Mahasiswa, bukan Mahasiswa -->
Cari Berita

Mahasiswa, bukan Mahasiswa

Tuesday, May 30, 2017

JATIMAKTUAL,  ARTIKEL, - Apabila mendengar kata mahasiswa, tentu saja yang tergambar  dalam fikiran kita adalah kaum elit intelektual yang menjadi harapan masyarakat, bangsa dan negera untuk rekonstruksi menuju titik kebebasan dan kejayaan. 

Mahasiswa sebagai harapan, tentunya memiliki tugas suci yang diemban yang kelak harus direlisasikan dalam masyarakatnya sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, agama dan negara. Hal tersebut menuntut mahasiswa itu sendiri untuk lebih aktif dan kreatif dalam menjalankan kehidupan akademisnya (kampus). 

Sebagaimana adegium pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, hal itu merefleksikan bahwa kaula muda hari ini dipersiapkan untuk memobilisasi kehidupan di masa yang mendatang. Tentunya, sebagai pewaris kepemimpinan masa yang akan datang tidaklah benar apabila memiliki pemikiran yang pragmatis dan hedonis serta berfikir ego centris.

Menjadi mahasiswa dewasa ini memang paradoks. Di satu sisi mereka dihadapkan dengan idelismenya sendiri yakni, tridarma mahasiswa (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat) yang menjadi kewajiban mereka, di sisi yang lain mereka dihadapkan dengan himpitan globalisasi yang menyelubungi seluruh kehidupan. Bahkan mahasiswa itu sendiri yang telah tergilas oleh iming-iming globalisasi dengan sifat pragmatisme yang mereka anut dengan adanya jasa pembuatan makalah, skripsi dan semua tugas kemahasiswaan lainnya, mahasiswa menjadi serba instan dan tidak berkerja sama sekali sehingga nantinya hanya akan menciptakan para sarjana tanpa kualitas kesarjaan. Di satu sisi para praktisi pendidikan (dosen) seakan-akan hanya menjadi formalitas dalam kegiatan perkuliahan. Terbukti dengan ketidak profesional mereka dalam mengajar dan mengampu meteri yang seharusnya mereka ampu. Sebagai contoh, Dosen dengan baground sarjana SH, mengampu para mahasiswa Jurusan Pendidikan dengan alasan sudah dimandat oleh pihak akademik, tugas perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa terkadang dibiarkan tidak selesai jika antara dosen dan mahasiswanya terdapat kedekatan psikologis.

Belum selesai permasalahan mahasiswa muncullah satu persoalan kembali yang tanpa disadari oleh mahasiswa yakni hedonisme. Kesenangan materi yang selalu mahasiswa agung-agungkan rupanya merupakan satu dari kompleksitas problematika mahasiswa yang tetap dibiarkan. Cikal-bakal ini memang telah muncul dari sejak tahun 1870 an yang silam yakni pada masa kolonial Hindia-Belanda yang tengah melakukan ekspansi kekuasan dan pada saat itu mereka telah mendominasi bangku parlemen, dan sebagai satu kebijakannya adalah berlakunya ekonomi-liberal. Indonesia menjadi terbuka untuk siapa saja, baik para pedagang, pemilik modal (kapitalis), dan pengusaha yang kebanyakan mereka adalah bangsa belanda sendiri.

Kemunculan para pemanja keinginan tersebut merupakan awal dari munculnya sifat hedonisme mahasiswa yang merupakan hasil dari rekayasa kaum kapitalis. Mereka (kapitalisme) menciptakan fasilitas-fasilitas mewah seperti mall, coffe mewah, tempat-tempat wisata dan lainnya yang nantinya mereka gunakan untuk mempropagadai mahasiswa agar terlelap pada hingar-bingar kesenangan, sehingga idelisme mahasiswa sebagai makhluk yang kritis dan tau memposisikan diri perlahan-lahan semakin lenyap dan tergadaikan oleh kepentikan pemuasan keinginan diri.

Membaca buku, diskusi, dan mengalisa sosial bukan lagi menjadi identitas mahasiswa. Karna pengaruh kuat propaganda kapitalis untuk mentransisikan idelisme mahasiswa ke dalam bentuk pemahaman yang baru yakni kesenangan diri, pemuasan keinginan dan berfikir untuk diri sendiri (ego sentris) sehingga tak jarang kita menemukan mahasiswa pergi ke kampus mengendarai mobil mewah, memakai pakaian yang bermerk, nongkrong di coffe, shoping di mall setiap akhir pekan jalan-jalan ke berbagai tempat pariwisata bersama pacarnya atau kawan sejawatnya, dan apabila mereka ditanya, berapa buku yang mereka beli? Sudah berapa buku yang mereka baca dalam seminggu? Berapa kali diskusi setiap minggu? Mereka akan menjawab yang penting saya lulus dengan mendapat IP sekian dan menjadi sarjana.

Jiwa kemahasiswaan seakan hilang pun jiwa kemanusiaannya. Mahasiswa telah menjadi objek rekayasa kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya (prinsip ekonomi-kapitalis) tanpa memperdulikan nilai kemanusiaan.

Apabila kita membaca teori kegilaan Sigmund freud dan Michel Foulcoult mereka (pengikut kapitalis/me) adalah gila.

Mereka menjadi hewan karna mereka mengikuti ego dan keinginan secara membabi buta, dan mereka menjadi benda karna mereka hanya selalu menjadi objek rekayasa dari kapitalis. Seperti halnya kita membuat kue, kita akan memposisikan tepung sebagai objek dari kegiatan kita dan itu terserah kita akan mewujudkan bentuk kue yang bagaimana dengan kadar rasa yang bagaimana pula. Maka kita sebagai mahasiswa sangat hina sekali apabila menyamakan diri kita dengan hewan dan benda-benda.

Apabila kita kembalikan kepada tridarma perguruan tinggi yakni, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; kita akan menemukan satu eksistensi mahasiswa yang seharusnya yakni menjadi garda terdepan dalam mengkawal perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik sehingga kesenjangan sosial, dekadensi moral dan ketidak merataan pendidikan dapat segera teratasi. Namun, realitas meyoritas kehidupan mahasiswa saat ini justru menjurus kepada problematika masyarakat itu sendiri dengan aktualisasi kehidupan yang serba pragmatis, hedonis dan ego centris.

Oleh karena itu, perlunya kita sadari sebagai mahasiswa untuk mengembalikan jati diri mahasiswa yang sebenarnya yakni sebagai agent of change,agent of social control dan agent of knowladge, yang merupakan salah satu manifestasinya adalah kritis transformatif, yakni mahasiswa dituntut untuk mengetahui segala bentuk problematika sosial dan memberikan solusi solutif serta terlibat aktif di dalam mengkawal perbaikan tersebut. Mahasiswa bukan hanya memberikan konsepsi-konsepsi semata, namun juga memberikan ruh dalam wujud aktulisasi.

Di sisi yang lain mahasiswa juga harus paham terhadap birokrasi sehingga mereka bisa menyikapi segala bentuk kebijakan yang diterapkan secara objektif. NKK (normalisasi kehidupan kampus) yang diberlakukan beberapa dekade yang lalu sebagai depolitisasi pemerintah untuk meredam perlawanan terhadap kebijakan pemerintah pada waktu itu tidak perlu kita ungkit dewasa ini. Mahasiswa tidak hanya untuk meneliti, belajar dan pasif. Tapi mahasiswa harus bisa mengkawal perubahan dan perbaikan di masa depan.

Perlawanan yang dimaksud bukan hanya perlawanan dalam wujud demonstrasi. Akan tetapi perlawanan yang sekiranya bisa mengubah keadaan sosial menjadi lebih baik dan hal tersebut tidak harus demonstrasi. Oleh karena itu mahasiswa dituntut untuk produktif, kreatif dan inovatif. Sebagaimana adegium Tan Malaka revolusi adalah mencipta yakni menciptakan kreatifitas diri dan lingkungan sosial agar supaya mereka tidak hanya mengadopsi budaya konsumtif.

Satu lagi propaganda kapitalis adalah mahasiswa yang cenderung mengekor kepada realitas kebanyakan orang tanpa adanya filterisasi baik dan buruknya. Asalkan dilakukan oleh kebanyakan orang hal tersebut menjadi benar oleh mahasiswa. Mereka cenderung tidak memiliki patokan atau asas pemilihan sesuatu secara mandiri karna yang dianggap banyak dilakukan orang adalah itu yang baik. Salah satu wujud dari penyimpangan massal tersebut adalah mereka cenderung menjustis segala bentuk perlawanan yang dilakukan oleh minoritas sebagai sesuatu yang menyimpang dan salah bahkan tak jarang mereka mengecam hal tersebut. Padahal usaha perlawanan tersebut adalah untuk menuntut keadilan dari penyimpangan mereka (pemimpin yang tirani dan kaum kapitalis).

Mahasiswa ceroboh dalam mengklaim sebuah kebenaran sehingga yang mereka lihat adalah siapa yang mengatakan. Dan apabila mereka itu orang yang memiliki kekuasaan dan pemigang sistem sudah dipastikan benar tanpa ragu sedikitpun walaupun sejatinya substansinya masih belum mereka fahami dan hal tersebut sangat ironi sekali apabila tetap mendarah daging dalam kehidupan mahasiswa.