"APA SALAHKU?" Sebuah Karya Persembahan oleh Titin Widyawati.

 ==================
Jika ia punya otak......
Aku melihatnya!

Sebuah makhluk kata Adam, titisan keindahan leluhur yang selalu disanjung-sanjungkan alam. Ia tercipta berbeda dari yang lain. Kemelokan jiwa menjadi intan. Rupawan wajah adalah kelebihan. Pandai menikam lawan dalam kedengkian. Nafsu dicipta dengan keseimbangan akal pikiran. Jika kau tak percaya, tanyalah kepada Elang yang hari ini melayang di permukaan langit tak bertiang. Beberapa kawan burung baru saja lari menembus awan. Keriangannya dibaurkan oleh tangis kabut yang bersembunyi di balik selimut mentari. Cakrawala ini menghampar biru cerah memukau pemandangan takjub, sayang makhluk itu buta.

"Tapi, ia membuat jantung ini malas berdetak!" jiwaku menyeringai tersambut buliran airmata.

Kusingkap ujung daun di tengah rerimbunan semak-semak, dengan rumput yang daunnya melengkung panjang, nyaris kutatap menjamah bibir langit. Embun membutir jernih di pucuk dedaunan. Kuintai makhluk itu. Riak-riak kali menjadi saksi. Beberapa daun yang dihanyutkan melambai-lambai ke arahku. Mengajakku hanyut ke hilir kali yang berujung pada laut luas. Tumbuhan pakis yang hidup di pinggiran tebing melengkung congkak menatapku. Beberapa makhluk melata bersembunyi di balik tubuhnya. Raksasa ular, saudara kelabang, musuhnya cacing, semut-semut juga keluargaku, mungkin dirangkup di dalam belukarnya yang hangat. Mentari pagi ikut menyirami bumi ini. Lenteranya menembus dedaunan di sekitar kali. Gemericik air kali mengusik ketenangan akalku.

Aku bertengger di sini sendirian, tanpa ada sepotong lensa insan yang memelototi. Tak ada yang tahu, saat salah satu jemariku merombak pucuk dedauan hijau yang masih berklorofil segar untuk mengintipnya. Tubuh makhluk yang kausebut sebagai wanita itu putih mulus. Tak ada noda sedikit pun yang menempel pada lekuk-lekuknya, kecuali ribuan gelembung busa sabun yang baru saja ia lulurkan. Rambutnya basah terurai. Jemarinya mengambil air dari pinggiran kali, diratakan ke atas kepala. Setengah tubuhnya sampai dada, ia lilit menggunakan selendang. Basah, kakinya ditekuk, membuat selendang batik cokelat itu sedikit tersingkap. Itulah bidadari tepian kali Belan. Kali yang menjadi peraduan hidupku dari lahir sampai detik ini.

Aku membencinya. Ingin aku tikam lehernya. Kutusuk perutnya sampai usus-ususnya terburai. Kusembelih denyut nadinya. Kutendang hatinya yang tak berperasaan. Jika lensa ini sudah beradu dengan jantungnya, maka akan aku lahap mentah-mentah sampai ia MAMPUS! Aku ingin membunuhnya. Ia tak tahu diri! Apa guna rupa elok dipampangkan kepada dunia? Jikalau hatinya busuk, sementara ia mengaku mempunyai akal?  Ia makhluk tersempurna. Berbeda dari yang lain. Tapi, muka bumi ini malah luluh lantah karenanya.

Senasib dengan hidup kekasihku yang baru saja tewas di tangannya. Aku tak bisa melukiskan kepedihan ini! Muak! Jikalau laut Selatan dihiasi ribuan ombak yang tertiup angin, meliuk-liuk menghantam daratan, atau bahkan saat kali ini ditanami jutaan mawar yang menghadirkan warna-warni indah, tubuhnya pun nikmat menggiurkanku, tetap saja itu tak mampu membuatku sanggup memaafkan kesalahan makhluk itu! Aku tak bisa!

Kekasihku pergi bermandikan darah karena ulah tangannya. Ususnya robek, isinya muncrat. Wajah rupawan kekasihku pun ia pecahkan. Kaki dan tangannya ia buat terpisah dari badannya. Lantas dilempar ke tepian jurang yang paling curam. Aku tak sanggup menangkapnya. Airmataku pun menetes bersaksikan dedaunan pakis yang bertengger di tepian tebing kelam. Semak belukar yang dihuni ribuan rakyat melata mengutusku untuk membalas dendamkan perbuatannya. Ia manusia, namun ia tak berperi kemanusiaan. Tepatnya, ia bukan manusia! Ia adalah binatang menjijikkan! Binatang yang pantas untuk dibunuh.

Aku tak tahu apa salahku, kenapa mereka membenciku? Padahal, bukankah kau tahu? Aku dan mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Ia punya hak untuk bernapas, aku pun juga. Ia makan  dedaunan, Tuhan pun menakdirkanku untuk itu. Ia mempunyai rumah yang megah, aku pun juga. Di tepian kali ini, di sebuah dedaunan yang kugulung untuk persinggahan hidupku saat letih menghantam yang tak terkasap mereka, tapi mengapa saat mereka tahu, mereka menghancurkannya tanpa ampun? Padahal, kau tahu sendiri bukan? Adakah sebagian dari makhlukku yang menghancurkan rumah mereka? Singgah pun kami enggan, jika bukan angin yang menggiring kami untuk terbang.  Apa salah kami?

Generasi kami selalu musnah. Kepingan bangkai kami terbang ke sana kemari tanpa ada yang memedulikan. Di mata makhluk yang berakal itu, kehidupan kami sama sekali tak dihargai.

Jika tubuhku tergiring sepoi angin, lantas tampak oleh dua kornea mata mereka, maka tak akan pernah ada kata ampun untukku. Mereka akan mengambil senjata. Melempar batu. Memukulku dengan kayu. Lebih tajam, menelindas tubuhku bagaikan beras yang dimasukkan ke mesin penggiling untuk dijadikan tepung. Hancur leburlah raga ini jika aku tak berhasil meloloskan diri. Sudah berkali-kali nyawaku terancam. Lebih dari dua puluh kali. Terakhir beberapa jam lalu, aku dan kekasihku sedang berjemur di atas cadas kali, menikmati kehangatan siraman tubuh mentari. Mendadak ia datang, aku pun tergagap. Keromantisan kami musnah.

"Pergi! Pergi! Selamatkan keturunan kita!" katanya masih mengendap dalam ingatanku.

"Tidak bisa, tidak bisa! Kita harus hidup bersama, kita akan terbang memutari dunia ini dengan bersama-sama. Kalau kau mati, aku pun harus mati!"

"Jangan bodoh! Tak ada yang akan menghiasi taman, jika kau pun mati!"

"Aku tak bisa meninggalkanmu!"

"Pergi! Pergiiii... ia menghampiri kita!!!" keadaan genting. Tubuhnya semakin mendekat. Ia menangkap kami dengan sorot matanya.

"Aku tidak bisaaaa....!!!!" aku terisak. Airmataku meluap. "Aku mencintaimu!"

"Kita akan bertemu di surga, percayalah. Kau harus tetap hidup untukku!" kalimat terakhir kekasihku.

Kekasihku mendorong tubuhku. Aku terjungkal ke kali. Selembar daun kering menghantarkanku ke tepian. Arus tak terlalu deras ini menyelamatkanku, namun kekasihku terkena tikamannya.

Aku memerhatikan dengan seksama saat tangan makhluk itu mengambil ranting kayu kering, memukulkan ujungnya ke kepala kekasihku, lalu berpindah ke tubuhnya, rusaklah semua tulang-belulang kekasihku, putus terburai. Disekop menggunakan daun, sebelum akhirnya makhluk itu berjalan ke tepian semak-semak, menuju sebuah jurang di pinggiran kali. Aku mengekorinya dengan langkahku yang tersendat-sendat. Airmataku terus meleleh. "Tidaaaaakkkkk!!!!"

"Tuhan! Mengapa Kau pisahkan aku dengannya? Aku tak sanggup!" pekikku saat kerongkonganku asin akan airmata.

"Selamat jalan, kasih." Doaku panjatkan. Waktu meraut pucat.  Hening seketika. Riak air sungai yang terbentur dengan cadas kali menjadi melodi penghantar jasad kekasihku. Ia tewas sebagai pahlawan hidupku.

Kulihat ia menyeringai seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Ia berkicau. Suaranya mendengung mengalahkan air kali. Aku tak tahu bahasa makhluk itu.

Bagaimanapun juga, hari ini ia haruslah mati di tanganku. Aku tak terima nenek moyangku selalu dibasmi oleh kawannya. Sepi sudah generasi kami sang penopang keindahan. Sayap kami gugur. Tak ada yang mampu terbang.

"Kau tampak bersedih, Kawan!" Coco, kawanku yang baru saja selesai memakan dedaunan di belakang tubuhku membuyarkan emosiku. "Tentang kekasihmu?"

"Itulah sebabnya, makhluk itu yang membunuhnya!"

"Aku tahu perasaanmu, Kawan! Tapi coba renungkan, apalah daya kita untuk melawannya?"

"Kita bisa menggigit, kita bisa mengumpulkan saudara-saudara kita untuk membunuhnya. Memang saat aku sendiri, aku lemah dan tentu aku akan kalah, namun saat bersamaan?" aku tak mau kalah. Aku loncat ke daun yang ditenggeri oleh Coco. Ia mengenduskan kepalanya ke tubuhku. Bulu-bulu lembutnya memberikan kehangatan bagi jiwaku. Menyapu lembut airmataku. Tubuhnya yang hijau segar serupa dedaunan yang kami singgahi membuatku iri karena aku tak sanggup sepertinya. Aku kurus kering tak berdaging.

"Tubuhmu kecil, mahkluk itu besar, jika kau mengumpulkan saudara kita, dan ia mengumpulkan saudaranya, apakah itu solusi?"

Aku menggeleng. Perutnya yang gemuk dipamerkan ke depan mataku. Sekejab aku bungkam. Kepala kutundukkan. "Makanlah sebanyak-banyaknya, berpuasalah agar kau tak marah! Tuhan menciptakan kita seperti ini, tak boleh protes, takdir ada di tangan-Nya."

"Aku tidak tahu kenapa kita selalu dibunuh, makhluk itu memandang kita sebagai hama saja, jarang dari mereka yang memerhatikan sisi keindahan kita saat menjadi kupu-kupu." Kutuang isi batinku. Pandanganku lurus mengamati aliran kali yang tak deras. Aku tampak begitu kecil dari bebatuan yang menonjol di tepian kali. "Aku tak bisa menjadi kupu-kupu tanpa kekasihku! Aku tidak bisa! Kau lihat tadi bukan? Makhluk itu!" aku kembali menyibak daun. Kuperlihatkan ia kepada Coco. Tubuhnya sedang dibalut dengan baju. "Ia baru saja membunuh kekasihku!" suaraku bergetar. Airmata kembali mekar. Merobek keindahan pagi ini. Meluluh lantahkan senyum mentari.

"Kalau kau ingin balas dendam, maka kau sama halnya dengan makhluk itu, Kawan! Ia punya nafsu untuk berbuat angkara, tak seperti kita! Kita diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi makhluk penerima apa adanya, tak boleh protes! Kita bukan mereka, biarlah mereka berbuat sekehendak mereka!" nasehat Coco amat teduh. Aku menyadari kebringasanku. Kuatur napas. Kutatap langit. Awan berarak-arak. Sinar mentari amatlah terang. Merenungi kekuasaan Tuhan. Coco benar.

"Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk pemakan daun sebanyak-banyaknya untuk menciptakan keindahan. Itulah sebabnya makhluk itu tidak menyukai kita."

"Bukankah mereka sudah amat sempurna dari kita? Juga bukankah kita tidak meminta daging mereka? Memakan makanan di istana mereka? Kita memakan daun, mereka juga memakannya! Tuhan amat adil karena menciptakan tumbuhan banyak sekali! Kita hanya memakan sebagian buah-buahan dan dedaunan di bumi ini, kelopak bunga di bumi ini, ingat Coco, hanya sebagian! Tapi mereka bringas membunuh kita! Mereka meracuni generasi kita, bukankah kau tahu, Coco? Jika kita sudah kenyang, tak akan menambah lagi, kita akan puasa menjadi kepompong!" aku menahan airmataku yang akan meluncur. Coco iba menatapku. Ia menghela napasnya. "Lebih kejam, makhluk itu baru saja membunuh kekasihku! KEJAM! KEJAAAMMM!! Aku tidak terima, Coco! TIDAK! Mereka rakus!" kuluapkan segenap emosiku di depan Coco. "Atau mungkin karena rupa kita, mereka membenci kita, Coco?"

"Aku harap tidak, Kawan. Bagaimana mereka membenci kita karena keburukan wajah kita? Sementara mereka tercipta jauh lebih indah daripada kita. Seharusnya mereka bersyukur, tak baik menghina ciptaan Tuhan. Kau juga tak boleh merasa bangsa kita buruk rupa, cabut omonganmu, Kawan!"

"Hah, aku khilaf. Maafkan aku, Coco." Kalimatku terputus. Aku mengambil oksigen. Mentari bertambah semangat menyambar-nyambarkan lenteranya ke lorong-lorong pepohonan yang tinggi. Aku bahkan tak mampu mendaki sampai puncaknya. Dedaunan rimbun menutupi permukaan langit. Hanya melalui rongga perbatasan pohon satu dengan yang lainnya, aku sanggup menatap langit. Jauh sekali di mataku. Jauuuuhhhh!! Amat jauh! Aku tak kuat mengkhayalkan seberapa tingginya. Kekasihku telah mendahuluiku terbang ke atas sana. Menembus langit ke tujuh. Duduk di singgasana yang disediakan oleh Tuhan. Kuharap ia telah tenang di sana. "Aku hanya sedih karena ditinggalkan oleh kekasihku, Coco."

"Kau akan bertemu dengannya di surga!"

"Kuharap begitu." Aku mau tak mau menyunggingkan senyuman.

Coco menatapku puas. Ia lantas beranjak. Menaiki ranting pohon. Mencari tempat aman untuk lelap berhari-hari.

"Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya saat kita menjadi kupu-kupu." Sebentar lagi ia akan menjadi kepompong.

"Baiklah Coco, aku akan memakan daun sebanyak-banyaknya sekarang! Kau duluan!"

Kukubur emosiku. Pinta ampunku menguap lebar. Semoga Tuhan memberikan kebaikan untuk makhluk itu.

Aku memakan daun sebanyak-banyaknya. Pandanganku sudah tak tertuju pada wanita itu. Aku tak ingin membuang-buang waktu. Harus secepat mungkin berubah menjadi kupu-kupu.

Gendang telingaku menangkap suara ranting rumput yang patah. Aku tak peduli, terus kulumat daun yang baru saja aku gigit. Suara itu semakin mendekat. Lagi-lagi aku tak peduli. Barulah saat aku sadar di atas kepalaku terdapat permukaan kaki makhluk itu, mataku pun nyaris lompat.

"COCO! SELAMATKAN AKU!" berusaha untuk lari? Ah, ilusi! Langkahku lambat. Coco telah terlelap. "APA SALAHKU?" Kurasakan ngilu yang meremukkan tulang-belulangku. Napasku megap. Sebelum perutku rata dengan tanah, saat kesadaranku masih tersisa. Meski rasanya sudah setengah hidup setengah mati, aku berdoa. 'Temukan aku dengan kekasihku, Tuhan!' Lambat laun, dunia gelap. Malaikat maut baru saja singgah di kali Belan.

Itulah yang akan ia pekikkan! Ulat yang malang.

28 April 2015. Toko Biru. Kaliangkrik!

=====================
Ditulis oleh.
Titin Widyawati (Darah Mimpi)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment