Anies Menang: Tahanlah Rasa Gembira, Jangan Berpesta Ria.

Sumber Foto : Google.
Oleh: Asyari Usman (Mantan Wartawan BBC) 

Asyari Usman (Mantan Wartawan BBC)

Setelah cukup jelas kemenangan Anies-Sandi di pilkada Jakarta, sebagai orang yang terbiasa dengan nasihat Baginda Nabi Muhammad SAW, marilah sama-sama kita tahan gemuruh perasaan senang kita. Itulah indahnya mengikuti naishat Nabi. “Janganlah kalian terlalu banyak tertawa,” kata beliau. Kalau pun sedang dilanda rasa gembira, cukuplah tersenyum seadanya. Bukan berpesta-ria.

Mari kita sebarluaskan ajakan untuk tetap biasa saja menyambut kemenangan Anies.

Memang banyak alasan untuk berpesta. Tetapi, berpesta bukanlah cara terbaik untuk menerima kemenangan. Sebagaimana kita dianjurkan untuk bersyukur dalam berbagai bentuk dalam menerima rezeki, rahmat, dan berkah dari Allah SWT, kemenangan Anies-Sandi ini pun lebih baik kita terima dengan ekspresi kesyukuran yang jauh dari format hura-hura.

Mari kita perbanyak istighfar, tasbih, tahmid, dan tahlil. Kita jadikan pula kemenangan ini sebagai bentuk pengabulan doa yang tak putus-putusnya Anda sampaikan kepada Allah SWT. Kita jadikan kemenangan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kekurangan dan kekeliruan kita dalam berinteraksi dengan Allah SWT dan juga cara kita berinteraksi dengan sesama manusia.

Kita jadikan kemenangan ini sebagai momentum untuk lebih banyak berinteraksi dengan saudara sebangsa yang ada di ruangan yang lain, yang mungkin selama ini “salah paham” terhadap kaum Muslimin. Yang selama ini mungkin dibayangi oleh momok Islam itu semena-mena. Mari kita tunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak menyimpan keinginan dan misi untuk mencederai orang lain.

Mari kita jelaskan kepada saudara-saudara yang lain bahwa suasana yang terasa sangat konfrontatif selama ini, merupakan kekeliruan yang ditunjukkan oleh elit politik dan kekuasaan dalam mengelola sentimen rakyat Jakarta dan rakyat Indonesia pada umumnya. Orang sering menyebut kekeliruan seperti ini dengan istilah “out of touch” (“enggak nyambung”, kata bahasa prokem).

Elit politik dan elit kekuasaan anggap enteng terhadap keresahan kaum Muslimin terkait dengan kolaborasi yang terang-benderang antara para pemilik kekuasaan dan pemilik modal. Yaitu, kolaborasi yang dilihat sangat berbahaya bagi semua orang dari latarbelakang apa pun juga. Kolaborasi yang pada akhirnya akan menggeser kedaulatan rakyat ke posisi yang tidak terhormat, yang kemudian akan digantikan oleh “kedaulatan oligarkhi konglomerat hitam”.

Inilah yang menyebabkan seluruh kaum Muslim di Inonesia “sangat terganggu” melihat perkembangan yang terjadi di Jakarta, yang membuat mereka semuanya meyakini bahwa situasi di Ibukota adalah barometer “hidup-mati kita”. Keyakinan itulah yang membawa mereka all-out (mati-matian) ingin “merebut” Jakarta, yang pada gilirannya menaikkan suhu sosial-politik di seluruh Indonesia.

Kita berharap, kemenangan Anies-Sandi di Jakarta ini akan menjadi pelajaran berharga bagi elit politik dan kekuasaan yang seharusnya memikul tugas kepemimpinan (leadership). Yaitu, tugas yang tidak hanya terbatas pada manajemen entitas politik atau instansi kepemerintahan, melaikan kepemimpinan yang bisa menangkap aspirasi dan hasrat rakyat dan kemudian mengelolanya menjadi sebuah “komplek perumahan yang asri dan sejuk” untuk semua orang tanpa melihat apa agamanya, sukunya, rasnya, kayanya, miskinnya, sakitanya dan sehatnya.

Hari ini kita keluar dari “dera psikologis” yang terus menggantung di atas kita, dan semoga Indonesia yang berbhineka dan beragam tidak lagi terguncang hanya karena kekeliruan yang “out of touch”.

Selamat untuk Gubernur Anies Rasyid Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno. Pekerjaan berat menanti Anda di Balai Kota, tetapi semuanya bisa menjadi ringan kalau kita kerjakan secara bersama-sama.(*)

Publisher : Faisol
Sumber Info : Grup WhatsApp "Dunia Politik".

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment