Terbakarnya Lahan Tebu Terkesan Menghilangkan Permasalahan Resto Wiraraja dan Reklamasi.

JATIMAKTUAL, PAMEKASAN,- Terjadinya kebakaran lahan tebu yang selama ini sudah terjadi 3 kali berturut-turut, seolah hanya sebagai isu untuk menghilangkan permasalahan kasus Resto Wiraraja dan Reklamasi Pantai Branta Pesisir. 

Padahal Resto Wiraraja dan Reklamasi itu masih menjadi treanding topik di Kabupaten Pamrkasan, namun maskipun kritikan demi kritikan dari masyarakat Kabupaten Pamekasan terus disuarakan melalui berbagai gerakan, rupanya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan terkesan tak sanggup untuk menyelesaikan persoalan ini.

Menurut Luthfiadi salah satu aktivis Mahasiswa yang seringkali menyoroti kasus di Resto Wiraraja dan Reklamasi, "Disela-sela maraknya permasalahan Resto Wiraraja dan Reklamasi, kini dibumi hanguskan dengan adanya peristiwa si jago merah yang selalu menyerang lahan tebu di Pamekasan, sehingga media dibelok arahkan untuk tidak fokus pada Reklamasi dan tempat hiburan yang berbau maksiat, seperti karaoke room yang setiap detik tercipta sebuah maksiat yang mengotori bumi gerbang salam".

Hal ini, Lanjut Luthfi, sangat lucu ketika pemerintah dan Ulama yang mempunyai kuasa penuh keutuhan Gerbang Salam seolah diam membisu tanpa ada ketegasan dan tindakan yang jelas, sehingga terkesan membiarkan icon Gerbang Salam terkikis oleh maraknya pengusaha tempat hiburan karaoke dan miras yang legalitasnya tidak jelas.

"Jadi desakan kami atas nama Pemuda dan Masyarakat Pamekasan meminta kepada DPR, OPD terkait, Ulama bahkan Bupati sekalipun harus benar-benar tegas dan adil dalam melaksanakan peraturan yang dibuat sendiri seperti Perbub dan Perdanya serta hukum sosial dan lingkungan yang di identikkan dengan kota santri yang mayoritas kekuatan ideologi dan tindakan dipegang oleh ulama".

"Hal ini tidak bisa dibiarkan dan juga harus dilaporkan ke Wilayah Kerja BPHM Wilayah I Jawa timur, karna juga sudah dinilai merusak tata kelola Hutan Mangrove,yang mana BPHM wilayah satu ini yang bertugas untuk memantau dan mengevaluasi pengelolaan hutan Mangrove," tegasnya.

"Harapan saya Ulama harus juga pro aktive menyelidiki setiap tempat hiburan yang berbau maksiat dan menghentikan proses reklamasi yang sudah dinilai menciderai Icon Gerbang Salam saat di lihat dari fungsinya seperti Resto dan Karaoke Wiraraja". Tandasnya. 

Hingga berita ini diturunkan masih belum dikonfirmasi lagi kepada pihak terkait utamanya Tokoh Ulama' dan Penegak Perda.


Pewarta : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment