Masihkah Marsinah Menggugat


 Oleh: Abdul Adim (*)
Malam ini marsinah dengan senyumnya yang khas kembali mengingatkan kepada sipir penjara Tentang hidup marsinah yang taklagi nyata Lampu petromak yang biasa dia nyalakan ketika malam petang Kini sudah menjadi lampu usang dalam kamarnya Selembar kertas yang biasa dia siratkan Sebagai surat kritik pada hakim kini menjadi kertas lusuh yang tersimpan, dibawah kasur.

Hirau sang hakim sudah menjadi seonggok suap dari tikus got samping rumah Marsinah sudah kembali
Rohnya bertebaran dalam gorong-gorong Bukan lagi di pengadilan agama
Bukan lagi ditempat tidur yang gelimang Bukan lagi di kasur empuk
Hakim kembali mencari amplop-amplop Mencari di saku dasi yang tersembunyi Marsinah datang dengan kembang seroja dan air ketuban sukarno

Marsinah datang dengan sebuah cincin permata dan sesobek kain merah putih Marsinah datang dengan segepuk dolar dan setangkai susuk Inggit
Marsinah mencoba merayu hakim dengan paha telanjang dan mencumbuinya dengan bibirnya penuh darah
Hakim hanya pura-pura bodoh seolah tidak ada apa-apa

Di tamparlah mulut hakim oleh marsinah sambil berkata
Kurang ajar kau Setelah lama aku berteriak mencari keadilan dan mencoba protes dengan nada lantang Darah tercecer dari tubuhku
Nafasku sampai terengah-engah sambil bermain emosi kau hanya diam waktu itu Kau balas teriakku dengan acuh dan tawa kecil Sekarang ketika aku berontak dengan menyodorkan kenikmatan padamu

Kau malah malah menikmatinya dan dan mengeluarkan sperma kejantananmu dalam mulutku Ingat sukarno masih hidup di lorong-lorong Inggit masih tetap tersenyum

Sementara aku sudah letih menggaulimu Hakim!
Kau dengar itu Kau faham
Ah, percuma Mulut, telinga, dan matamu sudah ditutupi sistem Sudah dicampuri ludah-ludah MEREKA Dan sudah dikotori denag uang najis Yang mungkin lebih parah dari najis berat
Aku harus bagaimana sekarang.
Aku hanya marsinah yang bisa berontak di ruang maya
Aku Pulang!

Jember, 7 Maret 2017

(*) Seniman "Gesek" di IAIN Jember

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment