kehilanganMu ( Abie ) Sebuah Persembahan oleh Zainab -->
Cari Berita

kehilanganMu ( Abie ) Sebuah Persembahan oleh Zainab

Wednesday, May 31, 2017

Mahasiswi Stain Pamekasan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

JATIMAKTUAL,  OPINI, - Seiring dengan berputarnya waktu. Berawal dimana saat saya berada dalam kandungan sang umie, hingga akhirnya saya lahir ke Dunia ini, suara tangisan yang menggetarkan isi dunia, hingga detak jantung sang umie sangat kencang, saking bahagianya karena mendengar tangisan puterinya yang ke dua ini, karena telah lahir dengan selamat.

Waktu terus berjalan dari umur 1 minggu menginjak 1 bulan hingga akhirnya, di usia saya yang menginjak 2 bulan, dimana saya belajar menatap Dunia, dan ingin menatap seperti apakah Umie dan sang (Abie). Pada umur 12 bulan (1 tahun) saya belajar menirukan orang-orang jalan. Waktu begitu cepat dimana saat saya umur 7 tahun, saya mulai menginjakkan kaki dibangku pendidikan dari SD, MTS, SMAI sampai sekarang ini saya berada di bangku kuliah khususnya di STAIN Pamekasan.

Bergulirnya pagi dan malam kini serasa begitu cepat bagi diri ini, 8 tahun saya menemani (Abie) selama 8 tahun silam pulalah, beliau berusaha melawan penyakit yang di deritanya. Berbagai tempat sudah didatangi untuk berobat, namun tidaklah mendapatkan hasil, sampailah pada titik kejenuhan dan kebekuan ide dalam keluarga kami, akhirnya Beliau dilarikan ke “RSU” Pamekan Panglekur, Tepatnya pada hari sabtu 14 Ramadhan 2016 setelah subuh, selama 3 hari 3 malam Beliau tidak makan sesuap nasi, hanya air dan madu yang mampu beliau telan, untuk mengisi perutnya yang kosong. Pada hari selasa 17 Ramadhan 2016 Beliau memaksakan diri untuk di bawa  pulang, sesampainya di Rumah Beliau seperti orang yang tidak sakit (sehat). Kesehatan itu membuat kami tersenyum bahagia. Namun, Tuhan berkata lain. Semuanya palsu. Semuanya bohong.

Hanya senyum sesaat. Saat jam menunjukkan jam 02 siang Beliau telah menghembuskan nafas yang terakhirnya. Kini Dia benar-benar pergi. Pergi pada dunia yang berbeda, alam yang berbeda. Tunggu anakmu di tempat indahmu, Abie.
Tidak terasa sudah mendekati satu tahun saya di tinggal oleh sang (Abie) tercinta, kepergiannya banyak menyisakan kenangan yang tak mampu saya lupakan, Abie yang saya anggap sebagai motivator dalam kehidupan kami merupakan kepala keluarga dalam rumah tangga, dan umie sebagai wakilnya, sedangkan kami 3 bersaudara, sebagai peramai dalam keluarga mereka.

Hari-hari yang saya lalui bersama keluarga kini bagaikan air mengalir tanpa tujuan, namun saya dan keluarga punya prinsip haruslah tabah dan menerima semua yang sudah menjadi masa lalu. Walau dihati masih saja mengenang tentangnya dan mennginginkan untuk selalu bersama, namun apalah daya niat hati ingin selalu bersamanya, untuk selama-lamanya tidak terkabul, karena Tuhan lebih sayang ke padanya dibandingkan kami. Saya tahu dibalik semua yang sudah terjadi, pasti ada hikmah dibalik kepedihan yang menimpa diri ini, yang lebih besar yang akan kami tuai nantinya.

Seperti ombak yang menembus dinding batu tanpa merasa bersalah layaknya hidup saya, yang selalu berlayar di atas lautan, tanpa mengenal arah namun tetap saya jalani. Begitu menyayat saat teringat pada hari selasa tanggal 17 Ramadhan 2016 H. tepatnya pada jam 02 siang itu, kini saya kehilangan nyawa sang motivator,( Abie) dan harus melepaskan dengan tangan yang terkapar dipangkuan sang kakak dan umie tercinta, kata lapang dada adalah kata sebagai penenang diri saat melihat semua dengan seksama di depan mata. Walau pada kenyataannya sangat berat dan sangat pahit untuk saya terima semua yang sudah menimpa diri ini.

Pada dasarnya kehilangan adalah ilusi semata, tapi tidaklah mudah diterima secara logika, kita sebagai orang yang berpendidikan setidaknya tahu, bagaimana cara menyikapi dan menghadapi lika liku yang terjadi pada diri kita. Hanya satu yang ingin saya sampaikan tetaplah semangat dan berdo’a bahwa segalanya akan kembali pada sang Ilahi Rabbi.