Dua Kali Lakukan Aksi Tolak Pembangunan Jaringan Listrik untuk Pertambangan, PT. BSI Tak Merespon

JATIMAKTUAL, BANYUANGI,- Para perempuan Desa Sumber Agung Kecamatan Pesanggaran lakukan aksi tolak pembangunan jaringan listrik yang akan digunakan oleh pertambangan PT. BSI (Bumi Sukses Indo) di dekat lokasi pertambangan emas Gunung Tumpang Pitu. Senin (06/03/2017).

Dalam aksi penolakan pembangunan jaringan listrik tersebut, masyarakat harus berhadapan dengan aparat pemerintah dari Polres se-tapal kuda, Sat Pol PP serta TNI yang mengamankan lokasi aksi tersebut, karena dikhawatirkan terjadi ricuh.

Masyarakat melakukan aksi duduk di jalan sekitar pengurukan tanah pembangunan jaringan listrik dengan maksud untuk menghadang pekerja PT. BSI, utamanya demi menjaga kerusakan lingkungan.

"Kami menolak pemasangan kabel listrik, karena di peruntukkan sebagai operasi pertambangan PT. BSI yang jelas-jelas merusak lingkungan kami, maka kami harus menolaknya". Ujar Ibu Siti Diah selaku korlap aksi.

Ironisnya, ketika aparat kepolisian ditanya tugasnya, malah hanya menjawab untuk menjaga pembangunan kontruksi jaringan listrik. padahal warga sudah mewanti-wanti dengan adanya listrik ini aparat kepolisian termasuk mensukseskan perusakan lingkungan di wilayah Tumpang Pitu.

"Bapak polisi tugasnya mengamankan rakyat dan rakyat aksi disini karena kami merasa terancam, seharusnya mereka yang merusak itu yang di amankan". Tegas Ibu Siti Diah kepada para aparat ditengah-tengah berlangsungnya aksi.

Dalam gejolak protes warga, sempat terjadi peristiwa yang mengharukan. Pasalnya warga menyanyikan lagu nasionalisme Indonesia Raya di hadapan aparat kepolisian.

"Menyanyikan lagu Indonesia Raya ini sebagai bentuk ketidakberdayaan, namun kita percaya bahwa negara masih ada untuk rakyat". Pungkas Ibu Siti Diah
Warga Desa Sumber Agung tak hanya berhenti disitu saja ketika tak mendapat respon dari PT. BSI. Dua hari setelah itu warga setempat kembali melakukan aksi, sehingga ia terlibat aksi saling dorong dengan aparat Kepolisian saat mencoba menghadang alat-alat berat yang berupaya melintasinya, Rabu (08/03).

"Aksi saling dorong ini mengakibatkan seorang perempuan sempat pingsan". Ujar salah satu peserta aksi yang tak mau disebutkan namanya.

Sesuai data yang tertera dalam amdal, kebutuhan daya listrik proyek akan disediakan menggunakan transmisi Jawa-Bali milik PLN, suplai didapatkan dari sub-station di daerah Pesanggaran.

"Total kebutuhan daya listrik adalah sebesar 6 MW yang disediakan dari PLN. Listrik di distribusikan menggunakan jalur kabel 11 KV ke fasilitas perusahaan". Terang Utsman salah satu Mahasiswa aktivis PMII yang ikut serta mendampingi dan mengawal aspirasi masyarakat.

Menurut keterangan beberapa warga, pasokan listrik yang di peruntukkan perusahaan adalah stok masa depan transmisi Jawa-Bali, sebesar 20 Mega Watt (MW) tanpa disadari sumber energi kita sebagian di habisi PT. BSI, yang menjadi kekhawatiran dasar warga adalah pusat pertambang yang merupakan kawasan hutan lindung dan pesanggaran yang wilayahnya rawan bencana.

Namun dari aksi tersebut, keluhan dan aspirasi masyarakat tak dihiraukan oleh PT. BSI, pihaknya tetap menanam kabel walau warga masuk ke dalam galian dan pengerukan tanah tetap berjalan lancar.

Utsman selaku aktivis Mahasiswa PMII Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (PMII UNTAG) menyatakan bahwa  akan selalu siap mendampingi dan ikut serta mengawal aspirasi masyarakat.

"Kita sebagai mahasiwa tak akan berhenti disini, kita akan selalu menyampaikan dan mengawal aspirasi masyarakat". Tutupnya.

Pewarta : Afif
Editor : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment