Penghancuran Generasi Bangsa Melalui Serbuk Misterius.

Oleh: Syahril Abdillah

Serbuk Misterius?
(Penghancuran Generasi Bangsa)
Siapasih yang tidak kenal dengan istilah narkotika, barang unik, antik bin ajaib yang bisa membuat seseorang melayang-layang merasakan nikmatnya dan tidak segelintir orang merasa ketagihan, ungkapan salah satu pemateri dari BNP Jatim pada saat sosialisasi dan memberikan arahan pada mahasiswa baru pada saat Orientasi Study Cinta Almamater dan Pesantren di salah satu Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Kedung-dung Modung Bangkalan pada tahun 2016.

Dari berbagai sumber, pada dasarnya obat obat terlarang itu di perbolehkan dalam penggunaan medis dan penelitian, namun saat ini obat obatan atau barang haram tersebut di salah artikan dan di salah gunakan. Memang canggih barang tersebut sehingga membuat seseorang kecanduan tanpa batas, tidak sedikit orang orang yang kecanduan merelakan dirinya untuk melakukan hal-hal negatif, sehingga sampai melakukan perampokan dan semacamnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Bukan hanya menjadi pengguna, malahan menjadi agent, pengedar dan pengkonsumsi, hal itu tidak hanya terjadi pada orang-orang dewasa, namun terjadi pada anak-anak di bawah umur dan yang lebih miris, adalah anak-anak yang masih duduk di bangku SD tidak lepas dari cengkraman barang haram tersebut.

Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika perubahan (revisi) dari Undang-Undang nomor 22 tahun 1997 adalah usaha keras dari pemerintah untuk memberantas barang haram tersebut.   Sampai-sampai di negara ini untuk membendung predaran barang haram tersebut untuk beredar didirikan lembaga khusus yang menangani tentang narkotika tersebut, yaitu BNN tingkatan pusat, BNP Tingkatan Provinsi, BNK Tingkatan Kabupaten.

Namun lagi-lagi barang haram tersebut sangat canggih dan dinamis dalam penyebarannya.

Para pengedar lebih canggih dan lebih kreatif dalam mengedarkannya, berbagai nama dalam barang haram tersebut seperti ganja, heroin, kokain, sabu-sabu dan sejenisnya di sulap sedemikian rupa dan menjelma terhadap generasi bangsa lewat berbagai macam cara seperti snaik dan makanan.

Sampai akhir-akhir ini bumingkan dengan di informasikan bahwa barang haram tersebut beredar di lingkungan sekolah, yang berbentuk permen dan di konsumsi oleh anak-anak kecil. 

Entah sampai kapan barang haram tersebut menggerogoti bangsa ini, berbagai cara di lakukan oleh pemerintah untuk memberantas barang haram tersebut, hingga hukuman mati di berikan kepada pengedar oleh pemerintah untuk memberikan efek jera dan mengurangi pengguna di bangsa ini. Namun lagi lagi fakta sosial bicara lain. Adanya fenomina-fenomina sosial yang meresahkan masyarakat saat ini tidak lepas dari pengaruh barang haram tersebut, terjadinya pencurian, perampokan, pemerkosaan, tawuran antar pemuda serta kenakalan remaja selalu di kaitkan dengan obat-obatan yang di anggap sebagai penghancur bangsa ini.

Entah apa yang melatar belakangi para pengidar dan pengguna barang tersebut, apa karena urusan ekonomi yang tidak memenuhi kebutuhan hidup seseorang, mereka mau menjadi pengedar barang tersebut, atau malah mereka hanya iseng dan sudah di siapkan untuk menghancurkan pola fikir dan mental bangsa ini untuk hangus dan jauh dari kehidupan sehat, tentram dan sejahtera.

Lagi-lagi pengedar kebanyakan adalah berangkat dari orang-orang tidak punya, karena tuntutan ekonomi yang sangat tinggi akibat lapangan kerja yang tidak memenuhi, selain itu, kualitas dan kemapuan yang di miliki oleh tiap-tiap orang dalam menghasilkan sebuah penghasilan masih kesulitan mencari wadah yang pas dan mampu menyuplay penghasilan yang cukup.

Apakah ini murni kesalahan pemerintah akibat tidak bisa menyediakan lapangan kerja sehingga mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan? Atau orang-orang yang melakukan hal tersebut ingin mendapatkan penghasilan yang tinggi atau memang di jadikan hoby saja oleh pengedar? Entahlah, pertanyaan cukup menjadi pertanyaan. Realita yang akan menjawab problematika yang di anggap sebagai pembunuh bagi generasi bangsa ini.

Namun ketika barang haram tersebut sudah mulai merembet dan anak-anak di bawah umur menjadi sasaran empuk dan korban, maka jangan harapkan bangsa ini akan lebih baik.

Komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk mencegah
Generasi bangsa sebagai konsumsi aktif dan massif, serta memutuskan mata rantai kaderisasi pengedar di negeri ini adalah sebuah keharusan.

Mari kita bersatu memerangi dan memberantas barang haram tersebut, jangan sampai bangsa ini hancur lebur akibat generasi bangsa kita di kuasai oleh barang haram tersebut.

Bukan hanya mengatakan tidak pada narkoba, namun, katakan perang pada narkoba juga harus lantang di suarakan oleh berbagai kalangan.

Editor : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment