Arti Kemenangan di Hari Raya Aidhil Fitrih

JATIMAKTUAL,- Sebentar lagi umat islam akan bertemu dengan hari raya idul fitri sebagai momentum dan refleksi diri atas keshalehan sosial dan spiritual bahwa hari raya idhul fitri merupakan hari pesta kemenangan bagi orang-orang yang sudah merasa dirinya pantas untuk merayakannya. 

Idul Fitri adalah hari yang berulang setiap tahunnya sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan. Salah satu kewajiban yang ditunaikan menjelang Idul Fitri adalah zakat fitri. sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.

hari raya idul fitri merupakan hadiah Tuhan bagi umat muslim yang sudah mengoptimalkan ibadahnya selama bulan puasa dan menundukan hawa nafsu dari cengkraman duniawi, sebagian umat muslim terkadang merasa hina dan tak pantas untuk menjemput hari raya sebagai hari kemanangan karena mereka takut apa yang mereka lakukan hanya ritual-simbolik yang hanya menahan lapar dan haus, umat muslim yang punya spiritual tinggi terkadang mereka berharap puasa diperpanjang walaupun hanya bualan dan tamanni.

hari raya idhul fitri sebagai hari kemanangan, pertanyaannya kemenangan seperti apa? puasa satu bulan penuh, tidak berjimak disiang hari, meberi zakat, menghatamkan alquran atau trawih yang tidak pernah bolong??

apabila kemenangan hanya sebatas itu, betapa sederhananya kemenangan.

apabila ukuran kemenangan dengan sholat berjemaah dimasjid, sholat trawih, puasa, baca alquran, memberi shodaqah dan punya kepedulian sosial karena memont bulan puasa dan mengabaikan 11 bulan yang lain, maka kemanangan itu begitu sederhana. sedangkan intensitas ghiroh atau semangat ibadah itu ditentukan oleh bulan-bulan yang sebelumnya sehingga apabila bulan sebelumnya tidak punya kualitas lillahi, hipotesanya bahwa umat islam ibadah karena faktor puasa bukan lillah.

kemengan, tidak hanya sebatas keberhasilan umat islam mengerjakan puasa selama satu bulan dengan menahan lapar dan dahaga tapi keikhlasan dan kesholehan sosial merupakan nilai superior sebagai manifestasi nilai-nilai alqurani dalam kehidupan sehari-sehari dalam berkehidupan sosial dan bertuhan, tidak ada riya' dalam membaca alquran, trawihnya tidak adu cepet dan lambat, berzhadaqah tanpa adanya sombong karena memiliki harta tapi yang dilakukan karena benar-benar pangilan hati dan inderawi yang ditetapkan Tuhan.

kemenangan, ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan yang tidak hanya karena faktor bulan ramadhan tapi memang tugas sebagai seorang hamba, Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana, maka ayatin min ayatillah ala Al-abdhi bahwa mereka memahami sebagai abdun (hamba) dalam menghayati atas akhirnya bulan Ramdhan dan tibanya hari raya sehingga dua elmen ini akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial,  selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa selamat hari raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal ‘Âidîn wal Faizîn (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa), bagaiman mereka bisa meningkatkan dan ghairah ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah.


Menggapai Keberkahan Idul Fitri dengan Melaksanakan Sunnah

indonesia sangat lumrah mengatakan idul fitri sebagai hari kemenangan, "menang" menahan lapar dan minum,  berbuat baik (zakat, trawih, dan baca alquran), dan menjauhi hal yang berkenaan dengan hawa nafsu sehingga hari raya umat muslim diharamkan untuk puasa sebagai penghargaan bagi umat muslim yang sudah menahan lapar.

banyak kebaikan umat muslim harus capai dalam meraih keberkahan yang ada di aidil fitri, sehingga memont aidhil fitri merupan moment luar biasa bagi umat islam sebagai mengakumulasi pahala dengan mengerjakan hal-hal sunnah.

1. takbir 

menghayati dan merenungkan kebesaran Tuhan dengan mengkumandangkan namanya "takbir" dimalam aidhil fitri merupakan sunnah atau amaliyah yang di syariatikan yang mana hal itu ditegaskan imam Nawawi dalam kitabnya almajmu'

‎عن نافع عن عبد الله بن عمر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج في العيدين مع الفضل بن عباس و عبد الله والعباس وعلي وجعفر والحسن والحسين واسامة بن زيد وزيد بن حارثة وايمن بن ام ايمن رضي الله عنهم رافعا صوته بالتهليل والتكبير فيأخذ طريق الحدادين حتى يأتي المصلى وإذا فرغ رجع على الحذائين حتى يأتي منزله

2. Baju baru dan wangi-wangi.
di hari Raya umat muslim di sunnahkan memakai baju baru dan wangian sebagai tanda kebahagian atas kedatang hari yang fitri, setalat satu bulan beribadah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan atas barang yang mereka punya maka di hari fitri mereka disunnahkan untuk memakai baju baru seperti riwayat berikut: 

عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدَ مَا نَجِدُ

Hadis diatas di riwayatkan Al Hakim didalam Al Mustadrak ‘alaa Al-Shohihain, Ath-Thabraniy didalam Al Mu’jam, dan Al Baihaqi seperti yang terdapat ( http://www.ngaji.web.id/2015/07/hukum-memakai-baju-baru-di-hari-raya.html#ixzz4kssiqP1q).

3. saling Memaafkan
ciri khas umat islam merupakan kelapangan dada, rendah hati apalagi pada memont hari raya mereka selalu terbuka untuk siapa yang punya salah sedangkan maaf-maafkan dengan jabatan tangan tidak hanya sekedar pada memont hari raya tapi di hari lain sudah menjadi budaya di warga Nahdiyyin dan Muhammadiyah. tapi dihari raya umat muslim disunnahkan untuk saling memaafkan  dan mendoakan seperti riwayat berikut:

‎عَنْ خَالِدٍ بْنِ مَعْدَانٍ قَالَ لَقَيْتُ وَاثِلَةَ بْنَ اْلأَسْقَعِ فِيْ يَوْمِ عِيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ فَقَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ وَاثِلَةٌ لَقَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ - رواه البيهقي في الكبري

4. Sholat Aidhil Fitri
pada hari raya aidhil fitri umat muslim di sunnahkan mengarjakan sholat aid berjemaah dimasjid seperti pendapat ulama al-azhar;

‎صلاة العيدين (الفطر والأضحى) سنَّة مؤَكَّدة عند جمهور الفقهاء، وهي شعيرة من شعائر الإسلام، ومظهر من مظاهره العظيمة، ينبغي على المسلم أن يحرص على أدائها مع جماعة المسلمين، أُسوةً بالنبي صلَّى الله عليه وسَلَّم، الذي كان يُواظِب عليها، ويدعو الناس إلى الخروج إليها، ولم يثبتْ أنه تخلّف عنها في عيد من الأعياد.

keluarga Besar Kholili ansori mengucapkan Mohon maaf lahir dan bathin, taqablallahu minna weninkum allahuma taqabal ya...karim we antum kullu Ammin bi khoir

Oleh : Kholili
Publisher : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment