LDR (Lulu, Dirga, Rama)

Sebuah Cerpen Karya Anak Bangsa
 
       "Luluuuu...!!! Luluuuu...!!!"

Teriakan seorang lelaki itu layaknya berada di tengah-tengah hutan, menimbulkan gema dan tetap bergeming. Tak seorang pun menjawab teriakannya itu.
Keringat membasahi seluruh wajahnya, gigi yang bergemelutukan, badan terlihat gemetaran dan perasaan khawatir mulai menggerogoti pikirannya. Namun sosok yang dicarinya selama hampir setengah jam ini belum muncul juga.

     "Ah, oke! Gue nyeraaaaaahhh!!" Teriak lelaki itu lagi dengan tampak letih.

     "Rama payaaaahh!! Gw ada di dekat lo juga, masa gak bisa nemuin gue? Ntar kalo-kalo gue diculik gimana lo bakal nyerah juga nyari gue?" Celetuk seorang perempuan yang sebaya dengan lelaki bernama Rama itu, yang nampak sedang duduk di atas pohon mangga yang tinggi, tepat berada di atas pijakan Rama berdiri.

     "Brisik lo! Cepet turun kalo gak mau jatoh!" Sambar Rama sambil mendengus kesal.

Tanpa basa-basi, perempuan bernama Lulu itu segera turun dari pohon, dengan secepat yang bisa dibayangkan, ia langsung menjitak telak kepala Rama yang terlihat keras itu.

Pletaakkk!!

    "Aww!! Sakit bego!! Dasar Lumut!!" Celetuk Rama emosi

     "Lulu imut? Omegat! Lo romantis juga hahaha.." ledek Lulu sambil berlari kencang meninggalkan Rama.

Tanpa disadari kakinya tersandung batu besar yang  menyebabkan Lulu jatuh dan timbul luka di bagian lututnya.

     "Luluu!!" Pekik Rama yang melihat kejadian itu dengan segera melesat menghampiri Lulu.

     "Awwww!!" Rintih Lulu.


Darah segar mulai mengalir dari lutut sebelah kanan gadis itu. Dengan rasa ngeri campur takut Lulu menutup mata dan gemetaran. Rama yang melihat Lulu seperti itu, langsung meraih tangan gadis itu untuk berdiri. Reflek Lulu berdiri, Rama berjongkok membelakanginya, di raihnya kedua kaki Lulu lalu menggendongnya tanpa berkata apapun.

    "Gue selalu khawatir lo kenapa-napa. Makanya jangan kaya kucing, yang kalo diperhatiin langsung lari. Memangnya ngejar lo segampang ngejar semut apa." Celoteh Rama mencoba menghibur Lulu.

Lulu yang mendengar perkataan Rama seperti itu, hanya bisa merangkulkan tangannya ke leher Rama yang menggendongnya tanpa berkata apa-apa. Perasaan hangat dan berdebar-debar mulai meracuni Lulu. Berharap perkataannya yang barusan di lontarkannya itu hanyalah omong kosong belaka. Lulu sudah tahu sifat Rama sejak kecil hingga saat ini mereka  menginjak kelas 2 SMP. Selalu menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, mengingat rumah mereka yang berdekatan kurang lebih hanya 10 langkah untuk menghampiri rumah Rama. Dan tak heran jika Lulu mulai merasakan kenyamanan saat bersama Rama. Berharap perasaan sebagai sahabat, bukan lebih dari itu, pikir Lulu.
--

   "Eh Lulu! Lo ngelamun lagi ya?" Tegur seorang perempuan yang memakai seragam sama dengan Lulu, yang tak lain adalah sahabatnya.

    "Eh, errr.. gue cuma rindu sahabat gue, tetangga lah. Apa kabar dia sekarang ya?" Curhat Lulu sambil sesekali melirik senyum ke sahabatnya itu.

    "Maksud lo Rama itu ya? Yang pernah lo ceritain ke gue? Yang  pindah rumah 3 bulan yang lalu? Yang ganteng itu? Yang pinter segala pelajaran?" Celoteh sahabatnya yang penuh antusias.

    "Ebuset! Gak perlu sebutin bagian yang gak penting juga kali! Ntar kalo orangnya denger kegeeran dia!" Celetuk Lulu sebal.

    "Gue kan penasaran, Lu! Apa dia gak ngabarin lo selama ini?" Tanya sahabatnya.

   "Enggak--sama sekali." Jawab Lulu murung.

    "Rama itu..... pacar lo, Lu?" Suara bass seorang laki-laki yang sedari tadi mendengarkan percakapan Lulu dengan sahabatnya di kantin, membuat Lulu menoleh dan langsung terlonjak kaget, gelagapan tak karuan.

    "Eh.... Dirga. Bukan pacar gue kali. Rama itu gebetannya Fitri!" Jawab Lulu sambil menuding ke arah sahabatnya yang bernama Fitri itu.

    "Eh, bukan gebetan gue!" Balas Fitri yang tak terima atas perlakuan Lulu.

    "Udah lah, ngaku aja Fit!" Ucap Lulu sambil mengisyaratkan Lulu untuk menjawab 'iya aja' dengan mengedipkan mata ke arah Fitri.

    "Huuh! Iya, iya!" Jawab Fitri mulai jengkel karna ikut membantu berdusta ide sahabatnya itu.

    "Oh jadi Fitri udah punya gebetan ya. Nah kalo lo kapan, Lu?" Balas laki-laki yang bernama Dirga itu.

    "Eh... sebenarnya... gue.." jawab Lulu terbata-bata.

    "Gak perlu dijawab sekarang, yang penting gue siap nunggu lo kok. Ups, sorry gue buru-buru." Ucap Dirga yang langsung meninggalkan Lulu dengan semburat merah merona menghiasi wajahnya.
Sedangkan Lulu hanya tercengat diam mematung akibat perkataan Dirga barusan, membuatnya merasakan aliran darah mengalir cepat dari biasanya. Fitri yang melihat Lulu seperti itu, mulai bertanya dengan sabar sambil merangkul lengan sahabatnya itu.

   "Nah, dia mulai ngode lo lagi, Lu. Masih ingat pernyataan cintanya Dirga beberapa Minggu lalu?" Tanya Fitri.

   "Iya, tapi gue masih ragu Fit." Jawab Lulu cemas.

   "Mikirin sih oke-oke aja, tapi jangan sampai Dirga digantungin lama-lama. Nyeurina teh di dieu!" Ledek Fitri dengan logat sundanya itu.

  "Aaaaaahhhh... rese lo!" Lulu mendengus sebal.

Dan tak lama kemudian mereka tertawa bersama.
--

Kriiiiinngggg..

Jam menunjukan pukul 14.00 wib, bel berbunyi pertanda murid-murid SMPN 01 Bunga Bangsa telah selesai mengikuti kegiatan belajar mengajar dan saatnya pulang ke rumah masing-masing.
Lulu yang masih terhenyak di kursi tempatnya duduk, masih memikirkan apa yang telah terjadi di kantin tadi, berharap semuanya akan baik-baik saja.

  "Lulu, pulang bareng yuk!" Ajak Dirga yang ikut duduk bersebrangan dengan kursi Lulu.

  "Eh Dirga. Anu, errr--" Jawab Lulu bersimpuh malu-malu.

  "Ah iya Lulu kebetulan mau ngomong sesuatu sama lo Dirga. Gue nanti juga mau ke rumah Lulu tapi pulang ke rumah dulu. Dahhhh... gue duluaaaan..." sambar Fitri sambil mengedipkan mata ke arah Lulu dan langsung melesat pergi keluar kelas.

  "Hm, begitu ya. Baiklah, yuk Lu!" Ajak Dirga yang merasa senang.

  "Ah iya, oke." Jawab Lulu kaku.

Lulu yang sedang berjalan berdampingan dengan Dirga hanya bisa diam membisu tanpa mengatakan apapun dengan perasaan campur-aduk. Antara suka atau tidak, antara ingin menerima Dirga atau tidak. Dirga adalah sosok yang Lulu dambakan, tampan, pintar, dan perhatian. Namun ada perasaan lain yang membuat Lulu janggal. Mungkinkah ada hubungannya dengan sahabat lamanya itu, sosok yang selama ini mengganggu pikirannya Lulu.

Dirga terus memperhatikan Lulu. Ia sangat menghargai bahwa Lulu menyimpan perasaan untuk sahabatnya, maka dari itu ia masih tampak ragu untuk menerima Dirga. Namun Dirga tidak menyerah begitu saja jika hubungan Lulu dengan Rama masih sebatas sahabat--belum berpacaran. Mengingat perkataan Fitri lewat sms, bahwa Rama akan pulang kembali lagi tepatnya hari ini. Ia hanya ingin memastikan, apakah Rama mempunyai perasaan yang sama untuk Lulu. Jika demikian benar, maka sudah waktunya bagi Dirga mundur, tapi jika sebaliknya, Dirga akan membuat Lulu jatuh cinta padanya. Sebenarnya Fitri sudah kenal Rama sejak pindahnya Rama dari sini. Rama sengaja tidak bilang pada Lulu agar ia tidak merasa kehilangannya, dan Rama mengatakan pada sahabatnya Lulu, yaitu Fitri. Menanyakan kabar Lulu dari Fitri, dan memulai keakraban dengan sahabatnya Lulu, Fitri.

   "Murung terus itu gak baik. Apalagi kalo lagi jalan bareng gue." Ucap Dirga ramah sambil menyelipkan setangkai bunga Flamboyan berwarna orange yang baru ia petik selepas lewat, ke telinga Lulu.
Melihat perlakuan Dirga itu, jantung Lulu meletup-letup kencang bagai popcorn yang ingin meledak ketika mengembang. Wajahnya penuh rona memerah, tak tahu apa yang dirasakan Lulu. Sekarang ia mengerti, perasaan saat bersama Rama dengan saat bersama Dirga sangatlah berbeda. Rasanya, lebih kuat pada perasaan Dirga yang selama ini membuatnya mabuk kepayang sampai lupa daratan dan lautan.

    "Dirga.. sebenarnya.. gue.." ungkap Lulu pada akhirnya.

Belum sempat Lulu menyelesaikan ucapannya, terlihat seseorang dari kejauhan yang sedang berdiri tepat di teras rumah Lulu. Karena tidak bisa mengabaikan pemandangan itu, Lulu langsung menghampiri seseorang yang tak asing lagi menurutnya, seseorang yang selama ini ia pikirkan.

   "Permisi--Maaf sedang cari si--" ucap Lulu tertahan ketika laki-laki itu menoleh ke arahnya.

   "Eh Lulu! Apa kabar? Masih inget gue? Yaampun! baru aja pisah sama gue 3 bulan udah punya pacar cakep gini!" Sapa laki-laki itu riang sambil menyapa Dirga.

   "Halo, gue Dirga temennya Lulu. Lo--Rama, kan?" Tanya Dirga.

   "Ah kok lo tau? Iya gue Dirga, temen deket, temen kecil, temen tetangganya Lulu." Jawab Rama ramah sambil mengangkat sebelah alisnya, curiga bahwa Lulu pasti sudah cerita tentangnya ke orang lain yang macam-macam, termasuk Dirga.

Sedangkan Lulu hanya melongo tak percaya. Inikah sosoknya yang selama ini ia cari-cari ternyata ada disini. Ia telah kembali. Mungkinkah perasaan Lulu kepada Rama itu benar atau tidak.

  "Ebuset, ada tamu dari jauh malah di anggurin gini aja. Kagak sopan lo!" Ledek Rama sambil menarik hidung Lulu.

  "Eh.. eh.. sakit pea! Lo ngapain ke sini? Maksud gue ada perlu apa?" Jawab Lulu sambil meringis kesakitan.

   "Gue pindah lagi kesini. Sorry waktu itu gue gak bilang lo kalo gue pindah karna tugas bokap." Jawab Rama datar.

  "Trus ngapain lo di teras rumah gue?" Tanya Lulu sinis.

  "Sombong amat ni orang. Mau nyapa lo lah, tapi ada yang lebih dari itu." Jawab Rama sambil sesekali melirik kesana kemari seperti sedang mencari seseorang atau sesuatu yang tidak ada.

  "Apaan?" Tanya Lulu penasaran.

  "Ah! Itu dia!" Tunjuk Rama kepada seseorang dari kejauhan yang sedang berjalan menuju rumah Lulu.

Lulu dan Dirga memicingkan matanya, berharap matanya masih bisa melihat dengan jelas apa yang ditunjuk oleh Rama tadi.

  "Hai hai! Udah nunggu la-- eh kenapa pada ngeliatin gue?" Sapa seorang perempuan yang tampaknya sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian ala wanita yang terlihat feminim.

  "Jadi yang lo cari itu Fitri?" Seru Lulu dan Dirga secara bersamaan.

  "Eh lo baru jadian ya? Kompak amat. Iya, sebenarnya gue udah kenal lama sama Fitri. Orang tuanya gue itu temennya orang tua Fitri. Ya gitu deh, gue jadi deket sama dia, cuma gue belum tau wajah Fitri seperti apa, karna gue cuma chattingan dari jauh sama Fitri." Jelas Rama sambil tersenyum pada Fitri.

  "Dan gue minta maaf sama lo, Lu. Gue bukan bermaksud nyembunyiin semua ini kalo Rama ga nyuruh gue." ucap Fitri merasa bersalah.

  "Ah, gue ngelakuin ini karna gak mau lo sedih gara-gara kepindahan gue, Lu. Gue kan tau sifat lo yang cengeng itu." Kata Rama menjelaskan.

  "Hem.. dan lo diem-diem deketin sahabat gue. Gue gak akan kasih ampun kalo sahabat gue kenapa-napa karna lo,Rama!" Jawab Lulu tertawa karna semua ini sangat kebetulan sekali. Entah kenapa Lulu merasa sangat bahagia melihat kedua sahabatnya ini jadi dekat.

  "Hahaha.. jadi.. boleh kan, Lu. Kalo gue... deket sama Fitri?" Tanya Rama sambil meraih tangan Fitri kedalam genggamannya.

  "Em boleh. Tapi awas kalo macam-macam..." ancam Lulu sambil mengepalkan tangannya.

  "Dan... gue juga boleh kan, kalo deket sama Lulu, Ram?" Tanya Dirga pada akhirnya, sambil meraih tangan Lulu lalu menggenggamnya.

"Yah bolehlah. Tapi hati-hati, Lulu itu galak! Hahahaha.." jawab Rama sambil tertawa yang dibalas dengan kemanyunan Lulu. Akhirnya semuanya ikut tertawa bersama-sama.

Senja di daerah pegunungan ini dipenuhi oleh kesejukan dari hati masing-masing. Lulu yang telah salah sangka pada hatinya, kini sudah mulai bisa meluruskan maksud hatinya pada seseorang yang sebenarnya di tujunya itu. Perasaan pada sahabatnya hanya sebatas rindu, sedangkan perasaan pada seseorang yang kini sedang disampingnya itu, adalah sosok yang memenuhi warna pada hatinya. Yang membuat degup jantungnya lebib keras daripada biasanya. Yang membuat pikirannya penuh pada bayang-bayang senyumnya itu.

------------------------------
TENTANG PENULIS.

Nama lengkap Hana Nur Fithriyah biasa dipanggil Hana atau Fitri. Perempuan kelahiran 1999 ini suka sekali anime jepang, komik, dan novel fiksi serta memelihara hewan kucing anggora dirumahnya (Namanya Miko dan Miki). Saat ini sedang menempuh pendidikan Perguruan Tinggi swasta di daerah cirebon, mahasiswi yang sedang memperdalam ilmu kepenulisannya dalam Blog. Lahir di jakarta namun dibesarkan di Majalengka. Hobby yang dimiliki saat ini yaitu Nulis, menggambar, dan ngeblog. Golongan darah B yang introvert dan mudah bosan ini sering berganti-ganti mood dalam nulis.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment