Aktivis Bondowoso Soroti Penataan PKL di Pamekasan yang Terkesan Dibiarkan Oleh Pemkab Pamekasan.

JATIMAKTUAL, PAMEKASAN,- Tak lepas dari perbincangan penataan dan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) Pamekasan, kini kembali disoroti oleh Junaidi yang akrab dipanggi kang Jhun, aktivis Bondowoso yang kebetulan mengunjungi beberapa tempat pariwisata di empat kota yang berada di pulau Madura, Sabtu (06/05/2017).

Pasalnya dari empat kota yang dikunjunginya, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, dalam hal tersebut banyak yang disinggung baik dari tempat pariwisata, budaya dan yang terakhir terkait masalah penataan PKL, yangmana saat ini gencar-gencarnya penataan PKL tanpa relokasi yang jelas dan strategis.

Junaidi saat ditanya oleh awak media menyatakan bahwa penataan Pedagang Kaki Lima jauh berbeda dengan di daerahnya, hal tersebut muncul setelah mendapatkan banyak penjelasan dari Luthfiadi Aktivis Pamekasan yang waktu itu kebetulan duduk bersama dan sedikit berbincang terkait penataan kota khususnya PKL, Karena pihaknya sangat miris sekali ketika melihat PKL yang tidak mendapatkan perlakuan yang adil.

"Kalau di Bondowoso Namanya Pujasera mas, yangmana di dalamnya terdapat banyak Pedagang Kaki Lima dan losnya berbentuk U, Jadi penataan dari segi parkir tidak amburadul," tegas Jhun kepada jatimaktual.com

"Penataannya betul-betul rapi dan jelas, sehingga terkesan enak di pandang, dan tidak ada oknum yang bermain di dalamnya, kapan Dinas Koperasi yang megang, ya... tetap Dinas Koperasi, jadi tidak terkesan mementingkan secara sepihak. Pernyataan saya siap dipertanggung jawabkan dan ayok stady banding ke Bondowoso, agar penataannya tidak seperti ini," tambahnya.

Setelah disinggung dari masalah pendapatan baik secara pribadi dan Pemkab, beberapa hari di Madura melihat para PKL saat hujan banyak yang kehilangan pendapatannya, padahal di pandang dari sisi positifnya hal ini akan mengurangi pengangguran dan mengurangi masyarakat Pamekasan untuk bekerja keluar daerah, apalagi hasil survei.

Sehingga begitu banyak masyarakat Madura yang berada di Malaysia dan Arab Saudi serta di negara lainnya, itupun banyak yang ilegal.

"Saya sangat miris sekali, tadi malam saya nongkrong disini pas hujan, para PKL banyak yang kecewa dan harus tutup dikarenakan hujan, seharusnya pemerintah Pamekasan harus bersyukur dan menfasilitasi ada masyarakatnya yang giat bekerja seperti PKL, karena ini akan mengurangi pengangguran dan TKI, karna saya mengikuti banyak di negara lain pekerjanya berasal dari Madura," pungkasnya.

Pewarta : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment