“Mau pilih buka yang manis, pahit, atau tidak sama sekali” -->
Cari Berita

“Mau pilih buka yang manis, pahit, atau tidak sama sekali”

Saturday, May 27, 2017

Oleh: Rahmania
Mahasiswi STAIN Pamekasan

JATIMAKTUAL,  ARTIKEL, - Paling utama dan tersulit dalam hidup ini adalah memilih, sekaligus menerapkannya. Terkadang apa yang kita pilih tidak sesuai dengan apa yang kita kerjakan, ataupun sebaliknya. Banyak hal yang membuat semua itu tidak selaras. Bisa karena faktor internal seperti keraguan yang ada dalam diri kita maupun karena kurangnya keimanan kita. Juga karena faktor eksternal seperti hasutan orang sekitar ataupun lainnya.

Tapi dari kedua faktor tersebut, yang lebih dominan faktor internal. Yaitu faktor yang ada dalam diri kita sendiri, atau tergantung (kembali) pada diri kita masing-masing. Dan apa sih itu buka yang manis, pahit, atau tidak sama sekali???

Mari kita bahas secara terperinci. Buka yang manis, namanya saja buka yangm manis,, pastinya membuka suatu hal yang manis atau hal yang baik. Buka manis disini perumpamaan dari memberi informasi tentang suatu hal. Entah itu dari media cetak, elektronik, maupun orangnya (seseorang).

Namun arti sebenarnya dari pada buka yang manis disini yakni kita sebaiknya memilih buka informasi tentang hal yang positif dan baik dari orang lain. Ini sama halnya dengan berbuka puasa, kita disunnahkan untuk berbuka yang manis-manis. Karena berbuka yang manis itu baik untuk diri kita juga dapat memulihkan tenaga kita. Sama dengan menceritakan hal-hal yang baik dari orang lain. Selain baik untuk untuk kita lebih berpikir positif, juga bagi orang yang mendengar, apalagi orang yang dibicarakan.

Sedangkan arti dari buka yang pahit yaitu kita lebih memilih menceritakan atau menyebarkan aib orang lain. Dan hal itu sama sekali tidak baik untuk siapapun. Entah itu pada kita, pendengar, maupun orang yang sedang kita bicarakan. Karena hal itu dapat menimbulkan fitnah serta melipatgandakan dosa kita. Ada salah satu pepatah mengatakan, “lebih baik terlanjur mengatakan hal baik orang lain, dari pada terlanjur mengatakan hal buruk orang lain”.

Seperti halnya kita memberikan madu pada air minum seseorang, maka hal itu membuat yang meminumnya akan sehat dan bermanfaat. Tapi sebaliknya, bila kita menuangkan racun, maka hal itu akan menyakiti bahkan membunuh orang yang meminumnya. Jadi, bila kita berbicara pada seseorang, lebih baik kita membicarakan suatu hal yang baik. Atau kita lebih baik tidak sama sekali atau bisa kita artikan tidak memilih keduanya (diam).

Dalam hadits disebutkan “حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ زِيَادِ سَيْمِينْ كُوشْ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ فِتْنَةٌ تَسْتَنْظِفُ الْعَرَبَ قَتْلَاهَا فِي النَّارِ اللِّسَانُ فِيهَا أَشَدُّ مِنْ وَقْعِ السَّيْفِ”

Yang artinya,“Telah menceritakan kepada kami (Abdullah bin Mu'awiyah Al Jumahi) telah menceritakan kepada kami (Hammad bin Salamah) dari (Laits) dari (Thawus) dari (Ziyad Saimin Kusy) dari (Abdullah 'Amru) dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan terjadi suatu fitnah yang akan menimpa seluruh orang Arab, orang yang mati dalam fitnah itu akan menjadi penghuni neraka, dan saat itu ucapan lisan lebih tajam daripada tebasan pedang". (HR. ibnumajah No.3957)

Dan dalam hadits lain disebutkan “حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ ”.

Yang artinya, “Barangsiapa beriman kepada Allah & hari Akhir, hendaknya berkata baik atau diam”. (HR. ibnumajah No.3961).

Dan setelah kita tahu itu semua, maka mulai sekarang ubahlah kebiasaan kita yang terbiasa menceritakan aib bahkan menjelekkan orang lain, menjadi oang yang bicara kebaikan orang lain atau mungkin lebih baik diam.