Meneguhkan Marwah Indonesia

Oleh Zainuddin

JATIMAKTUAL, ESAI,- Dalam kehidupan bernegara, ideologi pancasila harus diletakkan di atas ideologi lainnya. Ini dikarenakan rumusan atas nilai pancasila telah menjadi kesepakatan dari seluruh elemen Indonesia. Demikian juga dengan semboyan Bhinneka Tuggal Ika juga telah menjadi karakteristik akan ke Indonesiaan.

Membaca dua entitas tersebut dapat menggunakan teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Lukcman. Berger membaginya dengan eksternalisasi, obyektivikasi dan internalisasi.

Sebagai eksternalisasi, nilai pancasila merupakan ejawantah dari nilai asli Indonesia yang lalu terobyektivikasi dalam rumusan 5 sila. Lalu obyek ini dapat diinternalisasikan terhadap kepada bangsa Indonesia secara umum.

Dengan menggunakan teori Konstruksi sosial, pancasila juga dijadikan sebagai inspirasi nilai dari produk undang undang yang ingin dihadirkan.

Karena urgennya Pancasila dalam bangunan bernegara, PMII menjadikan pancasila sebagai asas di PMII. Nilai di dalam pancasila juga dianggap memiliki kesamaan nilai dengan Islam ahlusunnah wal jamaah.
Dengan pola nilai dasar demikian dan di tambah dengan tujuan dari PMII, maka kader PMII mengisi kemerdekaan dengan berlandaskan kepada nilai pancasila dan Islam di Indonesia.

Faktanya beberapa waktu terakhir ini, cukup menguat organisasi yang tidak sepakat dengan pancasila. Gagasannya beragam. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menggagas khilafah islamiah. Mulai dari NKRI bersyariah dan pancasila yang ingin dikembalikan pada Piagam Jakarta.

Munculnya gerakan yang ingin mengganti Pancasila dari republik ini harus disikapi dengan tegas. Saya sebagai ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa timur, dengan komitmen kesetiaan terhadap Pancasila, juga mengajak semua elemen untuk bertindak tegas atas individu dan organisasi yang tidak setia terhadap pancasila dan keutuhan NKRI.

Trias Politica dalam gagasan Jhon Lock yang meliputi eksekutif, legislatif dan yudikatif diharapkan untuk bertindak tegas sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku terhadap pengkhianat pancasila.

Dilihat dari perspektif sejarah, dapat dijabarkan tiga kerangka. Pertama, munculnya gerakan yang anti pancasila selalu berasal dari luar Indonesia. Ideologi luar itu ingin hadir sebagaimana bentuk aslinya dan tidak mau meng-Indonesia.

Kedua, penganut ideologi luar tersebut tidak memiliki pemahaman dan kesadaran sejarah. Bahwa di masa lalu, untuk merebut kedaulatan Indonesia harus dicapai dengan berdarah darah. Pancasila berasal dari ruh bangsa Indonesia. Sehingga ketika menjadi orang Indonesia harus melebur dengan nilai indonesia. Jika tidak sepakat, maka bisa pindah dari Indonesia.

Ketiga, dalam sejarah, bangsa ini sudah mengalami suatu luka sejarah yang cukup buruk. Gerakan untuk Negara Islam Indonesia atau dikenal dengan DI/TII oleh Kahar Muzakkar pada 1950 dan akibat ideologi komunisme pada G 30 S/PKI pada 1965.

Kenyataan menguatnya arogansi ideologi di luar pancasila yang terjadi kekinian akan menyebabkan suatu babak penting dari disintegrasi bangsa. Untuk itulah, negara harus hadir dengan menguatkan hukum dan nilai pancasila.

Hukum harus ditegakkan. Organisasi pengkhianat pancasila harus dibubarkan. Hal ini sebagai langkah untuk menjaga dan meneguhkan marwah Indonesia. PMII Jatim akan berada di baris depan dalam menjaga komitmen atas pancasila dan meneguhkan marwah Indonesia. Salam pergerakan.

# Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment