Ber-Ukhuwah Bukan Sekedar Konsepsi, Melainkan Praktisi.

Mahasiswa STAIN Pamekasan
JATIMAKTUAL, ARTIKEL, Mahasiswa STAIN Pamekasan.

1.Ukhuwah, apa yang kita fahami tentang ukhuwah?

luasnya bentangan alam semesta yang dilengkapi oleh mahkluk hidup terutama manusia, manusia adalah makhluk hidup sekaligus makhluk sosial yang memiliki karakter yang berbeda satu sama lain dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas, serta makhluk sosial pasti dan pasti membutuhkan manusia yang lain dan juga mengakui keberadaannya, yang menimbulkan naluri serta ikatan-ikatan yang dikenal sebagai ukhuwah. Ukhuwah sendiri adalah mengikatnya hati dan jiwa dengan aqidah, merupakan ikatan yang paling kokoh dan mahal harganya, Al-Banna mengatakan ukhuwah itu adalah saudara keimanan sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 10 Artinya. “Orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara”, jadi perkara yang menyenangkan dalam berukhuwah itu adalah bunga dan madu, namun pada penat, susah payah bersama itu pula lah sebenarnya penguat rabitah. lantas apa sih hakikat dari ukhuwah itu sendiri?. Apakah kita hanya sekedar tau akan ukhuwah?. Gembira meluang masa bersama dikala senang, tapi menjauh sendiri dikala seruan bekerja mengislah umat dipelukan. Apakah sekadar itu ikatan kita?.

Banyak orang yang beraktivitas tetapi juga berkutat dengan permasalahan dirinya, seperti masalah keluarga, keuangan, dan akademis banyak ditemui di kalangan aktivis dakwah kampus. Bahkan, termasuk diri kita yang sedang menghadapi masalah tersebut. Kondisi ini terkadang menjadi kurang maksimal, beberapa orang mampu menghadapi masalahnya sehingga pendekatan tetap berjalan dengan profesional terutama kepada saudara kita, namun yang lain tidak demikian. Pada keadaan seperti itulah ukhuwah seharusnya tampak. Tak mudah untuk memberi perhatian apalagi ketika diri kita pun memiliki permasalahan yang harus diselesaikan. Namun, menjadi egois ketika saudara seperjuangan tidak kita coba bantu menyelesaikan permasalahannya.

2. Dampak Ekologis, Ukhuwah di Dunia Nyata.

Ikhwah fillah, sesungguhnya dalam berukhuwah ada pelajaran lain yang bisa kita ambil. Pelajaran tentang empati yang membuat kita mampu lebih memahami saudara kita dan mampu memberikan bantuan yang terbaik bagi saudara kita. Empati itu hadir ketika kita mau belajar untuk mendengarkan tentang kabar saudara kita. Bukan sekedar mendengarkan biasa, tetapi memaknai setiap kabar yang diceritakan oleh saudara kita. Bukan pula mendengarkan secara basa-basi dimana telinga kita mendengarkan tetapi pikiran kita jauh ke hal lain. Empati akan muncul dari diri kita yang mampu mendengar dengan hati dan pikiran yang berada di sini dan saat ini.

Kita juga belajar tentang pengorbanan dalam berukhuwah, membantu seorang saudara terkadang harus mengorbankan sesuatu hal yang pada diri kita. Ikhlas adalah kunci untuk kita dapat menikmati pengorbanan itu. Berkorban tanpa menuntut adanya balasan terhadap apa yang kita lakukan. Berkorban karena kita ingin mengungkapkan rasa cinta kita pada sahabat seperjuangan apalagi didalam organisasi, yang butuh kekompakan serta merevitalisasikan hubungan persaudaraan seperti halnya keluarga, bisa diambil kesimpulan ukhuwah bukan sekedar tumbuh dihati kita melainkan bisa menghidupkan ikatan-ikatan (ukhuwah) dilingkungan kita. Lantas bagaimana kita merevitalisasikan kesadaran ber-ukhuwah?.

3. Merevitalisasikan kesadaran Ikhwah dalam ber-ukhuwah.

Ketika seseorang memahami makna dari sebuah ikatan persaudaraan itu sendiri maka ia faham akan ukhuwah merupakan satu diantara pilar-pilar yang memperkokoh ikatan itu sendiri, lantas apakah kita sudah memeperkuat ukhuwah secara ahsan?. Memandang Islam sebagai agama yang “rahmah li ‘alamin”, yakni agama yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, bahkan seluruh kosmis, konsep tersebut harus ditopang dengan landasan yang kuat, yaitu landasan kiblat umat yang disimpulkan dalam ka’bah sebagai sarana kesatuan tauhid seluruh umat Islam, serta berlandaskan pada Al-Quran dan Al-Sunnah sebagai jalan hidup dan penengah bila terjadi perselisihan antara umat Islam.

Dalam rangka peningkatan dan pengembangan kesadaran Ukhuwah, kita memerlukan sikap-sikap dasar yang dapat mengkondisikan tumbuhnya budaya ukhuwah, seperti sikap sabar, lapang dada, terbuka, maupun mengakui kebenaran dan kebesaran dari manapun datangnya, dan juga kita tidak memaksakan “keseragaman” yang tidak atau belum diterima pihak lain, tidak menilai perbedaan pendapat sebagai permusuhan, lebih mengutamakan “kesamaan” yang ada daripada perbedaannya, dan lain sebagainya. Upaya-upaya pendekatan lebih lanjut memang masih perlu disempurnakan. Masih cukup banyak jalan yang dapat ditempuh asal ada kemauan yang sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.

Penulis : Achmad Ubaidillah
Editor : Faisol

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment