Kisah Haru Stadion GRP: Ternyata Bermula Dari Nama "Pamellengan".

JATIMAKTUAL, PAMEKASAN,- Tak usai kritikan demi kritikan yang dilakukan oleh Supporter Pecinta Bola (SPB) Pamekasan saat ini, di mulai dari awal berdirinya Stadion Gelora Ratu Pamellingan Pamekasan, hingga sampai saat terlaksananya beberapa pertandingan setelah mampu menjadi tuan rumah dalam laga piala Presiden 2017.

Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP) yang awalnya bernama Stadion Pamellengan dan diresmikan dengan nama Pamellengan yang saat itu protokoler terkesan sulit untuk di ucakpkannya, sehingga harus diganti dengan nama Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP).

Sebelum diresmikan menjadi Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP), mendapat banyak kecaman dan kritikan dari Supporter Pecinta Bola (SPB) khususnya mesyarakat Pamekasan. Ditambahnya lagi dengan adanya supporter yang mempunyai tiket resmi namun tidak bisa menikmati pertandingan Madura United Vs Persija yang sedang berjalan didalam stadion baru di Pamekasan, karena mereka semua tidak bisa masuk, dengan indikasi kapasitas penonton tidak sesuai dengan jumlah tiket yang terjual dan banyaknya dugaan calo tiket yang menyebar disetiap penjuru.

Ternyata Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP) yang hanya indah sesaat dan menjadi kebanggaan bagi Supporter Pecinta Bola (SPB) dan masyarakat Pamekasan dulu, karena mereka bisa menikmati pertandingan secara langsung dan menikmati pertandingan dengan mata telanjang guna melihat pemain-pemain favoritnya. Namun, semua itu hanya sesaat, karena mereka semua kini tidak bisa menikmatinya lagi, dan yang paling terharunya lagi Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP) begitu sangat becek, padahal stadion ini masih berlebel baru.

Kini muncullah sebuah permasalahan baru saat pertandingan persahabatan antara Persepam melawan Gersik tadi sore, yangmana penonton membentangkan tulisan di atas kain kafan yang bertuliskan "SAVE SGRP INI STADION BUKAN PENJARA", ini sebuah seruan dari para penonton secara serentak yang terdengar disetiap sudut tribun, dikarenakan terdapat sebuah besi pembatas/pagar yang begitu besar dan begitu tingginya, sehingga penonton merasa kurang puas dalam menikmati setiap pertandingan.
Dengan serentak para penonton berteriak mengikuti seruan yang lain dengan nada yang lantang menyuarakan :
"Ini Stadion atau Kandang Sapi?".
"Ini Stadion atau Tempat Kerapan Sapi?".
"Ini Stadion Apa Penjara, kok Besinya Sangat Besar?".
(Dalam Bahasa Madura, dengan Nada Emosi)


Harapan demi harapan darai beberapa penonton yang berdiri dengan wajah kecewa agar Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP) dirubah layaknya stadion bertaraf Nasional lainnya, tanpa harus menggunakan besi besar dan tribun yang tinggi untuk lebih memuaskan para penonton.

Penulis : Luthfiadi Sang Motivator Muda
Editor : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment