Puzzle Hati

JATIMAKTUAL, Mengapa pertemuan ini harus terjadi? seharusnya tidak ditempat ini, mungkin tempat yang lain akan lebih baik asal bukan tempat ini.

Dia masih terlihat seperti yang dulu, lelaki yang membuatku jatuh hati, dia ganteng, tinggi berkulit putih dan sangat cuek dengan orang lain tapi bukan dengan orang yang sudah ia kenal. 

Seingatku dia dulu pernah berarti dalam hidupku, aku pernah memikirkannya setiap hari, lebih tepatnya disetiap inci waktu.

“Mbak Ana, silahkan perkenalkan diri anda” senggol mbak Lia memberi isyarat.
“Oh iya, eem perkenalkan, nama saya Jessyana, dosen baru diprodi pendidikan PGPAUD” keringat dingin mengalir membasahi kerah bajuku, telapak tanganku berkeringat, sampai aku lupa tersenyum saat memperkenalkan diri. 
“Mbak Ana sakit?” Tanya Lia, dosen baru diprodi PGSD 
“Oh…nggak kok, hanya sedikit kepanasan aja” jawabku melempar senyum salting, mbak Lia hanya tersenyum mungkin ia tau kalau aku sedang berbohong, mana ada full AC  dan ruang VIP masih merasa kepanasan. 
“Perkenalkan rekan-rekan, nama saya Chocho, dosen baru diprodi Agribisnis, terimakasih” suara itu mengema ditelingaku, suara tegas tanpa keraguan, aku masih ingat dia adalah orang yang memiliki komitmen yang tinggi dia juga sangat perfeksionis itulah hal yang dulu membuatku jatuh hati padanya.
“Susah ya jaga rahasia” aku ingat kata-kata itu sampai sekarang, pesan yang ia kirim lewat BBM dulu sewaktu masih semester 7. “Mereka sahabatku, biasanya kalau ada apa-apa, aku selalu cerita sama mereka” jawabku melalui pesan via BBM. 
“Asal kamu tau ya yank, aku nggak pernah cerita itu, bahkan sama sahabat terdekatku, Boleh temenan tapi biasa aja, nggak baik temenan dekat-dekat.” 

Saat itu dadaku sesak tidak terasa air mata berebut keluar membasahi pipi, kata-kata itu sangat menyakitkan dan aku menyesal pada diriku sendiri, karena telah melukai kepercayaannya. 

“Maafin aku yank, aku tidak tau kalau ini akan melukai hatimu.”

Tubuhku terasa lemas, telingaku serasa tak mendengar apapun, seandainya dia didepanku mungkin aku sudah memeluknya dengan erat. Sendainya aku tahu bahwa jenis pekerjaannya adalah privasi menurut dia pasti aku tidak akan cerita kepada sahabatku, 
“Mengapa kamu tidak bertanya kenapa aku cerita?” pikirku dalam hati 
“Itu semua karena aku bangga padamu, karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu bahkan dalam mimpipun aku merindukanmu, meskipun kita LDR, aku tak mengapa, meski aku harus menunggu” pikirku terus melayang dan akhirnya aku tertidur.
“Dek, aku didepan kosan” pesan singkat sang mantan mengejutkanku, aku tidak langsung menemuinya malah aku masuk kamar mandi karena nerves membuat perutku tiba-tiba sakit. 
“Twin, ada yang nyari kamu di depan” panggil teman akrabku dengan lantang. 
Akhirnya aku keluar dan menemui mantanku ia duduk didepanku sambil mengengam tanganku. Aku memalingkan muka dan tidak berani menatapnya. 
“Dek, dengerin aku baik-baik” ucap dia menatapku. 
“Iya, ngomong aja kenapa sih, gitu aja repot” ucapku ketus 
“Ehh dek, orangnya disini, bukan diluar, plaise liat aku” 
“Apa sih ka, ya udah buruan ngomong” ucapku sambil melihat kearahnya 
“Dek aku datang kesini dapat pesan dari ibu dan bapak, aku pengen ngelamar adek, kalau adek mau nanti aku akan datang ke rumah adek” tuturnya.
“Dari kemarin kemana aja? Saat aku ngechat kamu dan hanya kamu read, kenapa nggak dari dulu? Udahlah kak, skripsimu digarap dulu terus wisuda nggak usah fikirin aku” jawabku ketus, ia terdiam dan menunduk. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu, entah apa. 
“Aku minta maaf dek, aku harap kamu mau maafin aku, aku tau semua salahku” kita sama-sama terdiam. 
“Oh ya, denger-dengar sudah ada penggantiku ya anak pertanian cie..cie” mendengar lelucon kakak, aku jadi tersenyum malu. 
“Kamu kok tau, darimana?” tanyaku penasaran 
"Taulah, aku itu dek ya, biarpun nggak dikampus tapi anak-anak itu banyak yang laporan ke aku” jawab ia meyakinkan seakan ia baik-baik saja dengan semua itu.

Sepertinya mantanku masih sangat mencintaiku, aku bisa melihat dari sorotan matanya. 
“Dek aku merindukanmu” pesan dia via whatsapp 
“Maaf kak, kamu boleh merindukanku tapi maaf ka sekarang aku sudah ada yang memiliki, walau bagaimanapun aku akan tetap setia dan nggak ingin nyakiti dia”.

Fikiranku terus melayang, mengenang kejadian beberapa tahun silam, saat masa muda ketika puzzle hati mulai ku rangkai. 
“Ah, itu hanya tentang masa muda, nyatanya semua yang ku perjuangkan tidak berarti apa-apa, hal-hal indah yang kubayangkan seperti di drama Korea, nyatanya hanya hoax, tak perlu ku pusingkan. Apalagi sekarang aku sudah memiliki suami, memang dahulu aku menikah dengannya secara tak terduga, dia tiba-tiba melamar dan aku sudah lelah dengan urusan percintaan dan pada akhirnya aku menerimanya setidaknya ia memiliki ahlaq yang baik. 

“Dek Ana” suara mas Chocho memanggilku dari belakang, perlahan aku menoleh ke belakang 
“Iya mas Chocho” jawabku canggung 
“Apa kabar kamu sekarang, selamat ya kamu sudah mengapai cita-citamu jadi dosen” ucap mas Chocho sambil menyodorkan tangan 
“Iya mas, mas juga selamat ya” jawabku sambil menyodorkan tanganku. 
“Ooh ya kamu S2 dimana jadinya?”
“aku di UNJ aja , mas ?” jawabku sambil lalu berjalan ke pintu lift. 
“eemm aku di UNAIR, seperti rencanaku dulu” jawab mas Chocho sambil memencet tombol membuka lift, sesaat pintu lift terbuka, lift dalam keadaan kosong dan kuperhatikan samping kanan kiri tidak ada yang mengantri untuk naik lift, gugupku mulai menjadi, aroma-aroma canggung mulai tercipta disaat hanya ada kita berdua di dalam lift. 
“Sudah menikah mas?” pertanyaan itu keluar begitu aja. “Belum, belum ada calon, sama kamu tha kalau mau” jawab mas Chocho sambil tersenyum lepas dan menatap dalam seperti tatapan cinta saat aku datang ke wisudanya, seketika hatiku terasa teriris, jujur aku masih menyimpan rasa sama mas Chocho, ingin sekali aku menjawab iya aku mau mas dengan senyuman termanis, namun itu tak mungkin aku sudah memiliki suami 
“Jujur aku masih mencintaimu dan hanya kamu wanita yang sabar bisa menerima sikap dinginku ini, kulkas, masih ingat?” ucap mas Chocho mengajaku bercanda, dulu aku sering memanggilnya kulkas dan dia memanggilku oven karena sifat kami yang berbeda dia sangat dingin dan aku terlalu hangat atau bahkan mungkin panas. Aku menunduk menghela nafas dan kemudian aku menatap mas Chocho.
“Maaf, aku sudah menikah mas” jawabku sambil mengangakat tangan kanan didekat pipi agar mas Chocho tau cincin dijari manisku. 
“Senang bertemu denganmu mas, semoga mas segera menemukan wanita yang terbaik untuk mas”. Pintu lift terbuka, aku segera mengatakan permisi kemudian pergi tanpa menoleh lagi untuk melihat mas Chocho.
                             
                          "The End"

Biodata Penulis.
Nama: Srimurti
Ttl: Bojonegoro, 15 November 1994
Status: Mahasiswa
Univ: Trunojoyo Madura
Prodi: PGPAUD
Hobby: Menghayal dan Berpikir
Alamat: Kauman, Bojonegoro

Editor : Ahmad

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment