DUA CINTA YANG LENYAP.

By : Darah Mimpi.
        JATIMAKTUAL, CERPEN,- Lorong. Aku lari menahan napasku yang tersengkal-sengkal di atas marmer licin. Lorong itu tersirami temaram malam nan remang. Tidak ada derit langkah kaki nyawa lain kecuali aku, lantaran malam menunjukkan kelelapan mimpi. Pukul 12:30 pagi dalam kegelapan itu aku menerobos ketakutan yang tak mampu aku lawan. Aku memacu langkah tanpa beralas kaki. Tubuhku melawan desau angin.  Kaos tidur tipis melambai-lambai ke sana kemari terhempaskan angin. Dia pun erat menempel di likuk lemak  perutku. Suara detak kaki memantul ke dinding lorong tersebut. Di sana hanya ada aku dan airmataku. Terus berlari menuju apa yang aku takuti. Aku lari menggiring rasa khawatir akan makna muara kehidupan. Menjerit melengkingkan teriakan kata 'tidaaaakkkk' seolah akan segera aku lolongkan. Keringat dingin menyemut di dahiku. Aku berhenti di ujung lorong itu. Kubungkukkan tubuhku membentuk sudut tigapuluh derajat untuk menetralisirkan emosiku. Setelahnya aku berdiri menopang tubuhku yang lemas tak berdaya.

Aku sedang dipermainkan oleh waktu. Perasaanku dibabat kuat oleh sabit luka. Baru beberapa menit aku melinangkan airmata karena cintaku membumbung ke awan kelam bersama bidadari lain. Kini anugerah hidupku pun diseret-seret derita. Sunggug malang kepalang basah nasibku. Ingin aku marah, namun kepada siapakah aku luapkan? Laut Selatan yang dekat dengan rumahku itukah? Nampaknya tidak. Aku trauma melihat gulungan ombak yang dulu kuindahkan. Ombak itu lancang merengut nyawa Ayahku dulu.

Di atas kepalaku terpampang tulisan besar bercat hitam tebal 'Kamar ICU'. Napasku seolah berhenti berembus usai membaca tulisan yang tertempel di badan pintu itu. Aku mengintip siapa yang terbaring di dalam sana. Permata hatiku, pelita hidupku. Terkapar dengan napas yang kembang kempis beriringan dadanya yang naik turun memperjuangkan kehidupan. Masker oksigen, jarum infus dan alat medis lainnya mengerubungi tubuhnya. Sosok wanita yang selama ini amatlah paling aku sayangi dan aku banggakan. Sosok wanita yang paling mendukung hidupku dan membuat semangat meraih mimpiku berkobar, tergeletak tak berdaya mempertahankan garis hitam atau putih. Hitam MATI. Putih HIDUP.

Kuintip dari kaca pintu karena aku memang dilarang masuk ke dalam. Seorang dokter menekan-nekankan alat medis berbentuk seperti setrika di dadanya. Sungguh aku tak kuasa menahan tetesan airmata yang menganak sungai di pelupuk lensaku. Pahit. Sakit. Semuanya memasung derita dalam hidupku. Dia... dia satu-satunya yang aku punya setelah tulang punggungku ditelan badai ombak dua bulan yang lalu. Perasaan kehilangan baru saja merajam palung jiwaku, kini sosok teragung dalam hidupku seolah dikoyak kematian, hanya karena hal sepele yang aku perbuat. Oh Tuhan! Betapa cerobohnya daku? Kukorbankan kekasihku sendiri yang telah setia merawatku sejak belia.

*******
Pagi ini aku duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu. Pandanganku menerawang langit ke tujuh. Dadaku sesak. Airmata bercucuran bagaikan amarah hujan dari langit. Tetes demi tetes terus mengalir.  Berkali-kali aku menyeka sudut mataku, tapi airmata itu seolah tak mau berhenti tumpah. Hatiku sakit sekali. Aku meresapi keheningan esok di balkon rumahku yang sederhana. Rumah berdinding anyaman bambu ini tidak ramai. Hanya ada aku dan pelita hidupku. Di depanku tumbuh pohon Mangga yang dulu menjadi kesayanganya Ayah, sebelum Ayah tertimbun ranah syurga. Daunnya tumbuh rimbun. Ibu adalah sosok yang kini membuatku bahagia. Dari pagi sampai lembayung senja mengkilat Ibu tak pernah berhenti membanting tulang punggungnya untuk menafkahi nyawaku. Aku amatlah menyayanginya bahkan mencintainya seperti kekasihku sendiri, Rafin. Kedua-duanya  menempati posisi yang sama dalam hatiku. Aku sedih melihat Ibu bekerja keras, namun apalah yang aku sanggup untuk membantunya, kuliah saja aku belum lulus. Pernah sekali aku ingin kuliah sambil bekerja, Ibu melarangku keras.

"Kamu itu harus belajar yang sungguh-sungguh, jangan sia-siakan beasiswa yang kamu dapatkan, kalau kamu bekerja kuliahmu bisa ketinggalan, lalu nilaimu jeblok, lah kalau nilaimu jeblok, apa tidak malu? Kuliah sudah dengan biasiswa malah leha-leha, bisa saja beasiswanya dicabut karena nilaimu jeblok, Nduk." Kilah Ibu.

"Tapi Bu, Fina ingin sekali membantu Ibu. Bagaimanapun juga kan Ibu wanita yang mulai renta, Ibu seharusnya istirahat saja. Biar Fina  yang mencari nafkah sambil kuliah, Fina bisa kok fokus belajar dan bekerja."

  Baru sebulan kepergian Ayah, namun hidup kami sudah susah kepalang. Jarang ada beras di dapur Ibu. Namun kali ini bukan masalah itu yang aku pikirkan. Melainkan karena Refin yang dari semalaman mengganggu mimpiku tidak bisa mengelopak indah. Untunglah hari ini Minggu, coba kalau hari Senin atau yang lainnya aku bisa saja terlambat bangun tidur, karena semalam tidur pukul tiga pagi. Beban hatiku sedang menumpuk. Kehilangan Ayah. Miris melihat pekerjaan Ibu yang rela menjadi kuli gendong di pasar demi menyambung hidupku, ditambah ulang tahun kekasihku hari ini. Ingin sekali aku memberikan kado spesial untuk kekasihku, tapi tak ada permata yang mengendap di sakuku. Boro-boro permata, makan saja susah. Aku mengacak rambutku hingga nampak seperti gembel. Andaikan saja aku punya hape aku akan mengungkapkan selamat ulang tahun kepadanya tepat pada pukul dua belas malam tadi. Sayang itu hanya impian semu. Tak terasa embun mataku membutir di daguku. Hal itu mengingatkan aku kepada sosok Ayah yang bekerja sebagai nelayan. Rumahku tidak jauh dari pantai Selatan, paling tidak cukup dengan melangkah satu kilometer, pantai nan membentang luas bersahabat dengan deburan ombak akan kausapa. Sebab letak rumahku yang dekat dengan laut itulah, Ayah berprofesi sebagai nelayan. Andaikan dia masih hidup aku akan dengan mudah meminta uang dan membelikan kado spesial yang mungkin sederhana. Dan Ibuku tak akan tersiksa lelah yang amatlah menyiksa. Coba saja dulu Ayah tidak nekat berangkat mencari ikan malam-malam ketika awan menggelap dan mengabut, sudah jelas menampakkan badai akan datang. Ayah nekat menjaring ikan dengan jalanya. Gelombang pasang beradu dengan hantaman ombak badai pun melahap tubuh Ayah dengan rakus. Mungkin kepedihan hidup ini tak akan mengalir. Sayang suratan takdir tak bisa dipungkiri.

"Ada apa Nduk? Kok ngelamun di sini? Pakai nangis segala pula," Ibu membuyarkan lamunanku. Leher ini kutarik untuk menatap Ibu. Selendang biru telah dikalungkan di lehernya. Dia siap berangkat bekerja menjadi kuli gendong di pasar ikan yang tak jauh dari rumah kami. Ibu akan membawa ikan-ikan yang bau busuk itu dengan punggungnya yang dibantu selendangnya. Jika tugasnya mengangkut ranjang yang berisi ikan-ikan itu selesai, Ibu akan mendapat uang untuk membeli beras. Satu ranjang seribu, sementara harga beras delapan ribu, jadi setiap hari Ibu harus menggendong minimal delapan ranjang ikan agar mendapatkan nasi.

"Ibu, sejak kapan Ibu di sini?" tanyaku sambil menyeka embun mataku.

"Barusan! Kamu kenapa menangis Fina?" Ibu membelai ubun kepalaku.

"Kado untuk Ref... " aku keceplosan. "...eh bukan itu maksudnya, Fina nggak papa," selorohku sebelum Ibu menanggapi kalimat yang tadi sempat kuucap.

"Refin temanmu itu? Jadi sekarang dia ulang tahun?"

Ternyata Ibuku cepat tanggap. Aku menghela napas beratku dan pasrah. Mau tidak mau aku pun menceritakan beban jiwaku.

"Iya Bu. Fina ingin sekali membelikannya kado tapi..." aku menggantungkan kalimatku. Ibu nampaknya sudah tahu kata apa yang membuat kalimatku tidak terungkap mulus. Dia mendekatkan bibirnya di telingaku. Napasnya yang hangat pun menembus pori-pori kulitku. Aku sempat menggelinjang kegelian karena sikap Ibu yang seperti itu. Tapi mendengar ada suara bisikan aku pun menahan rasa geliku itu.

"Nanti Ibu akan bekerja lebih keras dan kamu bisa membelikan Refin kado."

"Sungguh Ibu?" tanyaku meyakinkan berhias mata yang berbinar kaya harapan.

"Sejak kapan Ibu bohong?" kalimat yang tak membutuhkan jawaban. Dari dulu Ibu memang belum pernah bohong. Dia senantiasa mengajariku menjunjung kejujuran dan ketulusan. Kata Ibu orang jujur akan mujur, orang bohong jarang tertolong. Kejujuran dan keberuntungan layaknya simbiosis mutualisme, sementara kebohongan adalah simbiosis parasitisme.

"Terimakasih Ibu, Fina sayang Ibu."

"Yasudah, Ibu berangkat kerja dulu, jangan lupa sarapan ya! Ibu sudah siapakan nasi di dapur, kamu juga harus pikirkan pelajaran besok kuliah, soal kado Ibu yang urus. Oke?" Ibu berkata dengan berbinar-binar. Dia tampak yakin sekali bahwa hari ini dia akan mendapatkan uang yang banyak. Senyum mengembang di lengkung bibirnya yang sudah lama mengering. Kusorot tajam-tajam dengan iris mataku. Banyak ketulusan yang mengendap di kantong matanya. Aku merasakan keharuan yang amat dalam. Bangga sekali memiliki Ibu yang mulia dan bertenaga baja itu. Pagi buta Ibu bersih-bersih rumah. Setelahnya memasakkan sarapan untukku dan bergegas pergi bekerja. Jika siang datang Ibu pulang, membereskan peralatan dapur yang kotor. Aku ingin sekali membantu Ibu agar bebannya berkurang. Anehnya Ibu malah marah kalau tanganku menyentuh peralatan dapur.

"Siapa suruh kamu ke dapur? Belajar!" sergahnya. Aku pun pasti hanya bisa menggeleng dan memekik kesal,

"Ibu aneh mau dibantu malah marah,"

"Tugasmu sekarang belajar untuk masa depan, jangan bermalas-malasan. Ibu akan mengijinkanmu menyentuh peralatan dapur kalau kamu sudah lulus sarjana." Seloroh Ibu.

"Bagaimana Fina bisa memikat hati Refin kalau Fina saja tidak punya ketrampilan memasak dan jarang mencuci bahkan memegang peralatan dapur?" kilahku dengan nada protes.

"Buktinya ada cinta di hatinya, kamu tidak perlu capek-capek ngurusin pekerjaan Ibu. Urusi saja masa depanmu, Refin akan sangat bangga jika kamu menjadi juara di masa depan nanti."

"Ah Ibu ini," desisku kesal kala dulu.

******

Waktu telah menunjukkan pukul 13:00 WIB. Seharusnya Ibu sudah berada di rumah sejak satu jam yang lalu. Aku kembalu tengok benda pemutar waktu yang menempel di dinding gedek rapuh itu. Kupelototi lekat-lekat, mungkin saja aku tadi yang salah lihat. Tapi pandanganku benar tidak salah. Waktu memang bertutur seperti itu. Aku sudah tidak sabar lagi menanti Ibu pulang. Tidak sabar ingin merogoh uang recehnya untuk membelikan kado kepada Refin. Tak sabar ingin bertemu dan bersapa kata dengan Refin. Tak sabar memetik kisah asmara yang akan tergambar menakjubkan. Namun bisakah itu teruntai? Jika Ibu tak kunjung kembali?

Aku duduk di kasur tipisku. Tangan kuremas-remas karena kesal Ibu tak jua pulang. Aku tahu Ibu pasti sedang bekerja keras, tapi apakah tidak bisa dipercepat, atau pulang dulu dan nanti kerja lagi. Pikiran sehatku benar-benar tertutup. Bisa-bisanya aku menggumam seperti itu kepada wanita yang paling mulia. Ibu sedang menahan sengatan mentari dan menggendong beban berat. Kubayangkan peluh Ibu nan bercecer di wajahnya. Napasnya akan terlihat ngos-ngosan karena kelelahan. Hal itu tetap tak bisa membunuh kekesalanku karena Ibu tak jua pulang.

Aku akhirnya bangkit dan keluar ke balkon rumah. Tubuhku mondar-mandir ke sana kemari. Sesekali kutatap jalan setapak yang ada di depanku. Barangkali Ibu telah menginjakkan kaki di sana. Tapi tak ada siapa pun, melainkan rumput-rumput yang menyembul dari himpitan batu kali. Ya. Jalan itu belum diplaster aspal. Sempurna nasib malangnya yang serasi dengan rumah bambuku yang amatlah sederhana dan tampak doyong ke Timur.

"Aduh! Ibu di mana sih? Aku kan kemarin sudah janji mau ke rumah Refin jam dua belas. Ini malah hampir jam dua," rutukku dalam hati. Aku seperti anak kecik yang keras kepala dan tidak sabaran. Ah persetan dengan kado. Aku banting pintu rumah. Langkah kutuntun menyusuri gang setapak menuju jalan besar.

Rumah Refin tidak jauh dengan rumahku. Jalan kaki lima belas menit, belok ke kanan ketika sampai jalan besar. Di situ rumah Refin berdiri. Naungan yang bisa kusebut istana. Indah dan mewah. Aku mematung di depan badan pintu. Berasa ada yang kurang karena aku tidak membawa kado untuknya. Ah biarlah, yang penting aku sudah datang. Tapi... aku mengurungkan niatku lagi. Aku mundur beberapa langkah ke belakang. Refin pasti kecewa kalau aku tidak membawa buah tangan. Apa iya? Cinta yang tulus tak akan mengharapkan apa-apa, seperti cintaku kepadanya. Aku tahu Refin kaya, tapi aku tak pernah mengharapkan sesuatu darinya. Dia mau ke rumahku saja, aku senangnya sudah minta ampun. Aku maju kembali dan kupaksa punggung tanganku bersentuhan dengan punggung pintu.

"Cari siapa Non?" kata pembantu rumah Refin yang membukakan pintunya. Dia berdiri di mulut pintu.

"Refinnya ada Bi?" tanyaku.

"Oh, ini Non Fina ya?" dia malah berbalik tanya. Aku mengangguk dengan menyudutkan lengkung bibirku.

"Bentar ya Non, ada pesan dari Den Refin."

Aku berkerut dahi. Buat apa Refin memberiku pesan. Bukankah dia di rumah dan seharusnya sedang mengadakan pesta ulang tahun di sini? Kenapa malah istana ini sepi.

Beberapa menit kemudian pembantu itu keluar kembali. Dia mengulurkan sepucuk kertas putih kepadaku. Aku menerimanya. Dengan gugup aku melembari kertas itu dan membacanya. Jantungku berdegup tak menentu. Tanganku bergetar. Bahuku mendadak berguncang. Embun mataku membutir. Jatuh dan membuat telaga kecil di kertas bertinta hitam itu. Aku tak menyangka Refin yang kucinta seperti ini.

To : Fina Aulia yang kusayang.
Terimakasih Fina kau tidak datang ke rumahku. Berarti kau tidak mencintaiku bukan? Baguslah kalau begitu. Sebenarnya ini bukan hari ulang tahunku, ini hari pertunanganku dengan Clara. Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin kau tahu kalau selama ini aku sudah memiliki pasangan hidup. Selama ini aku memang sempat dekat sekali denganmu, tapi... aku sadar kau bukanlah yang terbaik untukku. Aku ingin mengatakan ini kemarin, tapi ayahmu baru saja meninggal. Aku semakin tidak tega. Maafkan aku ya telah menanamkan cinta di lubuk hatimu. Jam dua belas tepat aku berangkat ke Australia ke rumah Clara di sana. Aku sudah menunggumu datang, namun kau tidak datang. Jadi... aku titipkan surat ini kepada Bi Imah agar menyampaikannya kepadamu sewaktu kamu ke rumahku. Aku tetap menyayangimu Fina, tapi... aku tak bisa mencintaimu. Clara jauh lebih baik darimu.
Refin Saputra.
Lelaki itu jahat. Lelaki itu brengsek.

Begitulah umpatku sewaktu berjalan pulang beriring menetes peluhnya. Sembilu merajam sukmaku. Aku patah hati. Aku sakit hati. Rasanya aku ingin menghabisi saja hidupku. Tuhan! Kenapa penderitaanku tidak berujung? Sungai saja memililiki muara di ujung, lah aku? Kenapa hanya luka dan derita. Aku sudah teramat sakit ditinggalkan Ayah, harus juga ditinggalkan Refin? Hatiku benar-benar diaduk-aduk pisau tajam. Sakit sekali. Aku pulang dan mengurung diri di dalam kamarku. Kutumpahkan semua kesedihanku hingga kantung mataku membengkak dan hidungku seperti buah tomat. Ibu tidak pulang dari pagi sampai malam. Aku khawatir. Ibu pasti jungkir balik untuk mendapatkan uang tambahan. Aku merasa bersalah kepada Ibu. Tapi... tidak mungkin menyusul Ibu ke pasar. Aku jarang berjalan sampai satu kilometer. Lama kelamaan aku tertidur pula.

Jam sebelas malam aku dengar pintu luar digedor-gedor tangan seseorang dengan keras. Suaranya melengking memanggil namaku. Aku kira itu Ibu, tapi Ibu tidak mungkin  berkata lantang seperti itu. Sosok Ibu kenal lemah lembut. Dengan mata yang masih ketap-ketip. Aku pun melangkah keluar untuk membukakan pintu. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Semalam ini Ibu belum pulang? Yang ada malah suara keras memanggil namaku dan gedoran pintu secara kasar? Ada apakah ini?

"Finaaa!"

"Finaaa... cepetan bukakan pintu," serunya berkali-kali.

"Ada apa?" responku sambil membukakan pintu. Kulihat paras panik di raut keriput Ibu Rohimah yang tak lain adalah teman seperjuangan Ibu. Perasaanku benar-benar sudah campur aduk. Kenapa Ibu tidak pulang bersama dia. Apa Ibu masih bekerja? Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab oleh waktu.

"Ib...ib...ibumu," suaranya gagap dan parau.

"Ada apa dengan Ibu?"

"Ibumu..."

"Ada apaaaa dengan Ibu saya?" aku mengguncang-guncangkan tubuhnya.

"Ibumu kecelakaan. Tadi tertabrak punggung mobil sewaktu terburu-buru mengangkat keranjang ikan."

"Ibuuuuuuuu....." jeritku dalam temaram malam.

*****

Dua cintaku lenyap sekaligus. Ibu kecelakaan dan Refin terbang ke Australia. Butir-butir peluh terus mengalir deras di rumah sakit ini. Kejang Ibu dari tadi tidak terhenti. Cemas dan takut menguasai akal sehatku. Tubuhku lemah tak berdaya. Aku melorot dari badan pintu. Meratap dan merenungi penyesalanku yang tak henti-henti. Aku memeluk lututku dan menelungkupkan kepalaku.

"Ibu maafkan aku, seharusnya Ibu tidak bekerja keras. Ibu..." rintihku berkali-kali.

Lima menit kemudian pintu terasa terdorong. Aku pun bangkit dan menyeka airmataku. Kupaksa bibirku mengalunkan kata untuk menanyakan keadaan Ibu. Dokter berjas putih dengan masker itu berdiri menatapku sayu di mulut pintu. Perawat-perawatnya sibuk melepas alat-alat kesehatan di dalam. Kenapa seperti itu? Apakah Ibu?... tidak... tidak mungkin.

"Bagaimana keadaan Ibu saya Dok?"

Dokter itu menggeleng layu lalu pergi begitu saja tanpa pamit. Keringat menyemut di dahinya. Kutahu dia sudah berjuang keras namun Tuhan berkehendak lain. Aku menjerit sekeras-kerasnya dan masuk memeluk tubuh Ibu yang sudah dingin tak bernyawa.

"Ibuuuuu.... kenapa tinggalkan Fina? Ibuu... Ibu... kenapa Ayah dan Ibu tinggalkan Fina? Ibuuu... jawab!" jeritku tak hirau perawat yang menatapku iba.

Jiwaku rapuh. Peluhku deras. Tubuhku lemah. Aku meleok ke lantai. Sementara kepalaku terlungkup mencium tangan Ibu dari samping ranjang. Tak bisa kulukiskan bagaimana penderitaan hatiku yang berguncang ini. Sebulan lalu Ayah pergi, beberapa jam tadi Refin pergi membiaskan luka, dan sekarang, Ibu... Ibu yang kupunya satu-satunya. Ibu yang memberiku makan. Ibu yang merawatku dan memasakkanku. Pergi. Pergi untuk selamanya. Selamanyaaaa... sakit Tuhan!

Mendadak tubuhku menggigil hebat. Dunia seolah menyempit. Kepalaku bak dihantam khodam malaikat. Dunia gelap pun menjemputku. Entah kejadian apa yang terjadi selanjutnya. Seingatku aku tersungkur di lantai putih itu.
_TAMAT_

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment