Pengorbanan Pelangi

Ditulis oleh. Titin Widyawati
Edaran Mentari, 4-4 Mei 107-107
Di Rembulan Untuk : Makhluk Bumi.

JATIMAKTUAL, CERPEN,- Aku duduk di permukaan Rembulan. Gumpalan-gumpalan wajahnya yang menonjol seolah menjadi bebangkuan taman bagiku. Di atasnya aku bersilah memangku airmata. Angkasa yang kosong akan ruangan hampa, kuisi dengan jeritan-jeritan asa. Di balik tubuhku, ada sederet planet-planet yang mengelilingi Matahari. Mereka berputar pada poros masing-masing. Tak ada yang saling bertabrakan. Angkasaku hitam namun terang akan cahaya Rembulan dan Bintang-gumintang. Aku ingin menampar wajah Bumi yang sombong dan angkuh itu, namun apalah dayaku yang tak memiliki gravitasinya. Airmataku meleleh, membuat cahaya Rembulan menjadi remang. Aku sedih, karena aku tak bisa berbuat apa-apa yang kukehendaki.

    Aku benar-benar sedih, mengamati tubuhku yang tak elok. Tonjolan-tonjolan merah di keningku, membuatku seolah menjadi makhluk yang tak pantas menghuni Bumi. Aku malu kepada sesama, aku malu dengan desah angin lalu. Tanganku yang berjumlah tiga, kugunakan untuk mencabik-cabik dadaku sendiri. Sementara yang dua mencakar-cakar wajahku. Mungkin makhluk Bumi akan menghirup bau anyir tubuhku dengan indra penciumannya, darah merahku akan terkesan menjijikkan dan memabukkan penciuman. Semua isi pencernaan mereka pun akan muntah, tak tahan aroma tajam bacinku. Aku memiliki satu telinga di belakang kepalaku, namun tak memiliki hidung seperti manusia.

Sekilas aku menoleh ke belakang. Satu Bintang merah melayang di sana. Lenteranya sungguh memukau mataku yang hanya ada satu. Yah, mataku sebesar piring. Pupilnya kuning, sedikit mengoval. Ada garis-garis hitam di setiap sudutnya. Aku tak memiliki alis mata, kelopak mata juga tidak. Dengan itu mataku terbuka setiap waktu. Aku tak punya nafsu makan yang rakus, namun punya tiga rasa dan tiga otak. Rasa sedih, marah dan bahagia.

Dengan ketiga otak tersebut, aku bisa membaca kehidupan makhluk lain. Contohnya, makhluk-makhluk Bumi yang menurutku sangat aneh. Tak ada lelah atau pun penat, namun sedih selalu menyelubungi jiwaku. Hatiku hanya separuh, terletak di belakang tulang rusukku yang bersampingan dengan otakku yang hitam. Kedua otakku yang satu berwarna abu-abu terletak di ubun-ubun kepalaku, dan yang satunya lagi putih, ia terletak di telapak kakiku. Otak putihku jarang aku gunakan. Hitam yang sering aktif.

  Di atas Bintang itu ada Turbo musuh karibku. Ia berbeda jenis denganku. Tubuhnya berwarna pelangi, lonjong seperti ular, namun bukan ular. Hobinya menghantamkan tubuhnya kepada bintang-bintang yang berkelap-kelipan. Hal itu yang membuat tubuhnya berwarna-warni serupa pelangi. Bekas gesekan Bintang yang kaya akan aneka ragam warna menempel di tubuhnya. Dia sedang terlelap, nampaknya ia telah lelah akan aktivitasnya  seputaran mentari. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku yang usil. Otak hitamku mulai beraksi. Aku sedikit meringis kecut. Air liur yang selalu mengendap di rahang tenggorokanku selama bertahun-tahun pun menetes ke samping.

"Ciuh!" kuludahi tubuhnya, "Hahaha." Lantas aku tertawa. Kulihat tubuhnya sedikit bergerak-gerak. Aku meludahinya lagi. Matanya yang berjumlah lima pun menyala terang. Sebutir telur di pangkalan lehernya, tiga butir lagi di bagian tengah tubuhnya, sementara yang satu ada di ubun-ubun kepalanya. Kepalanya mengerucut seperti gunung yang ada di Bumi, tubuhnya lurus namun lunak bagaikan belut sawah.

"Apa yang engkau lakukan kepadaku? Hah?" Emosinya mendadak meledak. Ia berdiri, kini tubuhnya membentuk vertikal garis.

"Apa yang engkau lakukan kepadaku? Hah?" aku meniru ucapannya. Tanganku menyetiga.

"Heh makhluk buruk rupa, jangan contek omonganku!" tukasnya dengan nada marah.

"Undang-undang apa yang melarangku untuk melakukan hal itu? Di Bumi yang kaya akan undang-undang saja mengizinkan makhluknya untuk meniru-niru buatan makhluk lain, heh kau yang miskin undang-undang sok berkuasa!" bantahku.

"Itu juga tentunya dengan seizin negara bukan? Dan seenggaknya aku juga punya hak asasi manusia!" katanya tak mau kalah.

"Apa kamu bilang? Manusia? Kamu mau menjadi makhluk dekil yang sok pintar dan sok rupawan itu? Apa kamu tidak jijik melihat tingkah mereka di bawah sana, yang hanya mengejar kehidupan hedonisme? Prostitusi merajalela, bahkan makhluk-makluk belia pun sudah saling menggelembungkan janin,"

"Eih, kau makhluk buruk rupa! Jangan menghina kaum manusia, tak semua kaum mereka seburuk yang kaukira! Lihat saja, masih ada sebagian dari mereka yang berpendidikan dan mau mengabdi kepada bangsa dan negara! Sebaiknya kaumencintai  mereka atau kalau tidak kau akan habis termakan meriam. Kau pun akan terlempar dengan mengenaskan di kubur tanah Bumi! Hahahaha..." katanya panjang lebar. Aku muak dengan omongannya. Kulompatkan jangkar langkahku. Rembulan dan Bintang itu hanya berjarak 500.000.000 cahaya, aku pun cepat sampai. Kucekik tubuhya. Ia malah melilitku.

Yah aku tercipta menjadi hal yang menjijikkan dan berakal hitam alias picik. Keburukanku melebihi segala-galanya, aku bisa melakukan apa saja yang aku mau karena aku memiliki tiga otak, kecuali untuk membakar atau menendang Bumi. Namun untuk menipu makhluk Bumi dengan ketakutan,  akulah yang terpandai untuk mencuci otak  makhluk-makhluk, penurut,  dan bodoh, itu hal mudah bagiku. Yah penurut kala ia tak bisa menguasai IPTEK dunia. Sebuah tantangan besar bagiku, untuk menghancurkan mereka yang berotak tajam akan ilmu. Entah mengapa, aku selalu dikalahkan dengan otak bulus mereka, ah menyebalkan! Untung saja aku tak mati.

Badanku sebesar gajah, namun bedanya kalau gajah gemuk sementara aku kurus. Hanya kerangka tubuh saja yang lebarnya menyerupai gajah. Hidup kuhabiskan untuk berkeliaran di planet-planet Merkurius, Mars, Saturnus, Uranus dan lainnya kecuali Bumi.

  Aku suka planet Mars yang berupa padang pasir, tertutup oleh debu dan batuan padat yang berwarna merah. Warna merah tersebut berasal dari debu yang diterbangkan oleh angin. Selanjutnya planet Merkurius, planet terkecil yang sering kugunakan untuk bermain bola api, di sana banyak kawah yang memelok mataku. Kalau tubuhku sedang kepanasan, aku pasti berkelana ke planet Uranus, yah planet itu adalah planet terdingin dalam tata surya.

Hmmmm.... hal yang paling menakjubkan adalah planet yang mampu membuat kekayaanku melebihi para makhluk berkerah biru di Bumi, apalagi kalau bukan planet Saturnus. Cincinya melingkari tubuhnya, kalau saja aku segan, kan kucopot cincin itu dan menukarkannya dengan kurs asing. Ah sayang aku tak bernafsu memangsa kertas tak berguna. Aku memilih mencakar tubuhku dari pada memakan benda tak bermutu itu.

"Untuk apa kaumembela mereka! Mereka saja tak mengenalmu, dan tak mau tahu siapa kamu! Jika mereka tahu akan tubuhmu yang tak berbentuk ini, kau akan dilempar ke planet neraka jahannam!"

"Heh kau bodoh! Tak punya otak! Mana ada planet neraka jahannam, setidaknya walau aku tak punya hati, tapi aku punya otak seperti manusia, keindahan warna di tubuhku selalu menjadi hafalan anak-anak sekolah Bumi, lah kau? Jadi apa kau? Orang tak ada yang mau menyebut namamu, bahkan sedikit mau tahu pun tak ada...."

Emosiku seolah akan membeludak. Petir dan awan gelap kawanku pun hadir. Mereka berpadu mengerumuni kepalaku. Suara gemeretak petir membising di gendang telinga makhluk yang tengah melilit tubuhku ini, ia pun mendadak hinggap di tubuh Rembulan.

"Bukankah yang seharusnya marah itu aku? Karena kau lancang meludahiku.  Kenapa malah kau yang menyeramkan dunia?" Dia protes.

"Bukankah hadirmu karena tak ada petir dan kabut? Kau suka penerangan kan? Untuk itulah aku mendatangkan kabut agar memadamkan nyawa warnamu yang membosankan!"

"Oh jadi kaumenantangku?"

"Tidak! Aku tak menantangmu, aku hanya ingin tahu seberapa kuatnya keindahanmu yang kau sanjung-sanjungkan di Bumi, masih adakah anak-anak yang memikirkanmu saat hujan bercampur kabut hitam tebal, angin, dan petir melanda. Kita lihat sekarang di balik atmosfer," timpalku.

Ia nampak mendengus kesal, cahanya pun semakin menajam.

"Baiklah permainan kita mulai. Kalau sampai kamu kalah! Akan kulempar kau ke dalam Bumi sana!" Ancamnya.

Apa? Dilempar ke Bumi? Oh tidak aku tak pernah menginginkan hal itu.

 Seumur hidup aku belum pernah memijakan kakiku ke planet Bumi. Aku benci, ingin sekali aku membakarnya jika mampu, agar makhluk-makhluk tak berdosa di sana mampu kuselamatkan. Perputaran dunia seolah berjalan miring, yang kuat semakin kuat yang lemah akan bertambah ditindas. Aura nafsu kekuasaan dan rakusnya dalam menimbun harta benda dunia dapat kulihat dari bolongnya lapisan atmosfer karena ilmu pengetahuan yang gila. Bumi yang dulu tak terlalu panas, kini seolah akan terbakar karena konyolnya makhluk penghuni di sana, kuintip melalui celah ozon yang bocor, banyak makhluk-makhluk berkeliaran di tepian kubus-kubus kaca yang tingginya hampir menempel ke langit. Ada segerombol semut hitam yang meletakkan logam di sakunya yang buta. Suara-suara melengking, sok berkualitas dan bijaksana. Sementara penggelapan kenikmatan telah tertata rapi di belakang rusuknya. Terkadang aku heran dan bingung, mengapa bisa mereka tak menggunakan otak yang berada di kepala? Bukankah hal itu sangatlah hina? Apa guna memiliki satu otak, apa pula fungsi satu hati? Lisan tertutur demi kemakmuran, sementara nafsu membungkam penyiksaan. Nyawa jelata dibiarkan kelaparan dengan sisa makan mereka.

"Heh tidak akan ada acara main lempar-lempar ke Bumi, aku tak mau."

"Kau pengecut! Menantang tapi tak terima... "

"Heh ambil ulang ucapanmu barusan! Kau pikir aku manusia yang pandai berbicara tanpa adanya bukti, seperti mereka yang pandai berjanji-janji di atas kursi kuasa? Hah?" Aku semakin meninggikan suaraku. Petir pun semakin mengamuk. Sambar-menyambar Bintang yang tak berdosa.

"Aku tak mengucap, namun kau yang mengecap tubuhmu sendiri! Tentunya kau yang bodoh! Hahaha... dasar makhluk menjijikkan!" katanya lagi.

Tanpa pikir panjang, kubangkitkan awan yang tertidur pulas sedari lalu. Kuperintah mereka untuk mencairkan tubuhnya. Mereka pun patuh dan melakukan apa yang kuperintahkan. Suara gemuruh petir kupaksa lebih mengeras. Angin kutiup melalui mulutku. Rembulan tenggelam, ia memejamkan lensanya. Tak mau ikut dalam perdebatan kami, gelap pun menguasai ruang hampa. Bintang-gumintang juga tak mau tahu, walhasil dunia benar-benar mengerikan. Awan meneteskan cairannya ke Bumi. Hanya mentari yang masih kokoh berdiri terang, namun cahayanya sedikit remang karena ulah kabutku yang hitam kelam.

Turbo tak menyangka jika amarahku akan semengerikan itu, ia pun protes.

"Kenapa kau sekejam itu?"

"Itulah! Makanya jangan kauberpikiran sombong!"

Tampak nyalinya begitu ciut.

"Lihatlah anak kecil di bawah sana! Mereka menangis ketakutan," ia tak tega.

"Itu bukan urusanku, bukankah mereka penggemarmu?"

"Ya, tapi kau membuatnya takut."

"Hahaha... berarti aku menang!" Kataku angkuh.

"Heh, tapi kau pecundang. Kau membuat penjahat lebih kejam beraksi saat yang lain mengurung diri di gedung-gedung itu," ia menunjuk ke bawah, tepatnya ke sebuah gedung kecil.

Kulihat beberapa penjahat memainkan aksinya. Oh tidak, aku sangat membenci hal itu. Kegelapanku menerangkan hal yang gelap. Aku memberi jalan menuju neraka.

"Kau kejam! Kau membuat sepasang kekasih itu semakin menderita, lihatlah mereka menggigil kedinginan!"

pandanganku beralih ke ribuan tanaman yang tertata rapi di tengah-tengah gedung. Waktu itu aku dan Turbo mengintip aktivitas Bumi dari atas tubuhnya. Aku dan dia melayang-layang di ruang hampa.

Kulihat ada sepasang manusia yang berteduh di bawah pohon. Yang satu memiliki serabut hitam panjang, yang satunya pendek cepak. Kutebak yang panjang lelaki sementara yang pendek perempuan. Ruang yang penuh akan tanaman itu, pasti sebuah taman. Entah tebakanku benar atau salah. Makhluk laki-laki atau perempuan, aku pun kurang mengerti. Di angkasa tidak ada bangku sekolah, jadi aku hanya mengandalkan kemampuan otak abu-abuku untuk mengetahui seluk-beluk kehidupan di Bumi.

"Itu urusan mereka,"

"Kau membuat aura menakutkan di Bumi," katanya lagi sambil mencucurkan air mata.

"Untuk apa kaumenangis?"

"Kau jahat!" umpatnya.

"Bukankah ini yang kau mau, aku menampakkan... " belum selesai aku berbicara ia memotong.

"Tak guna kau memiliki tiga otak, jika yang putih kauletakkan di telapak kakimu, untuk apa hitam kauletakkan di atas ubun-ubun? Agar lebih aktif begitu? Ah kau ini terlalu bodoh! Seharusnya kau lebih mulia daripada manusia, otakmu ada tiga! Sadarlah! Sementara manusia punya satu otak! Namun mereka bisa menggunakannya dengan baik," ia kembali membela makhluk Bumi.

"Heh, maksudmu apa kauberkata seperti itu? Sama saja manusia punya tiga otak! Lihatlah yang putih tidur, otak abu-abunya sedang kluyuran ke sana kemari dengan IPTEK, ada pula otak hitam mereka yang beramal namun agar segan di muka umum. Apa kau tak pernah membaca kehidupan makhluk berotak di bawah sana? Hah? Lihatlah tekhnologi komputer mampu mengalahkan segala-galanya, mereka bisa menyimpan beberapa pekerjaan di otaknya komputer dan alat-alat penyimpan canggih lainnya, mereka si punya otak putih tinggal tidur, enak toh?" aku tak mau kalah.

"Oh! Jadi sejak kapan kamu mengumpamakan tubuhmu sebagai manusia? Kaumencintai mereka?"

"Cuih! Jaga mulutmu!"

"Kau sendiri berkata bahwa otak manusia punya tiga, lah itu sama halnya dengan otak yang kau miliki bukan?"

Aku diam tak tahu apa yang harus aku katakan, yang jelas emosiku semakin mendidih. Sambaran-sambaran petirku pun semakin memerah.

"Heh apa yang kauperbuat? Kasihan mereka makhluk yang tak berdosa seperti balita dan anak-anak belia itu, aku tak tega! Aku tak ingin mendengarkan jerit tangis mereka, hentikaaannn!!! Mereka takut akan hadirnya kabutmu!" katanya setengah memohon agar aku menghentikan aktivitasku. Ah masa bodoh! Aku sudah tak peduli, aku malas melihat makhluk-makhluk yang kubenci wataknya itu.

"Hentikan!" pinta Turbo.

Aku tak menggagas permohonannya. Jauh dari dugaan jiwaku. Turbo terjun ke Bumi, ia mencengkungkan warnanya yang indah. Aku pun terbengong-bengong. Mataku hampir saja dibuatnya coplok karena aku terkejut dengan hal apa yang baru saja kulihat. Dia benar-benar gila! Amarahku pun mendadak padam.

"Turboooooo!!!! Kenapa kau lakukan itu?"

"Akuuuu... tak tega melihat anak-anak belia yang kau buat menangis! Aku ingin mendiamkan tangisan mereka, selamat tinggal! Aku akan datang saat amarahmu turun!" katanya untuk yang terakhir kalinya.

"Turboooo apa kau tak akan pulang?"

Aku tak mendengar suara balasan darinya. Aku pun termangu dengan gelisahku yang sangat menyiksa. Aku menyesal karena terlalu angkuh dan egois tak mau mendengarkan perkataan Turbo, seharusnya aku menghentikan emosiku. Aku telah membunuh musuh dalam sepiku. Kini hampa sudah waktuku. Hari demi hari kulalui dengan kesendirian, tiada makhluk selain diriku yang hidup di ruang hampa tanpa adanya gravitasi itu. Tidak ada suara tabrakan-tabrakan Bintang lagi, tiada tubuh yang mampu kuludahi lagi. Turbo aku merindukanmu.  Setiap aku mengenang dirinya, aku meneteskan air hujan. Beberapa saat usai aku meredakan airmata awan. Ia pun akan nampak dengan keindahan tubuhnya.

"Oh Turbo, kau pelangi yang sangat mulia! Aku berjanji kepadamu, tak akan memanggil hujan yang sangat mengerikan lagi, kecuali Tuhan yang memerintahku! Turbo aku merindukanmu! Turboooo!!!" jeritku namun tak ada yang mendengarkan.

Di balik tubuh Bumi bisa kuintip, hadirnya Turbo begitu disegani oleh beberapa kaum manusia terutama kaum anak-anak belia yang belum kucium dosanya. Wajah mereka selalu berbinar memandang Turbo. Dan sedihnya aku, hadirnya airmataku selalu membuat mereka ketakutan dan bersembunyi  tak mau memandang wajahku. Oh betapa malangnya nasibku.

Ingin sekali aku berjumpa dengan Turbo. Tapi aku enggan terjun ke Bumi, selama makhluk-makhluk di sana masih melakukan hal yang tak aku cinta. Aku akan bertamu ke Bumi, asalkan penghuninya sudah tak bersilat lidah dan saling menimbun harta dengan keserakahan. Yah itu mimpiku, namun apakah bisa?

Oh angin! Sampaikan salam kepada Turbo, katakan! aku sangat merindu dan kesepian tanpa dirinya.

Titin Widyawati (Darah Mimpi), penulis muda dari Magelang. Lahir 16 Juli 1995. Pernah menerbitkan tiga novel dan satu buku antologi cerpen. Dan 2017 ini, satu novel baru sedang naik cetak. Selain menulis cerpen dan novel, ia juga gemar menulis puisi.

      Rembulan, 4-4 Mei 107-107.

Respon Pembaca.

1 comments:

titiek setyani_merry said...

Memnawa menerawang jauhnke setiap lekuk kehodupan dan semua maknanya. Bravo

Post a Comment