KH. Zuhri Zaini Klarifikasi Tentang Tulisan "ALLAH TIDAK PERLU DIBELA"

JATIMAKTUAL, PROBOLINGGO,- Setelah tulisanya sempat dimuat oleh salah satu media online yang berbeda jauh dengan subtansi yang disampaikan oleh pengasun PP. Nurul Jadid. Paiton, Probolinggo, Jawa Timur terkait tulisan yang berjudul ; "ALLAH TIDAK PERLU DIBELA". 

Cuplikan penyampaian yang dikutip langsung dari KH. Zuhri Zaini, saat mengisi pengajian, Kini beliau Klarifikasi atas judul tulisan tersebut dengan menulis sendiri yang di unggah melalui akun facebook putrinya yang bernama "Hununah Nafi'iyah", hal tersebut dilakukan guna untuk meluruskan tentang isi penyampaianya beliau yang sempat menjadi viral di media online dan Media Sosial.

KLARIFIKASI KH. ZUHRI ZAINI PENGASUH PP. NURUL JADID PAITON, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR TENTANG " ALLAH TIDAK PERLU DIBELA"

"Saya mohon maaf kalau klarifikasi ini terlambat saya lakukan. Karena saya baru tahu dari anak saya bahwa ada cuplikan uraian saya dalam pengajian Syarah Alhikam yang dimuat di media online. Karena saya memang tidak aktif di dunia maya.",kata KH. Zuhri Zaini Pengasuh PP. NURUL JADID, Paiton, Probolinggo Jawa Timur.

Sejatinya pengajian Syarah Alhikam secara rutin beliau lakukan lima hari dalam seminggu, untuk kalangan tertentu yakni sebagian santri senior, bukan untuk konsumsi umum. 

Bunyi cuplikan tersebut adalah : “KH. ZUHRI ZIANI : ALLAH TIDAK PERLU DIBELA”. Beliau menyesal bahwa uraian itu diberi  judul seperti itu yang berpotensi disalah tafsirkan;  misalnya bahwa kita tidak perlu berjuang/jihad (dalam arti luas) di jalanNya. Dan itu sama sekali  tidak mencerminkan maksud uraian saya yang sebenarnya.

Menurut beliau sebenanya uraian tersebut ingin manjelaskan tentang sifat ‘independensi’ atau ‘kemandirian’ Tuhan yang mutlak. Bahwa Tuhan  itu QO’IM BINAFSIH, GHONIYUN LA YAHTAJU ‘ALA GHOIRIHI, WA GHIRUHU YAHTAJU ILAIHI. 

Bahwa Tuhan itu Maha Berdiri/Eksis dengan diriNya sendiri, Maha Cukup tidak butuh kepada suatu apapun yang karena Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Dan segala sesuatu selain Dia adalan makhluk ciptaanNya, yang selalu butuh kepadaNya.

Kita manusia adalah sebagian dari makhlukNya, selalu butuh kepadaNya, sejak sebelum lahir dan setelah lahir, dari hidup di dunia sampai setelah mati dan hidup kembali di akhirat kelak. Kalau Tuhan memerintahkan dan mewajibkan kita untuk beribadah (dan berjuang / berjihad di jalanNya adalah salah satu bentuk ibadah kepadaNya), bukan karena Dia butuh ibadah dan perjuangan kita; tetapi justru kita yang butuh untuk beribadah dan berjuang. 

Karena manfaat ibadah dan perjuangan itu kembali kepada kita bukan kepada Alloh. Itu adalah SUNNATULLOH (mekanisme dan cara yang dikehendaki dan ditetapkan Tuhan dalam menciptakan dan mengatur makhlukNya yang berupa alam semesta ini).

Sama seperti  ketika Tuhan akan memberi sebagian rizki kepada manusia (misalnya bahan makanan). Dia memerintahkan mereka berusaha untuk memperoleh makanan tersebut. Itu jangan difahami bahwa  tanpa bantuan usaha manusia Tuhan tidak bisa memberi rizki kepada mereka. Banyak rizki-rizki yang diperoleh manusia tanpa usaha mereka; misalnya oksigen yang mereka hirup dalam bernafas. 

Juga asupan makanan yang dimakan bayi yang baru lahir berupa ASI dan lainnya. Itu diperoleh bayi itu tanpa usaha bayi yang bersangkutan. Memang secara zohir nampaknya orang tuanya yang memberi makan. Tapi pada hakikatnya yang memberi rizki adalah Tuhan melalui orang tua. 

Orang tua hanyalah sabab/sarana yang digunakan Tuhan dalam memberi rizki tersebut (Itu Sunnah Alloh). Tuhan bisa saja memberi rizki kepada bayi tersebut tidak menggunakan cara dan sabab tersebut. 

Kalau setiap makhluk mendapatkan rizkinya hanya melalui usahanya, maka semua makhluk yang tidak akan melanjutkan hidupnya, misalnya ayam, burung, cacing dan lain sebagainya. Karena mereka tida bisa menyediakan makanannya sendiri misalnya dengan bertani, berkebun dan lain-lain. 

Bahkan oksigen yang hirup manusia dalam bernafas bukan hasil dari usaha mereka sendiri. Mereka (makhluk-makhluk itu) menghirup oksigen dan makan dari apa yang telah disediakan Alloh di alam ini dengan cara yang dikehendaki dan ditetapkan Allah.

Kalau kita bekerja, maka  pada hakikatnya hanyalah melaksankan kewajiban dan keharusan yang wajib dan harus di lakukan oleh kita sebagai makhluk dan hamba Alloh dalam menjalankan perintahNya baik yang ditetapkan Alloh melalui ketetapan Syari’atNya maupun yang ditentukan melalui sunnahNya. 

Maka kemutlakan kekuasaan Alloh dalam mengatur Alam (makhlukNya) tidak menggugurkan kita manusia dalam menjalankan perintahNya dan mengikuti ketentuan SunnahNya semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas kita sebagai makhluk; (KH.ZUHRI ZAINI).

Kontri butor : Bahrullah
Editor             : Muhri Andika

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment