Berkompetisi dengan Prestasi -->
Cari Berita

Berkompetisi dengan Prestasi

Tuesday, May 30, 2017

Oleh: Nur Kholidah

JATIMAKTUAL,  ARTIKEL, - Kita hidup di dunia ini tidak hanya untuk sekedar makan dan minum saja, melainkan juga sebagai kholifah yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk selalu aktif memberikan “warna cerah” dalam panorama kehidupan.

Sehingga dengan adanya berbagai seni dan aktifitas hidup ini, apakah hanya hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Semuanya tergantung pada diri kita masing-masing. Tetapi sebagaimana dikemukakan oleh Robert J Tamasy, hidup di dalam dunia ini, upaya menunjukkan keunggulan diri (self promotion) tidak hanya dianggap biasa, tetapi juga seolah dianjurkan, bahkan kita dituntut untuk melakukannya. Kita masih ingat sebagaimana yang dikatakan Mohamad Ali ketika meraih gelar juara tinju dunia, dia berteriak “Sayalah yang terbesar”.

Ungkapan itu merupakan pernyataan kebanggaan akan keunggulan diri dan prestasinya dalam olah raga tinju. Sebenarnya untuk berprestasi tidak hanya di bidang olah raga saja, melainkan juga dapat diraih dalam hal seni atau ilmu pengetahuan.

Berbicara masalah kompetisi dengan prestasi, terkadang kita terkontaminasi dengan keadaan yang menghalalkan segala cara demi meraih “prestasi” yang akan dijadikan kebanggan bahwa itu adalah capaiannya, istilah mediang KH. Zainuddin MZ, “jika perlu jilat atas maka jilat atas, jika perlu injak yang bawah maka injak yang bawah, dan jika perlu sikut kiri-kanan, maka akan sikut kiri-kanan”. Hal semacam ini tidak jarang kita temukan di sekeliling kita, mulai dari instansi pemerintahan, kehidupan sosial bahkan dalam ranah pendidikan pun tak luput dari pengaktualisasian prinsip komunis ini.

Kompetisi yang seharusnya melahirkan generasi yang berprestasi malah akan menjadi lahan yang mudah terceramari dengan berbagai propaganda dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Padahal jika kita mau berpikir, manusia tidak lain hanyalah “wayang” yang disutradai oleh Sang Dalang kehidupan alam semesta ini, setelah wayang masuk peti, wes selesailah kiprah kehidupan kita. Pernahkah kita berpikir ke arah itu dan akan menuai hasil apa yang kita tanam selama di alam dunia? Kita sendiri yang tahu jawabannya. Namun yang pasti, bahwa sebuah kebanggaan prestasi yang diraih dengan cara najis tidak akan pernah menyelamatkan kita di kehidupan nanti.

Hal inilah yang sering kita lupakan karena terkadang kita terbuai dengan berbagai pujian yang orang lain dedikasikan buat kita meskipun sebenarnya pujian itu tidak pantas untuk kita sandang. Tak jarang kita temukan orang yang sok jadi orator namun pada hakikatnya tidak lebih dari seorang provokator, yang sok jadi pahlawan namun pada akhirnya akan menimbulkan perpecahan, yang sok peduli namun pada kenyataannya hanya ingin dipuji. Inilah hidup yang penuh warna ini, kita perlu kreatifitas dan improvisasi lebih supaya kita bia meraih yang terbaik dalam kompetisi dengan prestasi, bukan hanya mencari sensasi.

Salah satu aturan main dalam permainan hidup (the game of life) adalah diberlakukannya hukum kompetisi/persaingan. Kenyataan menunjukkan semua orang memiliki keinginan umum yang sama: ingin kaya, ingin dihormati atau ingin berprestasi di bidang tertentu. Akan tetapi tidak semuanya dapat mencapai apa yang diinginkannya. Mengapa demikian?
       
Hal ini karena masing-masing individu memiliki potensi diri yang berbeda dengan lainnya. Pengertian potensi diri adalah kemampuan yang dimiliki setiap pribadi (individu) yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan dalam berprestasi. Potensi diri adalah kemampuan yang terpendam pada diri setiap orang, setiap orang memilikinya (Siahaan, Parlindungan,2005:4). Potensi diri ada yang positif dan  ada yang negatif (Sujiayanto dan Muhlisin, 2004:2), Potensi-potensi diri yang positif itualah yang harus kita kembangkan, yakni:

Pertama, Memiliki idealisme. Sebagai generasi muda setiap individu harus memiliki ide yang diyakini kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkannya dalam tujuan hidupnya.

Kedua, Dinamis dan kreatif. Sifat dinamis dan kreatif dalam arti selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma kesusilaan dan norma kesopanan.

Ketiga, Keberanian mengambil resiko. Setiap tindakan yang dilakukan bukan tanpa resiko, karena ada sebab pasti akan ada akibat. Untuk itu sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapinya serta mengatasinya dengan baik.

Keempat, optimis dan kegairahan semangat. Manusia yang hidup di era globalisasi sekarang ini tidak boleh  pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Para pahlawan telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia tetapi kita yang harus mempertahankannya dengan mengisinya melalui karya  yang positif.

Kelima, kemandirian dan disiplin murni. Menjadi bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan saja tetapi juga terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, dan mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi (Zainun Mu’tadin, 2002:1).

Keenam, Fisik yang kuat dan sehat. Tentu saja, apa artinya jiwa yang meledak-ledak penuh semangat dengan berbagai ide jika tidak ditunjang oleh fisik yang kuat dan sehat tidak akan ada artinya. Untuk itu harus memperhatikan masalah yang satu ini karena sangat penting peranannya. Ingat dengan adanya pepatah di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat (mensana in corpore sano).

Ketujuh, Sikap kesatria. Kesatria adalah sikap yang sportif yaitu berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, dan bersedia minta maaf untuk tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Dalam masyarakat Jawa, orang baru pantas bergelar ksatria jika dapat menang tanpa mengalahkan. Kemudian mengalahkan tanpa merendahkan dan menyerang tanpa menyakiti.

Kedelapan, terampil dalam menerapkan IPTEK. Melalui pendidikan dan pelatihan para siswa diharapkan dapat melatihnya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah. Jika memungkinkan dapat diperdalam di luar sekolah. Sehingga menjadi generasi muda yang tidak gagap teknologi, dan dapat bersaing dengan bangsa lain di dunia ini.Setelah itu mereka diharapkan dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari.

Kesembilan, kompetitif. Di tengah persaingan dunia seperti sekarang ini setiap individu harus mampu menunjukkan kelebihan dirinya, diantaranya dengan berkompetisi dengan bangsa lainnya.

Kesepuluh, daya pikir yang kuat. Setiap orang supaya berhasil harus memiliki daya pikir yang kuat. Untuk itu   mereka harus didukung dengan motivasi yang kuat dalam dirinya. Oleh karena ini merupakan penggerak untuk melakukan aktivitas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Descartes “Aku berfikir maka aku ada”. Jika orang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berfikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dan berkompetisi dengan baik.

Oleh karena itu, marilah kita mulai berkompetisi dengan mengedepankan prestasi bukan malah emosi. Masalah pribadi bukanlah hal yang harus ditonjolkan dalam hal dan situasi yang harus mengedepankan fair play. Kompetisi baru kita mulai dalam tahap kehidupan dewasa ini. Oke lah jika kompetisi yang kita jalani sehat, namun jika sebaliknya ke mana kita akan melangkah? Toh semuanya berlandaskan ilmu pengetahuan, bukan?? Selamat Berkompetisi dengan Prestasi!

*) Penulis adalah mahasiswi STAIN Pamekasan