sebagai salah satu faktanya adalah populasi pesantren yang menunjukkan terbanyak di tingkat jawa timur adalah Madura. Berdasarkan data peneliti kumpulkan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa di Jawa Timur terdapat + 6000 lembaga pesantren, baik berskala Nasional (Pesantren Besar), Regional (pesantren berskala menengah), dan skala keci (pesantren yang kecil), dan + 2000 lembaga pesantren itu ada di wilayah Madura.1 Populasi ini sudah menjadi bukti bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang di pengaruhi oleh pesantren.

Fakta yang kedua adalah segala bentuk kegiatan dan kebutuhan masyarakat Madura, mulai dari tingkat petani dan nelayan hingga pejabat Tinggi Negara pasti melibatkan peran seorang Kiai. Sedangkan kiai merupakan salah satu unsur dalam dunia pesantren. Sebagaimana di jelaskan oleh Mastuhu bahwa dalam dunia pesatren sedikitnya terdapat beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya: 1) kiai dan keluarganya, yang berfungsi sebagai pemimpin (leader) dalam lembaga pesantren, 2) para asatidz, keberadaan mereka sebagai Asisten kiai dalam menjalankan tugas-tugas kependidikan ataupun kepesantrenan, 3) para santri sebagai peserta dalam melaksanakan tugas kependidikan, 4) masjid atau musholla yang berfungsi sebagai tempat melaksanakan kegiatan ibadah dan pendidikan, 5) kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang berfungsi sebagai bahan kajian atau materi wajib dalam belajar ilmu ke-Agamaan di pesantren, 6) adanya bilik-bilik pondok sebagai tempat para santri beristirahat setelah mereka belajar, 7) adanya Khodam atau (Asisten kiai),2 eksistensi mereka dalam pesantren adalah sebagai Asisten kiai (pimpinan pesantren) dalam menjalankan tugas-tugas kepesantrenan, dan lain sebagainya.

Masing-masing unsur teresebut sebenarnya memiliki nilai dan ke-unikan tersendiri dalam menjalankan peranan dan tugasnya masing-masing, namun selama ini ada yang belum

Data ini diperoleh dengan hasil wawancara dengan pegawai Kemenag Pamekasan bagian kepesantrenan yaitu Bapak Nawawi, MM.

Mastuhu menjelaskan bahwa dalam pesantren sedikitnya terdiri dari kiai, ustadz, santri dan pengurus meraka di kelompokkan kedalam katagori pelaku, kemudian beberapa unsur perangkat, yaitu perangkat keras, dan perangkat lunak, perangkat keras diantaranya adalah rumah kiai, gedung sekolah, tanah untuk berbagai keperluan pendidikan,kantor, aula, koprasi, keamanan dan pelatihan keterampilan dan lain sebagainya. Sedangkan perangkat lunaknya adalah tujuan, kurikulum, sumber belajar, kitanb kuning, buku-buku dan sumber belajar lainnya, cara mengajar seperti (bandongan, sorogan, halaqoh dan menghafal) serta evaluasi belajar mengajar. Hal ini bias dilihati di Mastuhu, Dinamika system pendidikan Pesantren, (Jakarta: Paramadinah, 1994), 58.

 tersentuh secara mendalam oleh para peneliti terdahulu, yaitu adanya kiprah dan eksistensi khodam dalam dunia pesantren.

Secara definitive khodam diambil dari kata bahasa Arab dari kata khodam yang berarti pelayan atau pembantu.3 Jenis pembantu laki laki maupun perempuan sama saja penyebutannya yaitu khodam.4 Dalam dunia pesantren khodam terdiri dari beberapa kelompok, berdasarkan tugas dan kewajiban mereka masing-masing, misalnya: 1) bertugas sebagai supir pribadi kiai, supir keluarga kiai dan supir umum, 2) bertugas sebagai penerima tamu dan melayani tamu, 3) ada yang bertugas di kebun untuk bercocok tanam dan menjaga sawah, 4) ada yang bertugas untuk menjadi mediator antara para pengurus dan pengelola pendidikan yang ada di bawah naungan pesantren, 5) ada yang bertugas mengurus bangunan pesantren, 6) ada yang bertugas menjaga keamanan pesantren, 7) ada yang bertugas untuk memasak di dapur, dan lain sebagainya.

Khodam, jika ditinjau dari sisi profesionalisme pekerjaan mereka adalah orang yang mempunyai pendidikan rendah dan tidak mempunyai kompetensi sehingga level pekerjaan mereka adalah level pekerjaan yang paling bawah dengan gaji yang juga rendah, sehingga kemudian menyisakan banyak persoalan sosial, seperti masih belum Balance-nya hak mereka sebagai pekerja dibandingkan dengan tugas dan kewajiban yang harus mereka selesaikan, karena keberadaan mereka hanya untuk bekerja dan tidak untuk mendapatkan upah yang layak dan pantas dengan bidang pekerjaan yang mereka tekuni.

Padahal dalam Islam, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa mereka para pekerja termasuk juga Asisten dalam konteks ini, mereka harus dibayar sebelum kering keringat mereka,5 ini membuktikan bahwa betapa tingginya Islam dalam menghargai profesionalisme kerja seseorang.

Disisi yang lain, khodam merupakan suatu perwujudan dan perwakilan seorang kiai di dalam pesantren. Sebagai salah satu contohnya adalah ketika seseorang yang ingin bertemu

Al-Munawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Jakarta: Paramadina, 2000), 232.

Khadam bagi kalangan paranormal adalah makhluk halus dari jenis jin yang menjadi pembantu manusia. Qorin adalah teman gaib dari bangsa jin yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi teman kita semenjak bayi. Sehingga qorin ini banyak yang menyebut sebagai sedulur papat. Rijalul Gaib diambil dari kata rijal yang artinya laki-laki dan gaib, yang berarti tidak kasat mata, artinya orang mulia dari bangsa jin. Sebab orang timur tengah menyebut seorang bangsawan atau seorang yang mulia dengan sebutan rijal (orang laki-laki). Jin adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dari unsur api, sama seperti iblis atau setan. Hanya saja jin sudah mengenal agama seperti manusia dan kehidupannya juga seperti manusia. Jadi menurut kami khadam, qorin, rijalul gaib dan jin adalah makhluk halus dari bangsa jin. Namun ada sebagian mengatakan Rijalul Ghaib adalah roh wali, kiyai dan sebagainya. Lihat di (http://www.khodammustika.com/artikel.html?id=pengertian_khodam, qorin, dan_ rijalul_ghaib).

5Nabi SAW juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari „Abdullah bin
„Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُوُقرَعَ فَّجَِي نَْأ لَبَْق ُهرَجَْأ ريَجَِلأا اوُطعَْأ
“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

kiai, maka mereka harus menghadap khodam terlebih dahulu sebelum bisa bertemu dengan kiai, sehingga pada posisi ini khodam dapat berfungsi sebagai penyambung atau mediator antara kiai dengan masyarakat umum, baik dalam lingkup pesantren maupun masyarakat secara umum.

Berdasarkan pengamatan sementara peneliti, persoalan khodam ini menjadi sorotan tersendiri bagi masyarakat kampus, masyarakat pesantren dan masyarakat pada umumnya, pasalnya, khodam terkadang memerankan peranannya sebagai penghubung antara kiai dengan dunia luar (masyarakat kampus, masyarakat pesantren dan masyarakat pada umumnya), sehingga dia tampil sebagai representasi kiai yang kemudian seolah-olah mereka lebih tinggi dari level seorang rektor sekalipun. Padahal hakekatnya, mereka adalah sebagai pekerja professional yang tidak balance antara hak dan kewajiban mereka.

Dinamika yang demikian unik ini, menurut peneliti cukup penting untuk dikaji dan diteliti secara serius dan mendalam, mengingat fakta-fakta sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa khodam sebagai manifestasi dari seorang kiai, dimana posisi khodam ini mempunyai peran yang cukup besar dalam mempengaruhi sebuah kebijakan dari sang kiai dalam memutuskan suatu persoalan atau perkara, namun disisi yang lain khodam ini secara devinisi oprasional adalah pembantu dan pekerja professional yang masih belum imbang antara upah atau gaji dengan pekerjaan atau kewajiban mereka.

Maka dari itu, kesenjangan dari devinisi khodam dengan realitas inilah yang perlu di pertegas dan dicarikan solusi alternatifnya, sehingga memberikan konstruksi pengetahuan yang baru dan jelas terkait dengan fenomina khodam ini, selain itu, peneliti juga berusaha untuk membuktikan apakah lembaga pesantren sebagai basis pendidikan Islam, dan sebagai konstruktor budaya yang Islami, sudahkah melaksanakan hal-hal yang sesuai dengan tuntutan dan ajaran Agama Islam yang sebenarnya, khususnya dalam konteks eksistensi khodam sebagai Asisten kiai dan sebagai anggota masyarakat sosio-kultural yang turut andil dalam kiprah pesantren kedepan, sehingga hal ini tidak lagi menjadi sejarah kelam yang terus berkelanjutan. Dalam kegiatan penelitian ini, peneliti juga berharap akan menjadikan kegiatan ini sebagai nilai tambah bagi pengembangan ke-ilmuan, khususnya masalah sosio-kultural yang ada dalam dunia pesantren, sehingga hasil penelitian ini akan bisa menjadi sebuah bahan referensi dan rujukan atau paling tidak tambahan wawasan dari satu sisi tentang dunia pesantren lebih khusus yang terkait dengan eksistensi khodan ini. Oleh karena itu, peneliti berinisiasi untuk memberikan tema penelitian ini dengan “Dinamika Sosio-Kultural

Keagamaan Masyarakat Madura (Kiprah dan Eksistensi Khodam dalam Pesantren di

Madura)”.

A. Pesantren dan dinamika sosial

Dalam mengkaji suatu permasalahan seharusnya didahului oleh pengetahuan dan asumsi dasar tentang permasalahan yang akan dikaji tersebut. Meskipun Mark Weber pernah mengkaji problematika fenomena keber-Agamaan dengan klaim bahwa tidak perlu memulai dari definisi Agama, karena Agama itu sendiri akan terdefinisikan dengan sendirinya setelah usai dilakukan pengamatan terhadap gejala-gejala keber-Agamaan dalam masyarakat, namun secara objektif, mereka sulit menerima argumen Weber tersebut.

Karena pada taraf yang paling awal, ketika dia mengamati gejala-gejala kehidupan keberagamaan, maka sesunggunya dalam alam bawah sadarnya, dia telah memiliki persepsi dan konsepsi tentang agama itu sendiri, seberapun sederhananya. Sehingga demikian, perbincangan soal Pesantren dan dinamika sosial, mereka akan terjebak dalam konflik yang tidak berpenghabisan, manakala tidak ada kesamaan antara persepsi tentang ontologi pesantren tersebut.

Sedangkan pondok berasal dari bahasa arab yaitu funduq6 yang artinya ruang tidur, asrama atau wisma sederhana,7 Sedangkan dalam istilah lain dikatakan bahwa pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata santri berarti murid dalam Bahasa Jawa. Sedangkan Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (قودنف) yang berarti penginapan.8

Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe- dan akhiran–an,9 dan dapat diartikan tempat santri belajar. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa kata santri berasal dari kata Cantrik bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan, Istilah santri juga ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji.10 Dalam kamus besar bahas Indonesia, pesantren diartikan sebagai asrama, tempat santri, atau tempat murid-murid belajar mengaji.11

Sedangkan secara istilah pondok pesantren adalah lembaga pendidikan orang-orang Islam,12 dimana para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik yang bersifat tradisional, dan kitab-kitab umum, bertujuan untuk



Abid Al-Bisri, Munawwir A Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Jakarta: Balai pustaka, 1999), 564.
Wahjoetomo, Pesantren, 1997, 70.

Abid-Albisri, Munawwir A Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, 564.

Haidar Putra Daulay, Fenomina pesantren, (Bandung: IMTIMA, 2004), 26.

Wahjoetomo, 1997, 71.

Umi Chultsum, Windy Novita, Kamus ilmiah popular, (Bandung: Arcola, 2006), 531.

Haidar Putra Dauly, 2004, 27.

menguasai ilmu agama Islam secara detail, serta mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun pondok pesantren secara definitif tidak dapat diberikan batasan yang tegas, melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-ciri yang memberikan kata pondok berasal dari funduq (bahasa arab) yang artinya ruang tidur, asrama atau wisma sederhana, karena pondok memang sebagai tempat penampungan sederhana dari para pelajar atau para santri yang jauh dari tempat asalnya.

Dalam istilah lain dikatakan pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata santri berarti murid dalam Bahasa Jawa. Sedangkan menurut Zubaedi pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan yang berbasis masyarakat yang kemudian kita kenal dengan istilah perguruan swasta yang mempunyai kemampuan tinggi dalam berswakarsa dan swakarya dalam menyelenggarakan suatu program pendidikan.13

Secara umum, sebagian besar teori yang menjelaskan epistemologi pesantren selalu bersifat physical oriented. Teori-teori tersebut umumnya menyebut integrasi 5 elemen pokok pesantren. Yaitu (1) Kiai (2) Santri (3) Masjid (4) Pondok dan (5) Pengajaran kitab-kitab Islam klasik.14

Padahal, secara faktual, sesungguhnya kehidupan pesantren memiliki keragaman dan dinamika yang sangat variatif sejalan dengan setting sosial budaya masyarakat tempat pesantren berada. Di sebagian besar tempat, bisa jadi kelima unsur pesantren itu terpenuhi, namun di sebagaian daerah bisa jadi salah-satu atau dua unsur tersebut tidak terpenuhi.

Kondisi pesantren dengan sekian banyak dan kompleks varian dan dinamikannya, baik secara fisik, kultur, pendidikan, maupun kelembagaannya, maka pesantren secara isthilahy (epistemologis) sesungguhnya tidaklah sesederhana seperti yang teridentifikasi dengan adanya kiai, santri, maupun masjid. Karena konsepsi dasar dari kategori kiai dan santri saja sampai sejauh ini masih bersifat multi-interpretable.

Selain itu kategorisasi yang tidak didasarkan pada hakikat intrinsik dari suatu objek merupakan tindakan simplifikatif, reduktif bahkan distortif. Maka dalam wacana fenomenologi, Pesantren sesungguhnya adalah suatu lembaga atau institusi pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia yang memiliki tingkat moralitas ke-Agamaan Islam dan sosial yang tinggi yang diaktualisasikan ke dalam sistem pendidikan dan pengajarannya.



Zubaedi, Kiai, (Bandung: arruz media, 2007),15.

Mastuhu, Dinamika system pendidikan pesantren, 58.

 Dengan demikian, maka orientasi gerak dan pengajaran ilmu-ilmu Agama, sosial maupun eksak di pesantren adalah tidak lebih dari sebuah proses pembentukan karakter (character building) yang Islami.

B. Khodam dan perananya di dunia pesantren

Kata khadam diambil dari kata bahasa Arab dari kata khodam yang berarti pelayan atau pembantu.15 Jenis pembantu laki laki maupun perempuan sama saja penyebutannya yaitu khodam.16 Dalam dunia pesantren khodam terdiri dari beberapa kelompok, berdasarkan tugas dan kewajiban mereka masing-masing, misalnya: 1) bertugas supir pribadi kiai, supir keluarga kiai dan supir umum, 2) bertugas penerima tamu dan melayani tamu, 3) ada yang bertugas di kebun untuk bercocok tanam, 4) ada yang bertugas untuk menjadi mediator antara para pengurus dan pengelola pendidikan yang ada di bawah naungan pesantren, 5) ada yang bertugas mengurus bangunan pesantren, 6) ada yang bertugas menjaga keamanan pesantren, 7) ada yang bertugas untuk memasak di dapur, dan lain sebagainya.

Khodam jika di lihat dari sisi status pekerjaannya, mereka adalah para pekerja professional yang harus di gaji sesuai dengan status pekerjaan mereka, namun kenyataannya di dunia pesantren, menjadi khodam merupakan pekerjaan mulia, dan merasa terhormat walaupun mereka tanpa di bayar atau (digaji secara profesional), dengan demikian, upah pekerjaan mereka bukanlah suatu yang utama bagi para khodam dalam mengabdikan diri di pesantren, dalam benak mereka ada suatu yang tertanam begitu dalam dalam keyakinan hati mereka, yaitu mengharapkan yang namanya “barokah” dari sang kiai. Dalam benak dan keyakinan mereka, jika nilai “barokah” sudah mereka dapatkan, maka kehidupan mereka akan sejahtera, tentram, bahagia dan sukses.

C. Pesantren dan dinamika pendidikannya

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pondok pesantren merupakan tempat pendidikan para santri, tempat mereka dalam menuntut ilmu, jadi kalau kita berbicara masalah pendidikan pesantren, tentunya tidak akan bisa terlepas dan terpisah dari santri itu

Al-Munawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Jakarta: Paramadina, 2000), 232.

Khadam bagi kalangan paranormal adalah makhluk halus dari jenis jin yang menjadi pembantu manusia. Qorin adalah teman gaib dari bangsa jin yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi teman kita semenjak bayi. Sehingga qorin ini banyak yang menyebut sebagai sedulur papat. Rijalul Gaib diambil dari kata rijal yang artinya laki-laki dan gaib, yang berarti tidak kasat mata, artinya orang mulia dari bangsa jin. Sebab orang timur tengah menyebut seorang bangsawan atau seorang yang mulia dengan sebutan rijal (orang laki-laki). Jin adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dari unsur api, sama seperti iblis atau setan. Hanya saja jin sudah mengenal agama seperti manusia dan kehidupannya juga seperti manusia. Jadi menurut kami khadam, qorin, rijalul gaib dan jin adalah makhluk halus dari bangsa jin. Namun ada sebagian mengatakan Rijalul Ghaib adalah roh wali, kiyai dan sebagainya. Lihat di(http://www.khodammustika.com/artikel.html?id=pengertian_khodam, qorin, dan_rijalul_ghaib)


sendiri. Perkataan santri itu sendiri digunakan untuk menemukan pada golongan orang-orang Islam di jawa yang memiliki kecendrungan lebih kuat pada ajaran-ajaran agamanya.17

Awal mula kemunculan tradisi pendidikan pesantren ini ada yang mengatakan bahwa pendidikan pesantren ini merupakan asli tradisi Indonesia, sehingga pendidikan pondok pesantren ini merupakan ciri yang has Indonesia.18 Pendidikan pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang tradisional tertua di Indonesia yang kemudian menjadi salah satu benteng pertahanan umat Islam yang berfungsi sebagai pusat dakwah dan pengembangan pusat ke-Islaman yang ada di Indonesia.

Dalam sebuah pondok pesantren tentunya terdapat banyak sekali elemen-elemen yang keberadaannya saling terkait dan sangat terikat antara yang satu dengan yang lainnya. Elemen-elemen itu diantaranya adalah adanya kepemimpinan kiai, asatidz (para guru), dan juga para santri (sebagai peserta didik) serta adanya kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang sudah biasa dikaji dan dijadikan bahan rujukan dan kajian dalam penyelenggaraan sebuah pendidikan pesantren.

Sebagaimana diungkapkan oleh Sukamto bahwa unsur yang ada dalam pendidikan pesantren itu adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning.19 Kedudukan seorang kiai atau guru biasanya menerangkan pelajarannya dengan menggunakan kitab kuning yang berbahasa arab dan istilah ini biasanya kita kenal dengan istilah Ngaji dan kegiatan itu merupakan kegiatan yang dianggap suci oleh para santri yang menyerahkan atau menitipkan hidupnya kepada kiai yang selain sangat dihormati juga biasanya sangat tua dan sudah menunaikan ibadah haji karena kemampuan ekonominya.20

Pendidikan pesantren dan kitab kuning itu merupakan sebuah hal yang sangat berkesinambungan dan merupakan perkembangan tradisi keilmuan Islam khususnya di Indonesia. Sehingga menurut Van Bruessen pesantren ini pada dasarnya bukanlah sutu-satunya lembaga pendidikan Islam.21 Sehingga model pendidikan pesantren ini hanyalah satu dari beberapa tipe yang muncul dari beberapa aliran yang ada di Indonesia khususnya dalam masa kini.

Aliran itu muncul seperti modernis, reformis dan fundamintalis. Aliran ini muncul kepermukaan terkadang sebagai penentang terhadap aliran tradisional seperti pesantren

Nor Cholis Madjid, Bilik-bilik pesantren- Sebuah potret perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), 19.

Ibid, 21,

Sukamto, Kepemimpinan kyai dan kelembagaan pondok pesantren (Bandung: Arruz media, 1999), 1.

Van Bruessen, Kitab kuning dan Tarekat (Bandung: Arruz media, 1999), 21.
Ibid, 7.
yang kemudian mereka anggap bahwa sistem pendidikan pesantren itu merupakan cara lama dan tidak uptodate alias ketinggalan oleh zaman, namun pada sisi yang lain, mereka para kaum modernis, reformis dan fundamintalis ini juga terkadang sebagai tradisi yang kemudian muncul dan berkembang dan kukuh dengan keberadaannya.

Aliran-aliran ini muncul sebenarnya berfungsi sebagai salah satu kontrol penyempurna terhadap keberadaan sistem pendidikan pesantren, karena dengan demikian, sistem pendidikan pesantren itu dapat dengan sedikit demi sedikit bisa melakukan pembenahan-pembenahan dan perubahan kearah yang lebih baik dari pada sebelumnya.

Sehingga pada akhirnya terdapat sistem pendidikan pesantren yang paripurna yang kemudian bisa dijadikan panutan dari sisi sistem pendidikan yang lain termasuk juga sistem pendidikan yang diterapkan dan dikonsepkan oleh pemerintah.

D. Jenis-jenis pesantren

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Lembaga ini layak diperhitungkan dalam pembangunan bangsa di bidang pendidikan, keagamaan, dan moral serta pola pergaulan sosial. Dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman luar biasa dalam membina, mencerdaskan, dan mengembangkan masyarakat. Bahkan, pesantren mampu meningkatkan peranannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat yang ada di sekeliling mereka.

Sebagaimana dijelaskan tadi diatas bahwa pendidikan dan pola pondok pesantren merupakan sebuah ciri yang khas ke-Indonesia-an, kerena awal dari kemunculan dari sistem pendidikan pesantren ini berawal dari Indonesia dan bukan dari negara lain, walaupun pada hakekatnya, pendidikan pesantren ini disadari atau tidak bahwa pendidikan sistem pesantren ini merupakan pola dan bahan pelajarannya (bahan kajiannya yang berupa kitab-kitab klasik yang diadopsi dari negara arab), yang diterapkan (seperti sorogan, bandongan dan sebagainya).

Sehingga ada sebagian golongan yang mengatakan bahwa ini merupakan sistem pendidikan tradisional, karena mulai dari sejak awal kemunculan sistem pendidikan pesantren ini, sistem dan pola dan bahkan bahan yang dijadikan bahan yang diajarkan tetap, tidak berubah statis dan tidak berkembang.

Kemudian seiring dengan perkembangan zaman, dan sebagai sebuah bentuk ungkapan respon terhadap persoalan yang ada, maka kemudian pesantren yang hanya terdiri dari sebagian dan tidak semua pesantren, mereka itu melakukan sebuah gerakan


 transformasi sistem pendidikan melalui integrasi sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan modern.

Sehingga dengan sistem pendidikan pesantren ini, secara garis besar dapat digolongkan pada dua garis besar yaitu pesantren salaf dan pesantren kholaf. Sistem pesantren tradisional sering disebut sistem salafi. Yaitu system pendidikan yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren.22 Sedangkan pengelompokan seperti madrasah ini hanya digunakan untuk lebih memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam pengajian-pengajian bentuk dan model lama dan tanpa mengenalkan pengajaran-pengajaran umum. Jenis pesantren model ini masih banyak seperti pesantren Lirboyo kediri, pesantren Temas di pacitan, pesantren Maslakul Huda di pati dan lain sebagainya.

Berbeda dengan sistem pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren modern atau kholafi yang merupakan sistem pendidikan pesantren yang telah berusaha dan berupaya untuk mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal seperti madrasah dan lain sebagainya.

E. Teori-teori yang dapat dijadikan pisau analisis kajian khoddam di pesantren.

Kerangka teori adalah kemampuan seorang peneliti dalam mengaplikasikan pola berpikirnya dalam menyusun secara sistematis teori-teori yang mendukung terhadap sebuah permasalahan yang ditemukan oleh penelitian. Menurut Kerlinger, teori adalah himpunan konstruk (konsep), defenisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.23

Teori berguna menjadi titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti suatu masalah atau persoalan. Fungsi teori sendiri adalah untuk menerangkan, meramalkan, memprediksi, dan menemukan keterpautan fakta-fakta yang ada secara sistematis.

Mengenai pentingnya teori sebagai kerangka kerja untuk penelitian, dimaksudkan untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Oleh karena itu sebuah teori yang berperan sebagai kerangka kerja tersebut, implikasinya bahwa teori harus memiliki kegunaan sebagai berikut:

Teori harus mampu membantu mensistematisasikan, menyusun data, maupun pemikiran tentang data sehingga tercapai penelitian yang logis diantara aneka ragam data itu, yang

Humaidi, Transformasi system pendidikan pesantren, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2011), 12.

Rakhmat, Sosial ke-Agamaan masyarakat, (Jakarta: balai pustaka, 2004), 6.

 semula kacau balau. Di sinilah teori berfungsi sebagai kerangka kerja atau pedoman,

bagan yang sistematisasi maupun menjadi sistem acuan,

Mampu memberikan suatu skema atau rencana sementara mengenai medan yang semula belum dipetakan sehingga terdapat suatu orientasi,

Mampu menunjukkan atau menyarankan arah untuk penyelidikan lebih lanjut.

Oleh sebab itu, untuk memberikan kejelasan pada penelitian kali ini, penulis mengemukakan beberapa kerangka teori yang berkaitan dengan penelitian. Yang diantaranya adalah:

a.  Toeri Fungsionalisme

Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh "badan" secara wajar.24 Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif." Bagi Talcott Parsons, “fungsionalisme structural” mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran.

b. Teori Struktural

Teori struktural sastra tidak memperlakukan sebuah karya sastra tertentu sebagai objeknya kajiannya. Yang menjadi objek kajiannya adalah sistem sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh.

Meskipun konvensi yang membentuk sistem sastra itu bersifat sosial dan ada dalam kesadaran masyarakat tertentu, namun studi sastra struktural beranggapan bahwa konvensi tersebut dapat dilacak dan dideskripsikan dari analisis struktur teks sastra itu sendiri secara otonom, terpisah dari pengarang ataupun realitas sosial. Analisis yang seksama dan menyeluruh terhadap relasi-relasi berbagai unsur yang membangun teks sastra dianggap akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang sistem sastra.

24Urry, John (2000). “Metaphors”. Sociology beyond societies: mobilities for the twenty-first century. Routledge, 23.

 Pendekatan struktural berangkat dari pandangan kaum strukturalisme yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang unsurnya terjalin secara erat dan berhubungan antara satu dan lainnya. Karya sastra merupakan sebuah kesatuan yang utuh.Sebagai kesatuan yang utuh, maka karya sastra dapat dipahami maknanya jika dipahami bagian-bagiannya atau unsur-unsur pembentuknya, relasi timbal balik antara bagian dan keseluruhannya. Struktural genetik lahir sebagai wujud ketidak puasan terhadap teori struktural yang melihat karya sastra sebagai sesuatu yang otonom.

c.  Teori konflik sosial

Konflik secara etimologis adalah pertengkaran, perkelahian, perselisihan tentang pendapat atau keinginan; atau perbedaan; pertentangan berlawanan dengan; atau berselisih dengan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik mempunyai arti percekcokan; perselisiah; dan pertentangan.25 Sedangkan menurut kamus sosiologi konflik bermakna the overt struggle between inthviduals or groups within a society, or between nation states,26 yakni pertentangan secara terbuka antara individu-individu atau kelompok-kelompok di dalam masyarakat atau antara bangsa-bangsa.

Dengan demikian yang dimaksud dengan teori konflik adalah any theory or collection of theories that emphasizes the role of conflict, especially between groups and classes, in human societies (beberapa teori atau sekumpulan teori yang menjelaskan tentang peranan konflik, terutama antara kelompok-kelompok dan kelas-kelas dalam kehidupan sosial masyarakat.27


Penutup

Hakekat makna dan fungsi khodam dalam pesantren

Khoddam adalah nama lain dari kata pembantu, walaupun ada istilah khoddam ini di sama artikan dengan kekuatan gaib yang tidak semua orang bisa melihat, merasakan dan berkomunikasi,

Khoddam adalah santri yang selain mencari ilmu, mereka juga membantu kiai dalam melaksanakan tugas kepesantrenan dan kerumah tanggaan demi mencapai suatu tujuan, yaitu mendapatkan barokah dari seorang kiai atau gurunya, walaupun ada sebagian khoddam yang dari unsur orang luar yang tidak pernah nyatri di pesantren,



Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 746.

David Jary dan Julia jary, Sosiology Dictionary, (New York: HarperCollins, 1991), 76.

David Jary dan Julia jary, Op.Cit, 77.

 Khoddam merupakan salah satu alternative bagi para santri yang ingin menuntut ilmu di pesantren namun tidak mempunyai cukup biaya untuk menjalaninya, sehingga dengan menjadi khoddam, maka mereka bisa mengenyam pendidikan dengan dibantu biaya pendidikannya oleh sang kiai atau pengasuh pondok pesantren.

Pandangan masyarakat pesantren menyikapi eksistensi khodam

Pada dasarnya, eksistensi khoddam di pesantren sangat membatu keberhasilan proses pendidikan, walaupun signifikansinya masih belum sempat terukur,

Masyarakat pesantren begitu sangat berterima kasih terhadap keberadaan Khoddam di pesantren, karena dengan keberadaan mereka, para santri, ustad dan bahkan masyarakat umum lebih mudah untuk melakukan komunikasi dengan sang pengasuh atau kiai,

Kiai memandang khoddam bukan sebagai santri yang di marjinalkan, bahkan sebaliknya, khoddam sudah dianggap bagian dari keluarga besar pesantren sehingga tidak ada bedanya antara santri regular dengan santri yang merangkap menjadi khoddam ini.

Hak dan kewajiban mereka sebagai Asisten yang professional dalam pesantren

Khoddam adalah nama lain dari kata pembantu di pesantren, dan mereka mendapatkan hak seperti tempat tinggal, pendidikan, makan dan minum serta kebutuhan primier lainnya yang dipenuhi dan di tanggung oleh pengasuh yang dalam hal ini adalah kiai,

Hak Khoddam adalah bagi yang masih dalam pendidikan, maka mereka ti bayari oleh kiai, kemudian bagi yang tidak dalam masa pendidikan (sudah lulus) maka mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak dari kiai, kemudian juga kebutuhan primer seperti makanan, pakaian dan lainnya juga menjadi tanggungan kiai,

Sedangkan kewajiban Khoddam beraneka ragam, mulai dari berkebun, berladang, menguru dapur (memasak) hingga mengurus kendaraan kiai dan keluarga pesantren.


 DAFTAR PUSTAKA

Abid Al-Bisri, Munawwir A Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Jakarta: Balai pustaka, 1999).

Al-Munawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Jakarta: Paramadina, 2000).

Anis Humaidi, Transformasi pendidikan Islam, (Surabaya: Disertasi IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2011).

Antony Flew, A Dictionary of Fhilosophy, (New York: St. Martin Press, 1984).

David E.Mc Nabb, Reaseach Metods for Political Science Quantitaive and Qualitative Metods, (New York: ME Sharpe, 2004).

David Jary dan Julia jary, Sosiology Dictionary, (New York: HarperCollins, 1991).

Haidar Putra Daulay, Fenomina pesantren, (Bandung: IMTIMA, 2004).

Haidar Putra Daulay, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001).

Hegel (1770-1831) dalam bukunya The Phenomenology of Spirit (1806).

Humaidi, Transformasi system pendidikan pesantren, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2011).

Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebuireng (Malang: Kalimasahada Press, 1993).

Isadore and Carolyn R. Benz, Qualitatif-Quantitatif Research Metodology Exploring the Interactive Continum, (USA: Southern Illinois University Press, 1988).

Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Rosda Karya, 2010).

Maslichah, Peranan Pondok Pesantren Rehabilitasi Mental Az-Zayni dalam Pembinaan Korban Narkoba (Studi Kasus di Pondok Pesantren Rehabilitasi Mental Az-Zainy Tumpang Malang), (Malang: Universitas Islam Negeri, 2005).

Mastuhu, Dinamika system pendidikan Pesantren, (Jakarta: Paramadinah, 1994).

Mujammil Qomar, Manajemen lembaga pendidikan Islam, (Yogyakarta: Imtima, 2002).

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Reka Serasin, 2000).

Nor Cholis Madjid, Bilik-bilik pesantren- Sebuah potret perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997).

Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008). Rakhmat, Sosial ke-Agamaan masyarakat, (Jakarta: balai pustaka, 2004).


 Samsul Maarif, The history of Madura – Sejarah Panjang Madura dari kerajaan Kolonialisme sampai kemerdakaan, (Yogyakarta: Araska Publisher, 2015).

Sindung Haryanto, Spectrum Teori Social dari Kalasik Hingga Postmodern, (Yogyakarta: Ar-Ruzz media, 2012).

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).

Sukamto, Kepemimpinan kyai dan kelembagaan pondok pesantren (Bandung: Arruz media, 1999).

Umi Chultsum, Windy Novita, Kamus ilmiah popular, (Bandung: Arcola, 2006).

Urry, John, Sociology beyond societies: mobilities for the twenty-first century. (Routledge, 2000).

Van Bruessen, Kitab kuning dan Tarekat (Bandung: Arruz media, 1999).

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1994).

Website sources

http://www.khodammustika.com/artikel.html?id=pengertian_khodam, qorin, dan_ rijalul_ghaib)  

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment