Krisis Kebhinekaan

JATIM AKTUAL,- Sekitar 72 tahun silam, bangsa ini dilahirkan. Hal itu ditandai dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Ir. Soekarno, pada tanggal 17 agustus 1945, di jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta pusat. Peristiwa itu tentu disambut gembira oleh seluruh rakyat Indonesia, karena sebentar lagi akan terbebas dari ancaman kolonialisme dan penghapusan identitas budak di negeri sendiri. Untuk mencapai itu semua tentu tidaklah mudah. Butuh pengorbanan yang besar, air mata, darah, bahkan nyawa menjadi taruhannya, untuk mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Sehingga pada saat ini kita dengan mudahnya hidup tanpa ada yang mengancam dan meneror.

Indonesia adalah Negara majemuk yang menganut faham pancasila sebagai ideologinya dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, "Berbeda-beda tapi tetap satu". Semboyan itulah yang kemudian mampu menyatukan seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Hiruk pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara sudah tentu dirasakan, dengan berbagai problematika yang terus menghantui sistem kepemerintahan. Namun para kaum imperialis sudah tidak bodoh lagi untuk menodai perdamaian di negeri ini, jika dahulu mengadu domba antara ummat beragama. Namun sekarang justru islam yang diadu domba dengan sesama islamnya. Menebar kebencian disana sini, kegiatan politik yang dibungkus rapi dengan agama, penyebaran ideologi radikal, intoleran, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mengancam keutuhan negeri ini.

Tentu itu semua adalah model kolonialisme baru yang dinilai lebih berbahaya.

Dengan krisisnya kebhinekaan maka para kaula muda wajib untuk membentengi diri dari faham-faham lain yang keluar dari koridor pancasila, dengan semangat itu kami para pemuda berkumpul, ikut berkontribusi penuh dalam menyiarkan perdamaian di negeri ini.

KCD (Komunitas Cinta Damai) yang tergabung dalam Peace Generation turut hadir dengan membawa misi perdamaian.

"Kalau peace generation itu sangat bagus, karena disana kita diajarkan untuk menjadi trainer, supaya kita bisa mulai melakukan gerakan perdamaian ke sekolah, pesantren, kampus maupun instansi. Dan besar harapan kami agar para pemuda mampu meneruskan cita-cita para pendahulu kita". Ujar Taufik Hidayat selaku direktur KCD dalam pertemuan dengan kami di hotel Posters, Bandung, 12 Mei 2017.

-----------
Penulis : Sholahudin Al Ghazali
Editor    : Ahmad

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment